Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (14): Bangunan Rumah Jawa Kuno, Manifestasi Budaya

rekian • Sabtu, 7 Juni 2025 | 23:23 WIB

JAGA TRADISI: Atap rumah tradisional Jawa masih banyak ditemui di wilayah Kediri dan sekitarnya.
JAGA TRADISI: Atap rumah tradisional Jawa masih banyak ditemui di wilayah Kediri dan sekitarnya.
KEDIRI, Jawa Pos Radar Kediri- Salah satu peninggalan budaya Jawa yang kini mulai terkikis saat adalah rumah. Dulu, masyarakat Jawa Kuno menganggap rumah bukan hanya sekadar tempat tinggal. Ada nilai-nilai budaya dan spiritual di setiap bangunannya. 

Wikan Sasmita, dosen Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri yang melakukan penelitian rumah Jawa Kuno menyebutkan, setiap bangunannya punya filosofi. “Rumah bahasa Jawanya adalah omah,” ujarnya. 

Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (13): Era Kolonial Ciptakan Kota Baru  

Kata omah berasal dari kata om dan mah. Om artinya angkasa sifat laki-laki. Dan mah artinya tanah atau Siti bersifat perempuan. “Perwujudan keduanya bernilai guna dan citra,” ungkap Wikan. Jadi rumah itu harus berguna. Menjadi gambaran yang berwujud keindahan . 

Dia menambahkan, arsitektur rumah memiliki nilai kosmologis dan estetis. Kosmologi berarti keteraturan dan keseimbangan atau harmoni. Sedangkan estetis, memiliki nilai rasa dan keindahan. “Di Kediri Raya, warisan arsitektural ini memperlihatkan integrasi antara manusia, alam, dan nilai spiritual,” terang lulusan Universitas Negeri Malang itu. 

Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (12): Pasar Setonobetek Penyangga Ekonomi di Era Mataram

Arsitektur tradisional merupakan perwujudan kosmologi lokal. Yakni konsep tentang kehidupan mistis masyarakat Jawa. Biasanya selalu dikaitkan erat dengan kepercayaan terhadap kekuatan supranatural di luar dirinya sendiri. Baik kekuatan alam atau Tuhan.

Masyarakat Jawa memandang dunia sebagai sistem kosmik. Wikan menyebut sistem tersebut terdiri dari tiga alam. Terdiri dari alam atas atau swarga. Lalu alam tengah yakni bumi. Dan alam bawah yang disebut dengan nama niskala. 

Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (11): Tata Ruang Pemerintahan Gunakan Konsep Macapat

Pemahaman itulah yang kelak memengaruhi cara masyarakat Jawa membangun rumah tempat mereka tinggal. Dia menambahkan, setiap elemen arsitektural mulai dari struktur hingga tata ruang dirancang dengan memperhatikan hubungan yang harmonis. Yaitu antara manusia, alam, dan Tuhan.

Karena itu setiap arsitektur rumah Jawa Kuno akan disimbolkan lewat berbagai bentuk, orientasi, dan setiap ruangannya syarat makna. Dan bentuk rumah yang dibangun dilandasi nilai filosofi yang mendalam.

Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (10): Singonegaran Pernah Jadi Ibu Kota Kediri

Adapun bentuk rumah masyarakat Jawa adalah rumah joglo, rumah limasan, dan rumah bentuk kampung. Lalu ada pula rumah bentuk masjid, jujug, atau tarub. Dan terakhir adalah rumah bentuk panggang PE. “Rumah bentuk panggang PE ini yang paling sederhana,” lanjut Wikan. 

Semua bentuk tersebut menjadi pakem bagi masyarakat Jawa saat mendirikan rumah. Sayangnya, saat ini, rumah yang memiliki nilai-nilai budaya peninggalan leluhur itu berangsur menghilang berganti bergaya Eropa.(bersambung)  

Editor : rekian
#budaya #kediri #jawa kuno #lintas negara #indonesia-malaysia #warisan #simposium internasional #Bangunan Rumah #Manifestasi