Pelantikan dipimpin langsung Rektor Universitas Strada Indonesia Prof. (H.C.) Dr. dr. Sentot Imam Suprapto, MM. Ratusan lulusan tersebut terdiri atas 424 lulusan Program Studi Profesi Ners dan 368 lulusan Program Studi Profesi Bidan.
Dalam sambutannya, Prof. Sentot menegaskan bahwa seluruh lulusan profesi telah memenuhi standar kompetensi nasional. Tidak hanya lulus uji kompetensi profesi, para alumni dibekali kemampuan akademik maupun nonakademik. Harapannya agar mampu bersaing di dunia kerja, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Menurutnya, pembekalan tersebut menjadi bagian dari komitmen Universitas Strada Indonesia dalam mencetak tenaga kesehatan yang inovatif, adaptif, dan kompeten. Kampus juga berkomitmen mendampingi para lulusan hingga memperoleh karier yang sesuai, baik di dalam maupun luar negeri.
Dalam kesempatan tersebut, Prof Sentot juga memberikan pesan khusus kepada para lulusan profesi ners dan bidan agar selalu mengedepankan kecepatan dan ketepatan pelayanan kepada pasien. Ia menekankan pentingnya penerapan first response time dan resolution time dalam setiap pelayanan kesehatan.
"Jangan pernah membedakan pasien berdasarkan golongan, ras, status ekonomi, maupun jabatan. Semua pasien harus mendapatkan pelayanan yang sama, cepat, tepat, dan profesional sehingga merasa puas terhadap layanan kesehatan yang diberikan," pesannya.
Ia menjelaskan, kepuasan pasien sangat ditentukan oleh kecepatan tenaga kesehatan dalam memberikan respons. Sebaliknya, keterlambatan dalam menangani pasien akan berdampak pada menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan.
Prof Sentot mencontohkan, pada layanan gawat darurat (Emergency Room), standar response time nasional maupun internasional ditetapkan maksimal lima menit, terutama bagi pasien yang diduga mengalami trauma kepala.
Sementara pada pelayanan kebidanan, proses pelepasan plasenta pada kala III persalinan idealnya berlangsung dalam waktu 5–30 menit setelah bayi lahir, kemudian dilanjutkan observasi ibu selama 120 menit sesuai standar profesi.
"Response time merupakan standar operasional yang berlaku secara nasional maupun internasional. Setiap kesalahan dalam pelayanan kegawatdaruratan harus dilaporkan dan menjadi bahan audit, baik internal maupun eksternal," tegasnya.
Ia berharap seluruh lulusan mampu mengembangkan inovasi pelayanan kesehatan dengan memadukan ilmu yang diperoleh selama kuliah, standar profesi, serta kearifan lokal. Sehingga menghasilkan pelayanan yang presisi, valid, dan profesional.
Sosok Adhi Cendekia dan Leadership USI
Abdillah Sofyan Pratama adalah lulusan terbaik Adhi Cendekia USI dari profesi ners. Abdillah mengaku bangga sekaligus terharu atas pencapaiannya. Menurut dia, pelantikan tahun ini terasa berbeda karena dikemas lebih menarik dibanding tahun-tahun sebelumnya.
"Alhamdulillah bisa menjadi lulusan terbaik. Di kampus ini kami tidak hanya belajar merawat dan menyembuhkan pasien, tetapi juga menghargai sesama, membangun jiwa kepemimpinan, dan siap memimpin organisasi," ujarnya.
Abdillah juga mengapresiasi lingkungan belajar di Universitas Strada Indonesia. Yang mana dapat menghadirkan mahasiswa dari berbagai daerah sehingga memperluas relasi. Didukung dosen yang kompeten, ia merasa memperoleh bekal untuk menjadi perawat profesional.
Kisah inspiratif lainnya datang dari Elen Fitriani, Adhi Cendekia USI lulusan Profesi Bidan asal Kota Tolitoli, Sulawesi Tengah. Jauh merantau ke Kediri, ia termotivasi menempuh pendidikan di Universitas Strada Indonesia untuk menambah wawasan dan meningkatkan kompetensi sebelum kembali mengabdi di daerah asalnya.
Sementara itu, penghargaan Adhi Leadership USI diraih Yuni Dwi Istyarini. Selama menempuh pendidikan profesi keperawatan, Yuni harus membagi waktu antara kuliah, bekerja, dan mengurus dua anaknya. Berkat dukungan dosen dan keluarga, ia mampu menyelesaikan studi tepat waktu.
"Saya bersyukur bisa menyelesaikan pendidikan sesuai target. Terima kasih kepada Universitas Strada Indonesia yang telah mendukung perjalanan saya," ungkapnya.