Terapkan Ekonomi Sirkular, KKN UB Kediri Integrasikan Biokonversi Maggot dan Budikdamber di Mrican

Anwar Bahar Basalamah • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 15:16 WIB
Foto: Dok. Tim KKN Kelompok 1 UB Kediri
Foto: Dok. Tim KKN Kelompok 1 UB Kediri

KEDIRI, JP Radar Kediri - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 1 PSDKU Universitas Brawijaya Kediri sukses menginisiasi gerakan nyata berbasis lingkungan melalui penerapan ekonomi sirkular di Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

 

Di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapang Hariadi Darmawan, mahasiswa menghadirkan inovasi Teknologi Tepat Guna yang memadukan biokonversi maggot Black Soldier Fly dan budidaya ikan dalam ember.

 

Program kolaboratif yang dilaksanakan sepanjang Juli 2026 ini dirancang untuk menjawab berbagai tantangan pengelolaan lingkungan sekaligus mendorong kemandirian pangan warga, dengan sasaran utama kaum ibu di lingkungan RW 3 dan RW 4 Kelurahan Mrican.

 

Ketua KKN Kelompok 01 Mrican UB Kediri, Delima Tarigan, mengungkapkan bahwa program ini dihadirkan sebagai solusi konkret bagi masyarakat perkotaan.

Baca Juga: Enam Mahasiswa UNP Kediri Ciptakan Mesin Pembuat Keju Mozarella, Terinspirasi dari Kesulitan UMKM di Pare

 

"Melalui integrasi biokonversi maggot dan Budikdamber, kami ingin membantu warga mengelola sampah organik secara mandiri sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi, baik dari ketersediaan pakan ikan yang lebih murah maupun pupuk untuk pekarangan," ujar Delima.

 

Latar belakang pelaksanaan program ini berpijak pada kondisi riil di lapangan. Berdasarkan pemetaan potensi wilayah, Kelurahan Mrican menyimpan potensi besar dalam pengembangan ekonomi sirkular dan pemberdayaan masyarakat.

 

Di satu sisi, RW 3 mengusung tema zero waste organic, namun masih menghadapi kendala berupa tingginya volume sampah organik rumah tangga dan sampah kemasan yang membutuhkan penanganan sistematis.

 

Di sisi lain, RW 4 memiliki prospek sangat baik sebagai kawasan pengembangan urban farming, tetapi terkendala oleh masalah klasik perkotaan berupa keterbatasan lahan.

Baca Juga: Peran Mahasiswa Teknik dalam Menghadapi Revolusi Industri 5.0

 

Kondisi tersebut menuntut adanya solusi inovatif yang tidak hanya mampu mereduksi timbulan sampah organik secara mandiri, tetapi juga mengoptimalkan pemanfaatan ruang terbatas agar tetap produktif secara ekonomi.

 

Untuk menjawab persoalan tersebut, Tim KKN Kelompok 1 Mrican Universitas Brawijaya Kediri merancang alur operasional sistem ekonomi sirkular yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

 

Proses dimulai dari pemilahan sampah rumah tangga secara cermat antara sampah organik dan nonorganik. Sampah organik murni berupa sisa sayuran, buah-buahan, dan sisa makanan kemudian dimasukkan ke dalam mesin pencacah agar ukuran materialnya menjadi lebih kecil dan mudah diurai.

 

Setelah melalui proses pencacahan, bahan organik tersebut difermentasi selama 3 hingga 4 hari hingga teksturnya melunak. Larva maggot kemudian diberi makan dari hasil fermentasi tersebut. Melalui proses biokonversi, volume sampah organik dapat ditekan secara signifikan sekaligus menghasilkan biomassa maggot berprotein tinggi.

Baca Juga: Prodi K3 Jadi Primadona di Sejumlah Kampus, Ribuan Calon Mahasiswa Berebut Kursi

 

Seluruh rangkaian proses ini menghasilkan keluaran ganda yang dimanfaatkan secara maksimal oleh warga. Cairan hasil dekomposisi dan fermentasi limbah organik diolah menjadi pupuk organik cair yang sangat ideal untuk menyuburkan tanaman.

 

Sementara itu, sisa media padat setelah dikonsumsi oleh maggot atau yang disebut kasgot dimanfaatkan sebagai media tanam bernutrisi tinggi pengganti tanah konvensional.

 

Di sisi lain, maggot yang telah mencapai usia panen diolah dan digunakan sebagai pakan berprotein tinggi untuk mendukung budidaya ikan lele dalam ember, sehingga mampu menekan biaya operasional pembelian pakan komersial secara drastis.

 

Seluruh siklus ini disatukan dalam instalasi budidaya ikan yang terintegrasi dengan pemanfaatan pupuk cair dan kasgot secara berkesinambungan.

Baca Juga: UNP Kediri Pamerkan 60 Karya Inovasi Mahasiswa, Termasuk Hibahkan Mesin Pembuat Keju ke UMKM

 

Program biokonversi dan budidaya ikan ini dieksekusi melalui tahapan terstruktur sepanjang bulan Juli 2026. Kegiatan diawali dengan sosialisasi intensif kepada warga di RW 3, yang kemudian diperluas ke wilayah RW 4 guna membangun pemahaman komprehensif mengenai pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.

 

Usai sesi sosialisasi, warga mulai aktif mengumpulkan sampah organik rumah tangga secara mandiri untuk dipasok sebagai bahan baku budidaya maggot.

 

Puncak dari rangkaian program ini ditandai dengan penyerahan instalasi budidaya secara resmi kepada warga pada 22 Juli 2026. Delima Tarigan menambahkan bahwa antusiasme warga, khususnya ibu-ibu PKK serta dukungan para bapak di Kelurahan Mrican, menjadi kunci penting keberhasilan program ini.

 

"Kami berharap instalasi dan sistem ekonomi sirkular yang telah diserahkan ini dapat dirawat serta dilanjutkan secara berkelanjutan oleh warga untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga," pungkasnya.

Baca Juga: Puluhan Mahasiswa UNP Kediri dan YunTech Taiwan Kunjungi Kantor Radar Kediri, Antusias Pelajari Transformasi Media 

 

Seluruh rangkaian kegiatan mendapat sambutan hangat serta partisipasi aktif dari masyarakat setempat. Melalui penerapan program ini, warga Kelurahan Mrican kini memiliki bekal keterampilan praktis untuk mengurangi volume sampah organik dari tingkat rumah tangga.

 

Selain itu, integrasi biokonversi maggot dan budidaya ikan dalam ember terbukti mampu memberikan nilai tambah ekonomi yang nyata, mulai dari kemandirian penyediaan pakan ikan yang lebih terjangkau, ketersediaan pupuk organik untuk menyuburkan tanaman pekarangan, hingga penguatan ketahanan pangan keluarga di tengah tantangan perkotaan.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
mahasiswa teknologi Inovasi Universitas Brawajiya kkn