JP Radar Kediri- Tidak mudah memimpin dan mengelola institusi perusahaan daerah. Termasuk PDAM atau BUMD Air Minum. Selain kerap dikesankan dengan nuansa nepotisme, PDAM sering dikesankan sebagai “ATM”-nya kepala daerah.
Berbagai penilaian dan stigma “miring” inilah yang menjadi tantangan Priyo Sudibyo, S.E, S.Sos, MM, ketika dilantik menjadi Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tugu Tirta Kota Malang (dulu PDAM Kota Malang). Dia punya tugas berat, menepis dan menghilangkan semua anggapan serta stigma “miring” tersebut.
“Kuncinya adalah harus transparan dan akuntabel,” kata Priyo ketika memberikan kuliah tamu di depan Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Islam Malang (UNISMA), pada kegiatan Kajian Produktif dan Inovatif (Kaprodi) yang diadakan di Ruang Seminar Gedung B lantai 7 UNISMA, kemarin (7/10).
Kaprodi adalah kegiatan rutin yang diadakan CSSP (Centre of Studies on Strategic Policies), Lembaga Pusat Studi dan Kajian di FIA UNISMA.
Pada kesempatan itu Priyo menceritakan pengalamannya ketika awal-awal memimpin Perumda Tugu Tirta.
“Saya saat itu sempat bingung. Mau memulai dari mana. Karena saya sama sekali tidak diberikan catatan dari pimpinan sebelumnya. Misalnya catatan aset atau pun utang,” ceritanya.
Saat itu, yang pertama kali dilakukan Priyo adalah berkoordinasi dengan pihak auditor dari luar yang independen dan kredibel.
“Saya minta semua diaudit secara transparan. Dari situlah saya baru tahu kondisi (Perumda) yang sebenarnya,” ujarnya.
Kondisi inilah yang selanjutnya dijadikan pijakan Priyo untuk menata Perumda Tugu Tirta. Mulai dari penataan sumber daya manusia (SDM), tata kelola perusahaan hingga transparansi anggaran.
“Ketika kami pertama kali rapat dengan DPRD Kota Malang, kami blak-blakan membeberkan kondisi Perumda hasil dari audit tadi. Saat itu mereka kaget, kata mereka baru kali ini PDAM (Perumda Tugu Tirta) blak-blakan membeberkan data kepada dewan,” katanya.
Selama setahun lebih memimpin Perumda Tugu Tirta, upaya perbaikan dan penataan organisasi yang dilakukan Priyo mulai membuahkan hasil. Satu per satu terobosan yang terkait dengan pelayanan publik dilakukan, dan prestasi demi prestasi berhasil diukir. Misalnya, Perumda Tugu Tirta berhasil menjadi BUMD Air MInum pertama di Indonesia yang menyediakan anjungan siap minum pada event olahraga daerah (Porprov).
Capaian ini diakui dan diberikan penghargaan oleh MURI (Museum Rekor Indonesia). Selain itu, Perumda Tugu Tirta juga berhasil membangun instalasi untuk air halal dan aman yang tersebar di 163 titik fasilitas umum di Kota Malang. Kualitas airnya diawasi secara rutin, sesuai dengan Permenkes 2 Tahun 2023.
Perumda Tugu Tirta juga memudahkan pelanggan dengan cara menciptakan dan melaunching konstruksi “Meter Horizontal Atas”. Dengan adanya konstruksi “Meter Horizontal Atas”, sangat memudahkan bagi pelanggan yang berada di pemukiman padat penduduk yang sangat terbatas adanya lahan kosong.
“Dengan adanya Meter Horizontal ini, tempat meteran airnya tak butuh tempat luas. Cukup ditempel di tembok. Ini temuan kami, baru pertama di Indonesia. Dan sudah kami patenkan,” kata Priyo.
Bagi pelanggan yang ingin memberikan informasi atau menyampaikan keluhan atas pelayanan air, Perumda Tugu Tirta baru-baru ini melaunching TANIA (Tugu Tirta Asisten Informasi dan Aduan). Ini adalah sebuah aplikasi berbasis AI yang tujuannya untuk percepatan respon dan memberikan service yang excellence kepada pelanggan.
“Ini juga dinilai sebagai Asisten Virtual berbasis AI pertama di Indonesia untuk pelanggan BUMD Air Minum,” katanya.
Terobosan paling gres yang dilakukan Perumda Tugu Tirta untuk melayani masyarakat adalah melaunching “Anjungan Air Siap Minum Mandiri”. Program ini bekerjasama dengan Diskopindag (Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan) Kota Malang, Koperasi Merah Putih dan Mizuone. Alat ini digunakan untuk pengisian ulang galon dan botol minum dengan biaya sangat terjangkau.
“Ke depan kami akan memasang alat ini ke semua pasar dan kelurahan di Kota Malang. Saat ini, baru ada di Pasar Klojen dan Kajoetangan Heritage,” ujarnya. (*)
Editor : Mahfud