Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Rocky Gerung

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 7 Agustus 2023 | 18:58 WIB
Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Gara-gara menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai “bajingan tolol”, pengamat politik Rocky Gerung dilaporkan ke polisi. Untuk kesekian kalinya, Rocky kembali berurusan dengan polisi. Dan sepertinya, pengamat politik yang satu ini, tak pernah jera untuk membuat pernyataan-pernyataan yang kontroversial dan memancing emosi.

Selama periode pemerintahan Presiden Jokowi, Rocky hampir selalu tampil sebagai oposisi. Kritikan-kritikannya tajam terhadap Presiden Jokowi dan pendukung-pendukungnya. Berkali-kali menyebut Presiden Jokowi dungu. Pernah menyebut Presiden Jokowi tak paham demokrasi dan tak paham Pancasila.

Tentu saja, komentar, kritikan serta kecaman Rocky ini membuat emosi para pendukung Presiden Jokowi. Oleh beberapa televisi nasional, hal ini sering “dimanfaatkan” untuk menarik perhatian publik. Seringkali acara televisi, apakah itu acara debat, talk show ataupun wawancara, Rocky ditampilkan berhadap-hadapan dengan para pendukung Jokowi. Terkadang seru perdebatannya. Saya termasuk yang suka dengan acara di TV yang mengandung perdebatan, di mana ada Rocky di situ. Bagi saya, ini adalah tontonan yang menghibur. Mengapa menghibur? Karena dari perdebatan itu, kadang mereka tidak sadar kalau sedang berdebat kusir. Bukan berdebat secara argumentatif. Dan dari perdebatan itu, saya bisa tahu, kualitas intelektual orang-orang yang menjadi pendukungnya Presiden Jokowi. Dan tampaknya Rocky memang sengaja memancing emosi para pendukungnya Presiden Jokowi yang berdebat dengannya.

Orang seperti Rocky, mungkin tak akan pernah ada ketika di era-era sebelumnya. Baik di era Demokrasi Terpimpin di bawah Presiden Soekarno, maupun di era Orde Baru di bawah Presiden Soeharto.

Orang seperti Rocky bisa bebas ngomong, bebas mengkritik, dan bebas mengecam, karena situasi dan kondisinya memang memungkinkan. Kita sudah sepakat, di era reformasi, sama-sama menjunjung tinggi prinsip dan nilai-nilai demokrasi. Dan inti dari demokrasi adalah kebebasan berbicara. Ini yang dipegang oleh Rocky. Sehingga, dia begitu bebasnya berbicara.

Agar omongan dan pendapatnya didengar dan menarik perhatian publik, maka dia harus punya “trade mark” tersendiri. Dan “trade mark” nya adalah mudah sekali “men-dungu-kan orang”. Dan yang didungukan tak tanggung-tanggung, para menteri, wabil khusus Presiden Jokowi. Rocky termasuk pengamat yang dikenal dengan omongan-omongannya yang terdengar kasar. Dengan demikian, Rocky berhasil mem-branding dirinya sebagai oposisi yang berani mengkritik pemerintah.

Kepada publik, Rocky selalu “ngeles” bahwa dia tak pernah mengkritik atau menyerang pribadi. Yang dia serang dan dia kritik adalah jabatannya. Ketika dia mengecam Jokowi, dia tidak bermaksud mengkritik Jokowi sebagai pribadi. Yang dia kritik, dan yang dia kecam adalah Jokowi sebagai presiden.

Rupanya Rocky lupa, bahwa bangsa kita sebetulnya belum bisa benar-benar menerima prinsip dan nilai-nilai demokrasi secara total. Kebebasan berbicara, di negeri ini, masih harus dibungkus dengan kesantunan berbicara. Ketika ada orang yang berbicara dengan menggunakan diksi yang terkesan kasar, maka akan menimbulkan ketidaknyaman bagi yang mendengarkan. “Dungu”, “tolol” dan “bajingan”, adalah diksi yang sangat tidak nyaman untuk didengarkan bagi kita masyarakat dengan adat ketimuran yang kental. Adat ketimuran, sangat identik dengan sikap “among rasa”.

Among rasa” terdiri dari dua kata “among” dan “rasa”. “Among” bermakna menghargai, menghormati, menemani atau bersama. “Rasa” bermakna perasaan, merasakan atau ikut merasakan. Jadi, makna dari “among rasa” adalah mengelola perasaan baik diri sendiri atau terhadap orang lain, sehingga menghasilkan perasaan saling menghargai dan menghormati.

Nah, pendapat atau lontaran berupa kritikan yang disampaikan Rocky terkait kebijakan pemerintah atau presiden, selama ini terkesan jauh dari nilai-nilai “among rasa”.  Sehingga, membuat yang mendengarnya menjadi terusik atau terganggu. Lantas mereka melaporkan Rocky  ke polisi. Tapi, sejauh ini, belum ada satu pun laporan soal Rocky ke polisi yang benar-benar bisa menjebloskan Rocky ke penjara. Meski Rocky mengaku sudah berkali-kali diperiksa polisi.

Diakui atau tidak, Rocky itu sosok cerdas, intelektual, dan ahli filsafat. Dia sangat piawai dalam merangkai kata-kata yang dibalut dengan logika dan argumen yang seringkali sulit untuk dibantah. Dia betul-betul orang yang sudah mengukur dampak dari pernyataannya.

Untuk menghadapi orang seperti Rocky, sebetulnya tidak perlu emosi. Apalagi sampai harus dilaporkan ke polisi. Harus rileks. Kalau perlu ditanggapi dengan guyonan. Jurus dari Gus Dur (almarhum KH Abdurrahman Wahid) bisa dipakai untuk menangkal serangan Rocky, yakni jurus: “Gitu aja kok repot,”.

Jadi, nggak perlu emosi menanggapi Rocky Gerung. Semakin ditanggapi dengan emosi, kayaknya ini yang diharapkan oleh Rocky. Analoginya kayak dua orang bersaudara, kakak dan adiknya. Si kakak berumur 10 tahun. Si adik berumur 3 tahun, dan lagi lucu-lucunya. Si kakak sering bikin adiknya menangis. Sebab, kalau si adik menangis, akan terlihat lucu dan manja. Dan si Kakak suka melihat adiknya terlihat lucu saat menangis. Makanya, si Kakak selalu mencari cara agar si adik menangis. Selalu bikin si adik emosi, hingga akhirnya menangis.

Nah, apa yang dilakukan Rocky, mirip dengan yang dilakukan si kakak itu, yang selalu mencari cara agar adiknya emosi, lalu menangis, dan terlihat lucu. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#politik #pengamat politik #rocky gerung