Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (15): Rumah Gambaran Perjalanan Duniawi ke Spiritual

rekian • Minggu, 8 Juni 2025 | 01:29 WIB

LAWAS: Rumah Limasan model lama di Kecamatan Banyakan.
LAWAS: Rumah Limasan model lama di Kecamatan Banyakan.
KEDIRI , JP Radar Kediri- Masyarakat Jawa memiliki pandangan, rumah adalah jagad alit. Sedangkan dunia adalah jagad ageng. Oleh karena itu, rumah menjadi bagian penting dalam kehidupan sebagai representasi alam semesta. 

Rumah tidak hanya dikenal punya banyak bentuk. Seperti joglo, limas, bentuk kampung, tarub, hingga bentuk PE. Tapi juga setiap bangunan rumah memiliki pembagian ruangan. 

Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (14): Bangunan Rumah Jawa Kuno, Manifestasi Budaya

Wikan Sasmita, dosen Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri membagi ruangan rumah Jawa menjadi delapan bagian. Yakni lawang pintu, pendapa, pringgitan dan emperan. Kemudian ada dalem (griya ageng), senthong, dandong dan pawon (dapur). 

Beberapa peneliti menemukan rumah berkonsep Jawa yang banyak ditemukan di Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Di sana bangunan rumahnya terdiri dari pendapa, pringgitan, griya ageng, pawon dan gandok. Semua ruang itu terhubung satu sama lain. Sehingga memberikan kesan tentram bagi mereka yang menempatinya.   

Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (13): Era Kolonial Ciptakan Kota Baru  

Wikan menjelaskan makna setiap bagian rumah. Mulai dari pintu yang merupakan akses untuk keluar masuk tamu. Kemudian diawali dengan pendapa, pada bagian ini terletak di depan rumah. Biasanya dipakai untuk aktivitas formal. Misalnya pertemuan, tempat pagelaran seni wayang, dan tari-tarian hingga rumah upacara adat. 

“Ruangan ini (pendapa, Red) menunjukkan sikap akrab dan terbuka,” ujar Wikan. Kemudian Pringgitan, bagian ini merupakan lorong untuk jalan masuk ke omah njero. Terletak antara pendapa dan rumah dalam (griya ageng dalem). Biasanya dipakai untuk ruang yang lebih pribadi dan tempat berkumpul keluarga. 

Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (12): Pasar Setonobetek Penyangga Ekonomi di Era Mataram

Lalu ada kaisar. Ini menjadi tempat penghubung antara pringgitan dan omah njero. Teras depan ini digunakan untuk menerima tamu, tempat bersantai.

Lalu ada senthong-kiwa. Berada di sebelah kanan. Terdiri dari beberapa ruangan. Yakni tempat yang berfungsi sebagai kamar tidur. Biasanya untuk tempat tidur anak perempuan. 

Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (11): Tata Ruang Pemerintahan Gunakan Konsep Macapat

Senthong-tengah. berada di bagian dalam. “Sering juga disebut pedaringan, boma, krobongan,” lanjut Wikan. Tempat ini berfungsi untuk menyimpan benda-benda berharga, seperti harta keluarga atau pusaka semacam keris. Ruang ini paling sakral karena diperlukan sebagai ruang spiritual atau ritual (pancer kekuatan ilahi).

Senthong-tengen, berada di sebelah kiri. Biasanya untuk tidur orang tua. Kemudian Gandok, merupakan ruang yang berfungsi untuk sanak saudara. Seorang saudara dari Istri ataupun suami biasanya ditempatkan di gandok kiwa. 

Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (10): Singonegaran Pernah Jadi Ibu Kota Kediri

Sedangkan gandok tengen biasanya digunakan untuk tamu, tetangga, atau teman yang sudah dianggap saudara. Terakhir adalah pawon. digunakan untuk memasak biasanya. Biasanya di sebelahnya ada kamar mandi atau toilet. (bersambung) 

Untuk mendapatkan berita- berita terkini  Jawa Pos  Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.  

Editor : rekian
#Duniawi #kediri #lintas negara #indonesia-malaysia #warisan #simposium internasional