Panic Buying

Anwar Bahar Basalamah • Dipublikasikan Senin, 31 Juli 2023 | 17:45 WIB

 

Catatan Awal Pekan
Catatan Awal Pekan

Disadari atau tidak
, kita ini termasuk bangsa yang mudah mengalami “panic buying”. Ketika terjadi sesuatu, barang-barang tertentu menjadi langka di pasaran. Kalau pun ada, harganya mahal. Penyebabnya karena mereka yang punya uang berlebih, atau mereka yang berkesempatan membeli lebih dulu, ketika membeli, seperti orang kalap. Begitu membeli, langsung memborong. Tanpa peduli, bahwa aksinya itu bikin  orang lain tidak kebagian.

Dulu, ketika awal-awal pandemi Covid-19, masker menjadi barang yang langka dan mahal. Begitu juga dengan vitamin. Vitamin C yang semula mudah dibeli, tiba-tiba menjadi langka di pasaran.

Kini, yang belakangan langka adalah elpiji melon yang rata-rata beratnya 3 kilogram itu. Di Kabupaten Kediri, meski sudah dipasok berlebih oleh Pertamina bekerjasama dengan Pemkab Kediri, tetap saja langka di pasaran. Diduga, hal itu dipicu oleh fenomena “panic buying” (Radar Kediri, 30/7/23)

“Panic buying” jika diterjemahkan secara bebas adalah “kalap belanja”. Orang yang mengalami “kalap belanja” dipicu oleh adanya kecemasan atau kekhawatiran yang berlebihan pada dirinya. Sehingga, tindakannya lebih dipengaruhi oleh emosional ketimbang nalar dan nurani.

Sehingga, ketika seseorang melakukan “kalap belanja”, maka dia cenderung lebih memilih mengutamakan kepentingannya sendiri (egois), dan mengabaikan hak dan kebutuhan orang lain.

Jika kondisi seperti ini yang terjadi, bagaimana bisa bangsa kita disebut sebagai bangsa yang suka bergotong royong? Bukankah sendi dari gotong royong adalah kebersamaan? Kepedulian antara yang satu dengan yang lain? Ini semua seperti hilang begitu saja, ketika mengalami “panic buying” alias “kalap belanja”. Saat “panic buying”, kita berubah menjadi bangsa yang egois.

Setidaknya ada empat faktor yang mempengaruhi “panic buying”. Pertama, perilaku kawanan. Perilaku kawanan ini sangat mempengaruhi pola pikir individu. Adanya perilaku kawanan, membuat individu mengabaikan informasi pribadinya sendiri, dan mengikuti perilaku kawanan, karena mereka percaya bahwa orang lain (kawanan) memiliki informasi yang lebih baik. Dalam kasus  “panic buying”, bisa terjadi secara massive karena perilaku pribadi dipengaruhi oleh perilaku kawanan.

Kedua, paparan media sosial (medsos). Jumlah pengguna medsos, seperti Instagram, Facebook, Twitter, YouTube, dan lain-lain,  di Indonesia dari hari ke hari terus bertambah. Per November pada tahun 2020, berdasarkan data dari APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia),  jumlah pengguna internet di Indonesia sebanyak 196,7 juta jiwa. Tahun ini bisa jadi jumlahnya mencapai 200 juta lebih. Mereka ini diasumsikan mayoritas berinteraksi dengan medsos. Medsos, pada dasarnya terdiri dari dua elemen penting: saluran dan konten yang didistribusikan melalui interaksi antara individu dan organisasi. Saluran mengacu pada berbagai saluran yang memungkinkan interaksi antara individu dan organisasi. Sedangkan konten medsos berisi teks, gambar, video dan jaringan. Melalui medsos, isu-isu yang bisa menstimulus orang untuk melakukan “panic buying” disebarluaskan. Dengan kata lain, orang bisa melakukan “panic buying” karena dipengaruhi oleh medsos.

Ketiga, kebutuhan. Biasanya, hal-hal yang memicu terjadinya “panic buying”, sangat terkait dengan keberadaan atau ketersediaan barang-barang yang sangat dibutuhkan. Masyarakat ketakutan, jika sampai kehabisan atau  tidak bisa mendapatkan barang tersebut, akan terjadi hal-hal yang mengerikan. Makanya, begitu membeli barang itu, mereka pun seperti orang yang sedang kalap. Membeli dalam jumlah banyak, tanpa mempedulikan orang lain.

Keempat, faktor harga. Terjadinya “panic buying”, tidak bisa dilepaskan dari faktor harga. Ketika terjadi “panic buying”, ketersediaan barang-barang tertentu menjadi langka di pasaran. Karena ada yang sengaja memborong barang-barang itu. Karena langka, jika pun barang-barang itu ada, maka harganya akan menjadi naik berlipat-lipat. Ini lah yang menjadi keuntungan bagi para pemborong barang tadi. Jadi, saat “panic buying” terjadi, di satu sisi ada penderitaan. Terutama bagi orang yang tidak bisa mendapatkan barang. Pada sisi lainnya ada cuan. Terutama bagi orang yang mampu melakukan aksi borong barang, dan dia mendapatkan keuntungan berlipat-lipat dari barang yang dia jual itu.

Jadi, melihat keempat faktor tadi, rasanya fenomena “panic buying” akan selalu ada. Sulit untuk dihindari. Selama kita lebih mudah disulut oleh isu tertentu, karena kita lebih mengedepankan emosi ketimbang nalar dan logika. Selama medsos semakin berkembang dan merajalela dengan konten yang semakin liar. Selama pemerintah lemah dalam mengkontrol distribusi barang (terutama barang-barang kebutuhan pokok) dan menstabilkan harga barang-barang pokok. Maka, selama itu lah fenomena “panic buying” masih akan selalu terjadi. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
panic buying buying Covid - 19 panic