Sayangnya, tanda-tanda ruas jalan tol itu segera dibangun, belum tampak signifikan. Beberapa kawasan di beberapa desa yang rencananya bakal terdampak pembangunan tol Kertosono-Kediri, hingga minggu pertama April ini (2023), belum juga ada tanda-tanda bakal di-appraisal harga tanahnya (Radar Kediri, 9/4). Alasan dari pihak pembangun jalan tol yang diberikan kepada warga beragam. Mulai dari menunggu pencairan ganti rugi, hingga menunggu musyawarah hasil appraisal.
Upaya pembebasan lahan di beberapa desa yang bakal terdampak tol Kediri-Tulungagung juga setali tiga uang. Progresnya juga belum signifikan.
Desas-desus kabar menyebutkan, bahwa ruas jalan tol Kertosono-Kediri-Tulungagung, termasuk ke dalam kelompok ruas jalan tol yang harus diselesaikan sebelum Presiden Joko Widodo lengser, tahun depan. Bahkan, ada pula kabar yang menyebutkan, bahwa ruas jalan tol tersebut harus selesai bersamaan dengan peresmian bandara baru di Kediri. Tahun ini, tepatnya pada Agustus mendatang, jika tidak ada aral melintang, bandara di Kediri harus siap menerima pendaratan pesawat terbang.
Jika semua desas-desus kabar terkait ruas jalan tol Kertosono-Kediri-Tulungagung itu betul maka agaknya penyelesaiannya terancam molor. Bagaimana tidak, hingga saat ini, soal pembebasan lahan masih belum klir. Belum lagi, kemungkinan harga tanah yang ditetapkan nanti ditentang masyarakat (pemilik tanah). Belum lagi, nanti proses pembangunannya. Rasanya, sulit jika ruas jalan tol itu bisa selesai tahun depan, sebelum Presiden Joko Widodo lengser.
Ruas jalan tol Kertosono – Kediri akan dibangun oleh PT Jasamarga Ngawi Kertosono. Tahun ini memang direncanakan akan mulai dibangun. Asal, progres pembebasan lahan telah mencapai 75 persen. Tapi, hingga tulisan ini dibuat, progres pembebasan lahannya belum mencapai 75 persen. Inilah yang membuat pembangunan ruas jalan tol itu terancam molor. Sebab, dari jadwal awal pengerjaannya sudah molor.
Ruas jalan tol Kertosono – Kediri merupakan perpanjangan dari Jalan Tol Ngawi-Kertosono. Sesuai dengan addendum Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) 2019, jalan tol Kertosono – Kediri akan memiliki panjang 20,3 kilometer. Dengan biaya investasi Rp 3,9 triliun. Jalan tol ini akan dilengkapi dengan satu junction Kedungsoko, yang menghubungkan dengan Jalan Tol Ngawi-Kertosono, serta dua interchange yang terletak di Kabupaten Nganjuk yang tersambung dengan jalan akses Sugihwaras. Dan di Kabupaten Kediri yang tersambung dengan jalan akses Banyakan. Ruas jalan tol Kertosono-Kediri nanti direncanakan punya dua gerbang tol baru. Yaitu gerbang tol di Sugihwaras dan di gerbang tol di Kediri.
Bagaimana dengan tol Kediri-Tulungagung? Bulan lalu (Maret 2023), proyek ini masih proses lelang. Ruas jalan tol sepanjang 44,51 kilometer dengan nilai proyek Rp 10,25 triliun itu per Maret 2023 masih dalam tahap evaluasi dokumen penawaran. Direncanakan, tahap selanjutnya terkait dengan proses untuk Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) akan dilaksanakan pada kuartal II tahun ini (2023).
Setelah proses PPJT, akan dilanjutkan dengan proses pendanaan dan pengadaan tanah, perencanaan teknis, pelaksanaan konstruksi, baru pengoperasian. Selanjutnya, pemeliharaan untuk keseluruhan jalan tol.
Dibandingkan ruas tol Kertosono – Kediri, ruas tol Kediri – Tulungagung agaknya bakal lebih cepat selesai. Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, ruas tol Kediri – Tulungagung di-back up penuh oleh PT Gudang Garam. Sebab, ruas tol ini akan menjadi jalan penghubung antara Bandara Kediri dengan 100 persen konsorsium investor lead PT Gudang Garam.
Kedua, karena proyek pembangunan bandara Kediri saat ini sedang dikebut menjelang launching landing perdana pesawat pada Agustus mendatang, maka proyek tol Kediri-Tulungagung agaknya juga bakal ikut-ikutan dikebut. Ketiga, ruas tol Kediri-Tulungagung masuk dalam “Proyek Strategis Nasional” (PSN). Ruas tol ini berada di bawah program percepatan pembangunan ekonomi Provinsi Jawa Timur yang ditetapkan dengan Perpres 80 tahun 2019, tentang percepatan pembangunan ekonomi di kawasan Gresik-Bangkalan-Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Lamongan-Kawasan Bromo-Tengger-Semeru serta selingkar Wilis dan Lintas Selatan.
Jadi, kayaknya ruas jalan tol Kediri-Tulungagung, memang akan lebih cepat beroperasi ketimbang ruas jalan tol Kertosono – Kediri. Apakah memang seperti itu? Kita lihat saja nanti. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Anwar Bahar Basalamah