Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Syekh Wasil

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 8 Agustus 2022 | 16:04 WIB
Oleh Kurniawan Muhammad
Oleh Kurniawan Muhammad
Setidaknya ada tiga hal yang mengusik saya, ketika berkesempatan (untuk pertama kalinya) berziarah ke makam Syekh Wasil, Selasa lalu (2/8/22). Masyarakat Kediri menyebutnya: Syekh Sulaiman Al Wasil Syamsudin.

Pertama, tentang sejarah Syekh Wasil. Hingga kini, masih simpang siur. Belum ada satu versi yang disepakati. Inilah yang  mengusik saya: Mengapa sejauh ini tidak ada itikad atau kemauan dari para sejarawan atau ulama (wabil khusus yang berada di Kediri Raya) untuk membuat kesepakatan satu versi tentang sejarah dari waliyullah yang diyakini menjadi penyebar Islam pertama di wilayah Kediri itu. Sudah tentu, satu versi tersebut harus melalui riset sejarah dan penelitian sejarah yang mendalam dan komprehensif.

Misalnya, dimulai dari menghimpun berbagai penelitian yang telah dilakukan para mahasiswa, baik dari lingkup S1, S2, S3, maupun penelitian yang dilakukan para ahli terkait dengan eksistensi dan sejarah Syekh Wasil. Salah seorang  yang telah melakukan penelitian tentang Syekh Wasil adalah Prof Dr Habib Mustopo, guru besar sejarah dari Universitas Negeri Malang. Dia meneliti tentang Syekh Wasil dengan basis data historis dan arkeologis.

Selain Prof Dr Habib Mustopo, saya yakin ada beberapa sejarawan lain yang juga meneliti tentang Syekh Wasil. Nah, semua penelitian itu lantas dikumpulkan. Para penelitinya kalau perlu juga diundang di satu forum. Bikin FGD (Focus Group Discussion) yang membahas tentang sejarah Syekh Wasil. Misalnya, yang masih berbeda adalah asal dari Syekh Wasil. Ada versi yang menyebutnya berasal dari wilayah yang sekarang bernama Turki. Ada juga versi yang menyebutnya berasal dari Persia (kini Iran).

Lalu soal periodisasi kedatangan Syekh Wasil ke Kediri. Ada versi yang menyebutnya, datang pada abad ke-10. Tapi ada versi lain yang menyebutnya datang ke Kediri pada abad ke-12. Nah, manakah dari beberapa versi itu yang mendekati kebenaran?

Yang juga tak kalah menariknya dari sosok Syekh Wasil adalah tentang hubungannya dengan Prabu Jayabaya yang menjadi Raja di Kerajaan Kediri (kerajaan Kediri eksis selama 1042-1222).  Soal ini juga ada beberapa versi. Satu versi menyebutkan, bahwa Raja Joyoboyo adalah murid dari Syekh Wasil. Versi lain menyebutkan, bahwa Syekh Wasil adalah penasehat dari Raja Joyoboyo.

Di sini perlunya “by design” sejarah. Atau, mungkin lebih tepat jika disebut dengan “merekonstruksi sejarah”. Menurut Kuntowijoyo, “rekonstruksi” dalam sejarah merupakan suatu cara untuk membangun kembali masa lalu, bukan untuk kepentingan masa lalu, melainkan masa kini dan masa yang akan datang.

Jadi, sejarah dari Syekh Wasil perlu direkonstruksi, dibuat versi “buku putih”-nya,  agar siapa pun yang membacanya dan mempelajarinya, punya kesamaan versi atau kesamaan sudut pandang. Ini penting, terutama bagi generasi yang akan datang. Agar mereka mengetahui sejarah Syekh Wasil secara utuh, solid, mendalam, dan komprehensif.

Kedua, kondisi makam Syekh Wasil di kompleks Setono Gedong. Yang membuat saya terusik, karena di tempat itu seakan daya tariknya hanya makam Syekh Wasil saja. Tidak ada daya tarik lainnya. Ini sungguh sangat disayangkan. Tempat itu sudah dicanangkan sebagai lokasi wisata religi sejak 2003, tapi daya tariknya seakan hanya makam Syekh Wasil saja.

Padahal, sebenarnya bisa dilengkapi dengan perpustakaan. Pihak pengelola kompleks Setono Gedong bisa mengoleksi atau menghimpun berbagai buku hasil penelitian tentang Syekh Wasil. Lalu, menyimpannya di perpustakaan itu. Saya meyakini, bakal ada ratusan atau bahkan ribuan buku tentang Syekh Wasil. Bisa berasal dari skripsi, thesis, atau pun disertasi. Atau, bisa juga berasal dari buku-buku literatur yang ditulis oleh para ahli atau sejarawan.

Selain itu, di kompleks Setono Gedong harusnya diberikan sejumlah narasi tentang Syekh Wasil. Bisa tentang sejarahnya. Bisa tentang perjuangannya dalam menyebarkan Islam di Kediri. Bisa juga tentang kedekatannya dengan Prabu Jayabaya. Narasi-narasi itu bisa diletakkan di tempat-tempat khusus yang mudah untuk dilihat. Sayangnya, ketika ke sana, saya tidak menjumpai satu narasi pun yang mudah dilihat dan mudah dibaca, kecuali hanya tulisan yang menunjukkan bahwa lokasi itu adalah kompleks makam Syekh Wasil.

Ketiga, dengan keberadaan kompleks makam dari Syekh Wasil yang terkesan “tidak di-apa-apa-kan” itu, membuat saya semakin terusik.  Sekaligus kembali menyayangkan, bahwa ada sesuatu yang sebenarnya istimewa di Kediri, tapi kesannya kurang diperlakukan secara istimewa.

Syekh Wasil adalah sosok yang sangat istimewa. Dia diyakini termasuk penyebar Islam pada periode awal di nusantara, jauh sebelum periode walisongo.  Kompleks pemakamannya, termasuk dalam deretan empat kompleks pemakaman Islam tertua di Indonesia.

Makam Islam tertua pertama adalah makam dari Fatimah Binti Maimun. Di nisannya, tertulis wafat tahun 475 Hiriyah (1082 M). Makam ini terletak di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik.

Makam Syekh Wasil adalah makam Islam tertua kedua. Makam Islam tertua ketiga, makam dari Sultan Malikus Saleh. Dari batu nisan di makamnya, menjadi bukti bahwa pada abad ke-13 di Kepulauan Melayu telah berdiri kerajaan Islam, tepatnya di ujung Utara Pulau Sumatera. Konversi waktu dari batu nisan itu menghasilkan angka tahun 1297. Sehingga dapat dikatakan, Islam telah masuk dan berpengaruh di Kepulauan Melayu pada kurun waktu tersebut. Makam Sultan Malikus Saleh berada di Kabupaten Aceh Utara.

Makam Islam tertua keempat, makam Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Dia adalah penyebar Islam pertama kali di tanah Jawa. Diperkirakan datang ke tanah Jawa di era Kerajaan Majapahit (abad 13-14).

Jadi, betapa istimewanya Syekh Wasil. Menyebarkan Islam di Kediri, ketika Kediri didominasi pengaruh agama Hindu-Buddha. Dan (sebenarnya) betapa beruntungnya Kediri didatangi Syekh Wasil, hingga wafatnya.

Semoga, ke depan, kompleks pemakaman Syekh Wasil ditambahi daya tariknya sebagai wisata religi. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp) Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #islam kediri #tempat wisata religi #info wisata religi #kediri #Prabu Jayabaya #islam #penyebar islam #wisata #sejarah syekh wasil #info kediri #info wisata kediri #kompleks pemakaman Syekh Wasil #penyebar islam di kediri #info wisata #wisata religi #opini #info wisata religi kediri #ziarah makam #Setono Gedong #makam Syekh Wasil #Syekh Sulaiman Al Wasil Syamsudin #sejarah #syekh wasil #berita kediri hari ini #tempat wisata #kompleks Setono Gedong #wisata religi kediri #berita kediri #ziarah #ziarah makam Syekh Wasil #catatan awal pekan #Raja Joyoboyo