Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kediri, Pecel dan Sejarah

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 26 September 2022 | 17:20 WIB
Oleh Kurniawan Muhammad
Oleh Kurniawan Muhammad
Setidaknya ada tiga kuliner yang paling khas di Kediri. Pertama, nasi goreng anglo (api untuk masak dari arang). Kedua, Soto Podjok di Jl Dhoho, salah satu depot soto tertua di Indonesia karena sudah ada sejak 1926. Dan ketiga, nasi pecel.

Dari ketiga macam kuliner itu, masing-masing banyak ragamnya. Nasi goreng anglo, di Kediri ada beberapa tempat yang sama-sama enaknya. Salah satunya ada di dekat Stasiun Kota Kediri. Untuk jenis soto ada beberapa lokasi. Selain Soto Podjok, ada Soto Pakelan dan Soto Branggahan. Sedangkan untuk nasi pecel, yang rasanya enak juga ada di sejumlah tempat. Ada Nasi Pecel Mbah Darmo. Ada pula Nasi Pecel Garuda. Jika malam hari, penjual nasi pecel yang buka di sepanjang Jl Dhoho juga menjadi destinasi menarik. Khususnya yang jualan di depan Toko Pudakit. Ini yang paling ramai.

Seumur-umur, saya baru di Kediri, pernah tiga hari berturut-turut sarapan Nasi Pecel di tiga tempat berbeda. Waktu itu saya tidak bosan. Dan masing-masing tempat itu, nasi pecelnya sama-sama punya kekhasan tersendiri. Ada yang khas pada bumbu pecelnya. Ada yang khas pada peyeknya plus lauk-pauknya. Dan ada yang khas pada racikan bumbu pecel dan bumbu tumpangnya.

Ternyata pecel adalah jenis masakan tradisional yang termasuk tertua. Disebut-sebut sudah ada sejak abad ke-9. Kata pecel disebutkan di dalam “Kakawin Ramayana” yang ditulis di era Mataram Kuno (Hindu) di bawah Raja Rakai Watukura Dyah Balitung (898 – 930 M). Kakawin adalah syair, dalam hal ini berisi kisah Ramayana, yang ditulis dalam bentuk tembang bicara Jawa Kuno.

Kakawin ini disebut sebagai “adikakawin”, karena dianggap yang pertama, terpanjang dan terindah gaya bahasanya pada masa periode Hindu-Jawa.

Kata “pecel” ada di dalam “Kakawin Ramayana” ketika menceritakan berbagai jenis makanan, termasuk pecel dihidangkan kepada para rakyat yang telah membantu memenangkan perang. Ini penggalan kutipannya:

“……………………….sarad-saradanya kulub-kulubanya bênêm-bênêmanya taman sipi riṅ mahêm mukêt ulam iṅ rêcehan ta pêcêl-pêcêlan śuci tar pacalan cêcêp iṅ jruk asin nasi tāsi saménaka”.

Jika diterjemahkan secara bebas, kurang lebih seperti ini: “……………semua jenis sarad, kulub (sayuran kukus), semua jenis hidangan yang disiapkan dalam bambu panas, daging cincang yang dicampur dengan sayuran, pêcêl (salad sayuran) murni. Letakkan perasan jeruk (saat memakannya). Mintalah nasi sepuasnya.”

Pada prasasti Siman dari Kediri yang diperkirakan ditulis pada tahun saka 865 M atau 943 M disebutkan adanya jenis makanan yang racikannya diyakini sebagai pecel. Disebutkan dalam prasasti itu “…jenis makanan yang terbuat dari sayuran daun yang direbus (kukus) dan diolah secara khusus dengan bumbu rempah (pangapangan rumbarumbah kuluban tetis)…”

Prasasti Siman yang disebut juga dengan Prasasti Paradah ini ditulis di masa pemerintahan Raja Rakai Hino Mpu Sindok (Sri Isyana Wikramadharmatunggadewa).

Mpu Sindok adalah salah satu tokoh yang memindahkan pusat kekuasaan Kerajaan Medang (Mataram Kuno) dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Dia pula yang mendirikan wangsa baru yakni Wangsa Isyana yang memegang tampuk pemerintahan di Kerajaan Medang periode Jawa Timur. Prasasti Siman di Kediri ini tercatat sebagai prasasti sejarah pra Khadiri.

Berawal dari pecel, ternyata bisa merembet untuk menapaktilasi jejak sejarah. Memang, menurut sejarah, jejak kuliner di Indonesia telah ditemukan di dalam sejumlah prasasti mulai abad ke-8 hingga ke-10 Masehi. Istilah “boga” konon juga berasal dari istilah yang disebutkan di dalam prasasti-prasasti itu. Boga adalah makanan yang berhubungan dengan dapur yang dibuat dengan sentuhan seni dan memberikan kenikmatan. Kekayaan jenis masakan atau boga  menjadi cermin kekayaan jenis makanan khas Nusantara.

Dan jika dikaji dari telaah “gastronomis”, jenis makanan dan tata boga berkolerasi erat dengan budaya, adat istiadat dan tradisi sebuah bangsa. Gastronomi atau tata boga adalah seni atau ilmu tentang makanan yang baik (good eating).

Nah, akan lebih keren jika berbagai makanan khas yang ada di Kediri, wabil khusus nasi pecelnya, diberi perlakuan khusus. Misalnya dengan membangun pusat kuliner pecel. Jadi, di tempat itu, khusus hanya untuk penjual nasi pecel yang selama ini bertebaran di wilayah Kediri Raya. Jadi, di tempat itu, para pengunjung bisa bebas dan lebih mudah dalam memilih pecel seperti apa yang disukainya. Apalagi, jika ditempat itu juga dilengkapi dengan berbagai narasi tentang pecel. Misalnya, apa bedanya “Pecel Kediri” dengan “Pecel Blitar” dan “Pecel Madiun”?  Selanjutnya, juga bisa diceritakan bahwa pecel ternyata sudah ada sejak abab ke-9 Masehi. Ada jejak sejarah yang tersimpan dalam hidangan pecel.

Sehingga, ketika pengunjung berada di pusat kuliner pecel ini, mereka tidak hanya menikmati pecelnya saja. Tapi, mereka juga mendapatkan pengalaman dari narasi-narasi sejarah yang ada di tempat tersebut.  Ini baru pecel lho…belum soal nasi goreng, atau pun soto-nya. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Anwar Bahar Basalamah
#berita terkini #seputar kediri #kediri #kabar kediri terkini #info terbaru kediri #info kediri #viral kediri #berita terbaru #berita kediri terbaru #berita kediri terkini #sejarah #kediri lagi #pecel #berita viral kediri #kabar kediri #kediri news #sejarah pecel