Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Nganjuk dan Brambang

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 29 Mei 2023 | 17:29 WIB
Oleh Kurniawan Muhammad
Oleh Kurniawan Muhammad
Sudah seharusnya Nganjuk punya identitas yang kuat, dengan karakteristik yang dipunyainya. Daerah ini disebut sebagai “Kota Angin”. Tapi, sebutan itu terkesan hanya sebutan belaka. Tanpa banyak dibuktikan, mengapa disebut sebagai “Kota Angin”. Apakah karena di daerah itu embusan anginnya paling kencang ketimbang di daerah lain? Jika memang benar demikian, kapan waktunya hal itu terjadi?

Alhasil, Nganjuk sebagai “Kota Angin” terkesan hanya sebutan saja.

Selain disebut sebagai “Kota Angin”, Nganjuk dikenal juga sebagai salah satu daerah penghasil bawang merah atau brambang terbesar di Indonesia. Saat ini, merujuk data dari BPS (Badan Pusat Statistik), Nganjuk adalah penghasil brambang terbesar kedua di Indonesia setelah Brebes, Jawa Tengah.

Pada 2021, produksi brambang di Nganjuk mengalami kenaikan 9,24 persen dibandingkan 2020, dengan hasil panen mencapai 1.936.524  ton. Maka, komoditas brambang inilah yang harus dijadikan sebagai identitasnya Nganjuk. Dan ini rupanya disadari betul oleh Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi. Langkah awal, dia bikin monumen brambang di beberapa lokasi di Nganjuk. Sebagai pertanda bahwa brambang adalah produk komoditas andalannya Nganjuk.

Ketika berdiskusi dengan kami, Marhaen menyatakan salah satu visinya untuk menjadikan Nganjuk sebagai kawasan agropolitan. Ini, menurut kami  visi yang tepat. Jika hal ini serius ingin diwujudkan Marhaen, berarti Nganjuk harus punya sumber daya unggulan. Dan sumber daya unggulannya, menurut kami, adalah brambang.

Sebaiknya fokus pada satu produk, yaitu brambang saja. Dan harus digarap yang serius dan komprehensif.

Menurut kami, setidaknya ada empat langkah yang bisa dilakukan untuk mewujudkan visi Bupati Nganjuk, menjadikan Nganjuk sebagai kawasan Agropolitan dengan komoditas andalan brambang. Pertama, melakukan re-mapping. Yakni pemetaan kembali desa-desa penghasil brambang di Nganjuk.  Saat ini, sedikitnya ada lima kecamatan di Nganjuk yang selama ini dikenal sebagai penghasil brambang terbesar. Yakni di Rejoso, Bagor, Wilangan, Sukomoro, dan Gondang.

Mapping dilakukan tidak hanya untuk mengetahui di desa-desa mana yang menjadi sentra brambang di Nganjuk. Tapi, juga perlu di-mapping bagaimana aspek lahannya, sarana-prasarananya, tenaga kerjanya, serta bagaimana sistem kelembagaannya, termasuk bagaimana tata niaga brambang selama ini. Perlu di-mapping, untuk dianalisa, apa saja potensi masalahnya, dan apa saja potensi yang bisa dikembangkan lebih lanjut.

Langkah kedua, collecting data. Ini lanjutan dari upaya re-mapping. Perlu ada data base terkait dengan brambang. Data tentang kapasitas produksi brambang, per hektare dan per wilayah. Data jumlah petani. Data biaya produksi. Data perolehan omset dan laba. Dan data-data penunjang lainnya. Data-data ini diperlukan, untuk bisa dijadikan sebagai patokan atau pola dalam upaya pengembangan potensi brambang di masa mendatang.

Ketiga, membangun awareness. Harus ada upaya yang massif untuk menyosialisasikan bahwa brambang adalah komoditas andalannya Nganjuk. Harus dibangun image bahwa Nganjuk adalah brambang. “Ingat brambang, ingat Nganjuk”. Di sinilah pentingnya publikasi yang massif.

Bupati Nganjuk sudah bikin monumen brambang. Ini adalah salah satu upaya membangun awareness. Meski monumen brambang-nya terkesan asal bikin. Kurang bisa menimbulkan rasa “wow”. Semoga, ke depan bisa bikin monumen brambang yang lebih “wow” lagi. Sehingga berkesan bagi siapa saja yang melihatnya.

Langkah keempat adalah mem-branding. Beberapa kali Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi mengatakan kepada saya, bahwa dia sebelum menjadi bupati adalah konsultan branding. Banyak dimintai jasanya untuk mem-branding sesuatu agar menarik secara marketing. Saya yakin, di tangan Marhaen yang ahli branding, Nganjuk bisa di-branding sebagai Kota Brambang.

Salah satu upaya agar sebuah branding dikenal luas, perlu diadakan event. Dan event itu harus berdampak bagi yang menyaksikannya. Dan harus bisa menimbulkan impressi. Kami pernah mengusulkan kepada bupati dan beberapa jajaran OPD (organisasi perangkat daerah) agar di Nganjuk dibikin semacam Festival Brambang. Sudah kami rinci, event apa saja yang bisa dibikin dikaitkan dengan brambang. Sudah pasti event itu unik, massal, dan bisa menjadi daya tarik wisatawan.

Selain bikin event, desa-desa atau kecamatan penghasil brambang terbesar di Nganjuk harus di-make over. Harus didandani semenarik mungkin, dan diperkuat identitasnya sebagai kawasan penghasil brambang. Setidaknya, desa-desa  atau kecamatan-kecamatan penghasil brambang terbesar di Nganjuk  harus berbeda dengan desa atau kecamatan yang lain.

Wal akhir, ini semua hanyalah sebatas usulan. Demi mendukung visi besar Bupati Nganjuk yang ahli branding itu. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #berita viral #brambang nganjuk #brambang #bawang putih bawang merah