MALANG, JP Radar Kediri - Universitas Brawijaya (UB) bekerja sama dengan UNESCO menggelar pertunjukan Wayang Karakter Brawijayan dengan lakon Bhinneka Tunggal Ika. Lakon tersebut diangkat karena nilai persatuan dalam keberagaman dianggap relevan untuk diperkenalkan kembali kepada generasi muda.
“Wayang Brawijayan adalah media yang tepat untuk menanamkan kembali pesan moral tentang cinta, kemurnian, dan persatuan. Ini sejalan dengan nilai Brawijaya yang ingin terus kami hidupkan,” kata Koordinator Globalizing UB, Dr. Anni Rahimah, SAB., MAB., Ph.D
Wayang Karakter Brawijayan dengan lakon “Bhinneka Tunggal Ika”, diadaptasi dari Kakawin Sutasoma. Acara digelar dalam rangkaian Dies Natalis ke-63 UB.
Penyampaian Sinopsis dibawakan oleh Wakil Rektor IV Bidang Kerjasama dan Internasionalisasi Prof. Andi Kurniawan, SP.Pi., M.Eng., D.Sc.
Dalam penyampaian narasinya, Prof. Andi menggambarkan perjalanan spiritual Pangeran Suta Soma dengan penuh penekanan terhadap pesan moralnya. “Ketika tiba waktunya untuk menerima takhta kerajaan, Sutasoma justru menolak. Dia meninggalkan kemewahan istana dan memilih perjalanan sunyi ke Gunung Sumeru demi mencari makna hidup yang sesungguhnya,” kata Prof. Andi.
Dia kemudian melanjutkan kisah ujian yang dihadapi sang pangeran. “Dalam perjalanannya, Sutasoma berhadapan dengan seekor harimau betina yang kelaparan hingga hampir memangsa anaknya sendiri. Tanpa rasa takut, dia menawarkan dirinya sebagai bentuk pengorbanan agar kehidupan tetap berjalan,” tuturnya saat membacakan narasi.
Prof. Andi menegaskan bahwa kisah ini mengangkat nilai pengorbanan dan kasih sayang sebagai kekuatan sejati. Ia mengutip nilai moral yang juga tercantum dalam naskah, “Greatness is not born of power, but of sacrifice. Strength is not found in conquest, but in forgiveness.”
Dia menambahkan, “Inilah Spirit of Bravijaya nilai ketuhanan, kemurnian diri, dan cinta tanpa batas yang ingin terus kita tanamkan kepada generasi muda Universitas Brawijaya.”
Pertunjukan Wayang Karakter Brawijayan tidak hanya menampilkan kesenian tradisional dalam kemasan modern, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi sivitas akademika serta tamu undangan internasional. Hal ini terlihat dari pengenalan instrumen gamelan oleh Sanggar Seni Gumelaring Sasangka Aji (GSA) Nikolen Pujiningtyas.
Dia menjelaskan bahwa gamelan memiliki beragam instrumen dengan bentuk, bahan, dan fungsi berbeda mulai dari instrumen berdawai, alat yang terbuat dari kayu dan kulit membran, hingga instrumen berbahan perunggu. Gamelan berkualitas tinggi biasanya menggunakan perunggu sebagai bahan utama. Semua instrumen tersebut menghasilkan harmoni saat dimainkan secara bersamaan dan menjadi ciri khas musik tradisional Jawa.
Nikolen juga memperkenalkan instrumen gendang yang berperan sebagai pemimpin tempo dan pengatur perpindahan antarbagian dalam komposisi gamelan. Ia kemudian meminta salah satu pengrawit untuk memainkan contoh pendek.
“Setiap instrumen dalam gamelan saling melengkapi. Inilah keindahan musik tradisional kita berbeda, tetapi saling menyatu dalam harmoni,” ujarnya. Melalui kerja sama UB dan UNESCO, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model diplomasi budaya yang mampu memperkenalkan nilai luhur Indonesia ke tingkat global.
Editor : Anwar Bahar Basalamah