Di Kediri, konsepnya agak sedikit berbeda. Alun-alun sebagai tempat berkumpulnya masyarakat semua lapisan masih ada. Dan bersanding dengan Masjid Agung yang berada di sisi barat dan kantor pemerintah di sebelah timur.
Kantor pemerintahannya adalah pendapa milik Pemkab Kediri. Belakangan diberi nama Pendapa Panjalu Jayati. Merupakan bangunan penting yang dulu menjadi simbol pusat pemerintahan.
Kemudian yang agak terpisah adalah pasar besarnya. Sekarang adalah pasar tradisional Setonobetek. Keberadaannya, hanya sekitar 1,3 kilometer dari alun-alun. Dulu pasar tersebut merupakan pasar besar di Kediri. Sekarang di sekitar alun-alun muncul pasar modern seperti swalayan dan mall.
Nah, yang sedikit berbeda adalah keberadaan tempat tahanan. Rektor Universitas Nusantara PGRI Zainal Afandi menyebut jika tahanan yang seharusnya berada di sekitar alun-alun sudah bergeser jauh. Kini tempatnya berada di barat sungai Brantas.
Zainal memperkirakan, keberadaan tempat tahanan yang berada di barat sungai Brantas itu sudah kena sentuhan kolonial. Dia memperkirakan, keberadaan tahanan di barat Sungai itu agar lebih dekat perkantoran yang dibentuk kolonial Belanda.
“Seperti kita ketahui, di barat Sungai itu ada banyak peninggalan Belanda. Selain Gereja Merah juga ada bangunan SMAN 1 Kota Kediri, Kantor PM,” ujarnya. Sementara tempat tahanan itu berdekatan dengan kantor yudikatif. Mulai dari kejaksaan, pengadilan, dan juga kepolisian.
Bagi Zainal, idealnya letak tahanan itu berada sekitar Penataran Hotel. Namun jejaknya belum ditemui. Konon, pada masa itu, Belanda menumbuhkan kota baru di barat Sungai. Tujuannya untuk memisahkan aktivitas mereka dengan pribumi yang masa itu tinggal di wilayah timur sungai.
Saat simposium internasional yang digelar UNP Kediri pada Senin (5/5) lalu, terungkap konsep Macapat kini berada di alun-alun Blitar dan Nganjuk. Bahkan kedua tempat itu sesuai dengan konsep catur dengan empat sisi mata anginnya.(bersambung)
Editor : rekian