Sayangnya, dari sisi daya tarik, sudah pasti Jugo tak sekuat Kota Batu. Di Kota Batu, selain terdapat beberapa destinasi wisata alam, beberapa wisata buatannya juga keren dan kuat daya tariknya. Jatim Park 1, Jatim Park 2, hingga Jatim Park 3. Lalu ada BNS (Batu Night Spectacular), dan juga Museum Angkut.
Sedangkan di Jugo, daya tariknya yang kuat hanya ada destinasi wisata air terjun. Sayangnya, untuk menuju ke air terjun, butuh effort yang lebih. Harus jalan kaki, menuruni tangga dengan jarak sekitar 1 – 1,5 kilo meter. Kebanyakan orang enggan turun, karena hampir selalu berpikir: jalan menurun mudah, tapi jalan baliknya, harus menanjak.
Sebagai sebuah kawasan wisata, Desa Jugo masih sangat “mentah”. Harus banyak effort untuk menjadikannya sebagai sebuah kawasan wisata yang “jadi” seperti yang ada di Kota Batu. Saya meyakini, Desa Jugo bisa seperti Kota Batu. Asal dijadikan prioritas. Asal digarap sungguh-sungguh. Asal ada investor yang bersedia untuk diajak bikin berbagai wisata buatan, atau semacam hotel dan villa, seperti yang ada di Kota Batu.
Saat ini kawasan di Desa Jugo itu sudah banyak diketahui sebagai destinasi wisata dengan beberapa fasilitas seperti taman bermain, camping ground, area untuk jogging, dan hiking. Tapi, berbagai fasilitas itu terkesan dikelola apa adanya. Padahal, sebetulnya kawasan Desa Jugo bisa dipermak lebih baik lagi. Sehingga berkesan “high taste”. Sehingga bisa menjadi destinasi wisata yang lebih mengesankan.
Sebenarnya, di Desa Jugo sudah dibikin semacam wisata buatan berupa “Jalur Kelok Sembilan”. Ini adalah sebuah ruas jalan baru yang memanfaatkan kontur tanah yang menurun, dan dibikin berkelok-kelok sebanyak sembilan kelokan. Di kalangan para pesepeda, jalur ini dianggap sangat menarik dan menantang.
Jalur tersebut memang sengaja dibuat untuk menarik minat pengunjung yang berwisata di Desa Jugo. Mereka bisa menikmati jalur berkelok itu saat akan pulang dari Air Terjun Dolo. Jalur itu dirancang dilewati satu arah, yakni menurun. Bagi yang melintasi dengan mobil atau kendaraan bermotor, harus dipastikan kondisi remnya prima.
Untuk menikmati “Jalur Kelok Sembilan” itu, bisa juga dengan jalan kaki. Yakni melewati anak tangga di samping jalan berkelok itu. Di sebelahnya juga sudah dibuat taman yang bisa dijadikan wahana untuk berfoto oleh pengunjung. Saat malam tiba, pemandangan di sana semakin eksotik, dengan adanya hiasan lampu. Sayangnya, ketika saya ke tempat itu beberapa hari lalu, kondisinya terkesan kurang terawat.
Saya membayangkan, di sana dibangun beberapa wisata buatan lagi. Bikin wahana yang bisa mempermudah orang untuk menuju ke lokasi air terjun. Sehingga, tidak selalu harus berjalan kaki.
Di sana selain ada Air Terjun Dolo, juga ada air terjun Irenggolo. Air Terjun Dolo memiliki ketinggian sekitar 125 meter. Yang menarik, pola aliran airnya bertrap-trap. Air terjun pertama bakal mengenai tebing atau trap di bawahnya. Dari tebing itu kemudian muncul air terjun kedua yang lebih pendek. Dan di bagian bawah, ada semacam kolam air tampungan, yang biasa digunakan para wisatawan untuk mandi atau sekadar berbasah-basahan.
Saya juga membayangkan, di sana dibangun vila-vila, atau home stay, atau hotel, yang layak dan nyaman. Ada fasilitas mandi air hangatnya. Berbagai fasilitas menginap ini akan ada dengan sendirinya, jika kelak destinasi wisata di Desa Jugo itu booming alias banyak dikunjungi wisatawan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Sejauh ini, yang datang ke kawasan itu, kebanyakan masih wisatawan domestik. Itu pun kebanyakan berasal dari wilayah Kediri dan sekitarnya (Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Jombang, Mojokerto, dan lain-lain).
Saya yakin se yakin-yakinnya, Desa Jugo bisa menjadi kawasan wisata yang menasional. Bahkan mengglobal.
Apalagi, di sana kental dengan budaya lokal yakni kesenian jaranan (kuda lumping) dan campur sari “Laras Wilis Manunggaling Roso”. Kesenian berbasis budaya lokal itu bisa dipertunjukkan kepada para wisatawan, terutama wisatawan dari mancanegara. Umumnya mereka menyukai kesenian yang berbasis pada budaya lokal. Apalagi bisa dijelaskan kepada mereka keunikan-keunikannya.
Masih ada lagi yang khas di Desa Jugo. Yakni “nasi tiwul goreng”. Ketika berada di Desa Jugo, saya sempat menyantap menu “nasi tiwul goreng” di salah satu warung yang ada di sana. Enak banget. Rasanya gurih. Sedap. Saya sebenarnya tidak begitu suka dengan tiwul. Tapi, saat itu, saya sangat lahap menyantap menu “nasi tiwul goreng”. Sampai habis. Saya dapat cerita dari mbak si penjual, bahwa seminggu sebelumnya, Chef Juna yang terkenal itu sempat mampir ke warungnya. Fotonya dipasang di warung itu. Dan Chef Juna sempat menyantap menu “nasi tiwul goreng”. Dia juga sangat berkesan dengan makanan tradisional itu.
Adanya budaya lokal yang kuat, plus adanya menu tradisional yang menjadi kekhasan di Desa Jugo, sesungguhnya ini adalah modal yang sangat kuat untuk mem-branding Desa Jugo sebagai destinasi wisata unggulan.
Semoga Bupati Kediri, Mas Hanindhito Himawan Pramana, serius menggarap kawasan wisata di Desa Jugo. Dia harus mampu menggaet dan meyakinkan investor untuk mau diajak berkolaborasi. Karena, keterlibatan investor, menjadi keniscayaan dalam upaya percepatan dan pengembangan sebuah destinasi wisata.
John D. Hunt, profesor of travel and tourism dari George Washington University, dalam bukunya “Economic Aspects of Tourism” menyebutkan banyak aspek tentang ekonomi pariwisata. Dia mengatakan, bahwa pariwisata dapat menjadi sumber pendapatan yang signifikan bagi suatu daerah, terutama melalui pengeluaran para wisatawan selama mereka berada di tempat tersebut. Dia juga membahas dalam bukunya itu, tentang pentingnya pengembangan infrastruktur dan layanan pariwisata yang berkualitas untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan perekonomian daerah.
Pemikiran John D. Hunt inilah yang kemudian berkembang menjadi “Teori Ekonomi Pariwisata”. Selanjutnya teori ini menjadi dasar bagi banyak studi dan penelitian tentang dampak ekonomi pariwisata, serta strategi pengembangan pariwisata yang berorientasi ekonomi.
Kabupaten Banyuwangi, di bawah kepemimpinan Bupati Azwar Anas sudah membuktikan teori tersebut. Bagaimana dengan Kabupaten Kediri? Apalagi, baik Mas Anas maupun Mas Dhito, sama-sama kader PDIP. Sebagai rakyat, kita hanya bisa berharap. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Anwar Bahar Basalamah