KEDIRI, JP Radar Kediri – Sebuah inovasi menarik datang dari dunia pendidikan tinggi. Tim pengabdi gabungan dari Universitas Negeri Malang (UM) dan Universitas Merdeka Malang berhasil meraih pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) tahun 2025 untuk menjalankan program pengabdian kepada masyarakat.
Program ini menyasar pengembangan produk berbasis limbah kulit nanas di UMKM PASS Nanas, yang berlokasi di Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Tim ini terdiri dari tiga dosen—dua dari UM dan satu dari Universitas Merdeka Malang—serta dua mahasiswa yang aktif terlibat dalam kegiatan lapangan.
Kolaborasi lintas kampus ini menunjukkan semangat gotong royong akademisi dalam memberdayakan pelaku UMKM lokal.
INFORMASI PENDAFTARAN KOMPETISI KOMPETENSI AKADEMIK 2025
Apa itu kompetisi kempetensi akademik? Baca di sini
Daftar di link berikut: https://rkomnibus.com/
Contac person: 0813-3563-2111 (heri)
Dalam kegiatan pengabdiannya (24 Agustus 2025), tim menyerahkan dua alat utama untuk mendukung proses produksi di UMKM PASS Nanas, yaitu mesin semi-automatic cup sealer untuk pengemasan produk minuman dan mesin heavy duty blender yang digunakan khusus untuk mengolah limbah kulit nanas menjadi produk baru berupa nata de pina—bahan pangan mirip nata de coco, namun berbasis sari kulit nanas.
Selain distribusi alat, mitra mendapatkan pelatihan bagaimana cara mengoperasikan mesin serta perawatan mesin yang disampaikan oleh Muhammad Ilman Nur Sasongko dibantu oleh dua mahasiswa D4 Teknologi Rekayasa Manufaktur, Andini Sofia Herawati dan Moh. Na’im Azhar.
Tak hanya berhenti pada distribusi alat, tim juga menyelenggarakan pelatihan pencatatan keuangan sederhana, termasuk memperkenalkan metode pembukuan digital untuk mempermudah pelaku UMKM dalam melacak arus kas dan keuntungan usaha.
Selain itu, tim juga memberikan pelatihan digital marketing dan melakukan upgrade pada kemasan produk, agar tampilan produk UMKM PASS Nanas semakin menarik dan berdaya saing di pasar lokal maupun daring yang dilakukan oleh Fitriana Santi – dosen Universitas Merdeka Malang.
“Kulit nanas biasanya dibuang begitu saja, padahal mengandung potensi serat dan nutrisi yang bisa diolah. Dengan mesin blender berkapasitas besar, kulit nanas dapat diolah menjadi nata de pina yang bernilai jual tinggi,” ujar Dewi Izzatus Tsamroh, ketua tim pengabdi.
Program pengabdian ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi UMKM, tetapi juga membawa perubahan pada pola pikir pelaku usaha dalam mengelola limbah dan mengembangkan produk turunan berbasis bahan alami.
Inisiatif ini juga menjadi langkah konkret untuk mendukung ekonomi sirkular dan praktik bisnis berkelanjutan di sektor agroindustri lokal.
Dengan pendampingan berkelanjutan, tim pengabdi berharap agar UMKM PASS Nanas dapat menjadi role model bagi UMKM lain di Kediri maupun daerah sekitarnya, khususnya dalam hal pemanfaatan limbah pertanian menjadi produk yang inovatif dan bernilai ekonomi tinggi.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah