Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

ICoPAG 2025 UB Dorong Layanan Publik Cerdas dan Inklusif di Era Digital

Anwar Bahar Basalamah • Jumat, 7 November 2025 | 02:11 WIB
Photo
Photo

MALANG, JP Radar Kediri – Universitas Brawijaya (UB) menggelar The International Conference on Public Administration and Governance (ICoPAG) 2025 secara hybrid pada Kamis (6/11/2025).

Di tahun ini, konferensi mengangkat tema “Smart, Just, and Connected: Advancing Public Services, Learning, and Knowledge in the 21st Century”. Lebih spesifik, konferensi ini mengundang diskusi kritis dan penelitian inovatif tentang cara membangun sistem yang tangguh dan inklusif di era digital yang berkembang pesat.

Dimulai pukul 08.00 WIB, ICoPAG 2025 yang menjadi rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-63 UB ini menghadirkan Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI, Meutya Hafid. Meutya yang datang secara virtual membuka kegiatan dengan menyebut era teknologi saat ini menyentuh semua aspek kehidupan masyarakat.

Menurutnya, transformasi digital tidak hanya tentang inovasi dan efisiensi, tetapi juga berkaitan dengan keaslian, inklusi, dan memastikan bahwa kemajuan menguntungkan semua orang.

“Di Indonesia, kami sedang membangun ekosistem digital yang benar-benar melayani masyarakat. Kami memperluas akses ke layanan publik, melindungi warga negara, terutama anak-anak di ruang digital. Kami juga mengembangkan keterampilan dan literasi yang dibutuhkan setiap warga negara Indonesia untuk berkembang di era digital,” ujar Meutya.

Selain Menkomdigi, ICoPAG yang memasuki tahun kelima ini dihadiri Rektor UB Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc. secara online dan Dekan Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Prof. Dr. Hamidah Nayati Utami, S.Sos., M.Si.

Photo
Photo

Ada lima pembicara utama di konferensi. Mereka adalah Prof. Zamokuhle Mbandlwa (Durban University of Technology), Prof. Andy Fefta Wijaya, MDA., Ph.D. (Universitas Brawijaya), Assoc. Prof. Dr. Corriena Abdul Talib (Universiti Teknologi Malaysia), Prof. Gi-Heon Kwo, Ph.D. (Sungkyunkwan University), dan Dr. Miray Dogan (Canakkale Onsekiz Mart University).

Prof. Andy Fefta Wijaya, yang mewakili UB, mengatakan, kebijakan-kebijakan di level pemerintahan itu seharusnya mengikuti tata kelola kebijakan yang baik. Artinya, sebelum membuat kebijakan, pembuat kebijakan perlu mempertimbangkan banyak hal.

“Kita harus melihat dari perspektif yang bermacam-macam. Harapannya, sebuah kebijakan bisa dirasakan oleh masyarakat banyak dan dampaknya semakin besar untuk pembangunan nasional atau pembangunan daerah ke depan,” kata Prof. Andy.

Ketua Pelaksana ICoPAG 2025, Aulia Luqman Aziz SS., S.Pd., M.Pd., mengatakan, konferensi dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama, seminar, dilaksanakan pagi. Sementara sesi kedua digelar presentasi paralel bagi peserta yang mengirimkan makalah.

Baca Juga: UB Forest Trail Run Diikuti Ratusan Orang, Peserta Termuda Melibas Trek Kurang dari 2 Jam

“Karena paralel, kami siapkan delapan ruangan yang terpisah. Peserta mempresentasikan paper dengan tema masing-masing,” kata Luqman.

Dia mengungkapkan, ICoPAG tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun ini, panitia melibatkan mahasiswa UB asal mancanegara mengikuti sesi seminar. Mereka datang dari berbagai negara, di antaranya Jerman, Yaman, Madagaskar, Nigeria, Afganistan, Pakistan, dan Malaysia. “Total ada 30 mahasiswa,” ungkap dosen Administrasi Pendidikan FIA UB ini.

Photo
Photo

Selain itu, yang membedakan lagi adalah keterlibatan mahasiswa asing itu menjadi moderator sesi presentasi paralel. Dari 8 ruangan, ada 6 ruangan yang dimoderatori mahasiswa asing asal Pakistan dan Madagaskar.

Menurut Luqman, keterlibatan mahasiswa asing sebagai moderator menjadikan konferensi lebih bernuansa internasional. Sehingga semua presenter terdorong untuk menggunakan bahasa Inggris dalam menyampaikan gagasan-gagasannya.

Dari konferensi ini, Luqman berharap, masyarakat Indonesia dan luar negeri semakin mengenal UB sebagai salah satu kampus negeri terkemuka di Tanah Air. Yang kedua, para akademisi yang melakukan presentasi bisa menambah keilmuannya.

“Mereka mendengarkan paparan dari sesama akademisi yang lain, sehingga pengetahuannya semakin kaya dan perspektifnya semakin luas,” terangnya.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#universitas #kampus #Universitas Brawajiya #ub