Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Jadikan Siswa SAPA MAMA Penggerak Inovasi Desa Karangsemi, IIK Bhakta Kediri Ciptakan Produk Unggulan BRAMA

Mahisa Ayu • Kamis, 4 Desember 2025 | 19:56 WIB

 

Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri – Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata (IIK Bhakta) Kediri melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Karangsemi, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk. Kegiatan tersebut berlangsung mulai dari Agustus hingga November 2025.

Tim yang terlibat diantaranya 5 dosen IIK Bhakti Kediri yang terdiri dari Endah Retnani Wismaningsih, S.KM., M.Kes. sebagai ketua pelaksana, sedangkan anggotanya Ni’matu Zuliana, S.KM., M.K.K.K. , Indah Susilowati, S.H., M.H., Ratna Frenty Nurkhalim, S.KM., M.P.H. dan Ir. Arya Ulilalbab, S.TP., M.Kes. , Serta 8 mahasiswa IIK Bhakta Kediri yaitu Elvanda Helzalia Putri, Ana Miftahul Khoir, Rona Pawarti, Nurul Istiqomah Kurniawati, Ana Zahratul Mukminati, Gini Driya Arnawa, Fakihuddin Almahabbah, Pasha Aurischa Hagarini.

Pengabdian masyarakatnya adalah menyusun data terpilah berbasis gender yang akurat, edukasi kesehatan dan keselamatan kerja petani bawang, serta melahirkan inovasi produk unggulan desa yakni serbuk bawang merah BRAMA (Brambang Mama).

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Sains dan Teknologi (KemenSaintek) 2025, dalam skema Sinergi Masyarakat Desa dalam Mewujudkan DARAPENA (Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak).

Photo
Photo

Tim IIK Bhakta Kediri menggandeng Siswa Sekolah Perempuan, Anak, dan Masyarakat Marginal (SAPA MAMA) sebagai mitra utama. Tahap awal, program difokuskan pada pengumpulan data terpilah berbasis gender di 14 RT Desa Karangsemi. Kegiatan ini dipimpin oleh Indah Susilowati, S.H., M.H., dan Ratna Frenty Nurkhalim, S.KM., M.P.H., selaku koordinator bidang data dan advokasi.

Data ini menjadi dasar perencanaan kebijakan yang lebih berpihak pada kelompok rentan. “Kami ingin memastikan desa memiliki data terpilah yang bisa digunakan untuk kebijakan yang lebih adil dan responsif terhadap isu perempuan dan anak,” ujar Indah Susilowati.

Ratna Frenty Nurkhalim menegaskan bahwa proses ini sekaligus menjadi sarana belajar sosial. “Ketika perempuan ikut mendata dan memahami kondisi lingkungannya, mereka belajar membaca kebutuhan masyarakat dan menemukan peran baru di dalamnya. Dari situ pemberdayaan tumbuh secara alami,” jelasnya.

Selain pendataan, tim IIK Bhakta juga menyelenggarakan sosialisasi penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi warga dan petani di Karangsemi.
Melalui sesi demonstrasi dan simulasi langsung, peserta diperkenalkan pada berbagai jenis APD serta diajarkan cara memakai dan melepas APD dengan benar untuk mencegah kontaminasi silang. Di akhir kegiatan, peserta menerima paket APD sederhana sebagai bentuk dukungan berkelanjutan dari kampus.

Photo
Photo

“Edukasi seperti ini penting agar masyarakat membangun kebiasaan protektif,” tutur Ni’matu Zuliana, S.KM., M.K.K.K., dosen IIK Bhakta yang juga menjadi narator dalam video dokumenter edukatif kegiatan ini.

Hasil pendampingan berikutnya adalah pelatihan diversifikasi olahan pangan berbasis potensi lokal. Dari sini lahir BRAMA (Brambang Mama), serbuk bawang merah hasil olahan bawang sortiran yang sebelumnya tak bernilai jual.

Mereka belajar memilih bahan baku, mengeringkan, menggiling, hingga mengemas produk dengan desain menarik. “Kami bangga bisa menghasilkan produk sendiri. Dulu bawang kecil sering terbuang, sekarang bisa jadi serbuk BRAMA yang tahan lama dan bernilai jual,” ujar Wiwik Sulistyoningsih, Ketua SAPA MAMA Desa Karangsemi. Dengan tagline “Dari Desa untuk Rasa Nusantara”, BRAMA kini dipasarkan melalui bazar desa dan media sosial, menjadi simbol kemandirian ekonomi perempuan Karangsemi.

Photo
Photo

Selain mengolah produk, para Siswa SAPA MAMA juga mendapat pelatihan branding, promosi digital, dan kewirausahaan yang difasilitasi oleh Endah Retnani

Wismaningsih, S.KM., M.Kes., dan Ir. Arya Ulilalbab, S.TP., M.Kes. “Kami tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tapi juga menumbuhkan kepercayaan diri dan rasa memiliki terhadap hasil kerja mereka. Sekarang Siswa SAPA MAMA sudah mampu memimpin kegiatan secara mandiri,” ujar Endah.

Kepala Desa Karangsemi Eny Suyati mengapresiasi kolaborasi kampus dan warga ini. “Siswa SAPA MAMA kini menjadi aset berharga desa. Mereka aktif, punya ide, dan mampu menggerakkan warga,” ungkapnya.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#masyarakat #Inovasi #edukasi #IIK Bhakta #mama