Perpindahan itu ibu kota pemerintah itu disebabkan karena masyarakat percaya, bahwa ibu kota yang telah ditaklukan musuh pasti hilang daya magisnya. Begitupun ketika masuk era transisi antara pasca-Majapahit dan Kadipaten Kediri.
Masa pergantian itu terjadi sekitar perempat kedua abad XVI hingga medio abad XVII. Menurut Rektor Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri Zainal Afandi, pada masa pertumbuhan Islam itulah Kediri menjadi suatu pemerintahan daerah yang dipimpin oleh pejabat daerah setingkat rangga. “Dalam bahasa Jawa baru disebut ronggo,” ujar Zainal.
Ini menjadi petunjuk untuk toponimi tempat yang kini menjadi Kelurahan Ngronggo dari kata ronggo. Zainal meyakini jika pada itu, Pusat Pemerintahan Karanggan Kediri berada di Kelurahan Ngronggo dan sekitarnya.
“Sayangnya, tidak banyak informasi yang diperoleh mengenai Karanggan Kediri ini,” ucapnya.
Pemerintahan Karanggan itu tidak berlangsung lama. Ekspansi kasultanan Mataram pada era pemerintahan Sultan Agung berhasil menaklukkan Karanggan Kadiri pada 1614.
Barulah pada masa Kasultanan Mataram, Kadiri berubah menjadi Kadipaten. Sultan Agung lalu membentuk pemerintahan setingkat Kadipaten di Kediri. Kala itu di bawah naungan Kasultanan Mataram yang dipimpin pejabat daerah bergelar Adipati.
“Adipati pertama adalah Pangeran Purbaya,” lanjut Zainal. Dia adalah putra panembahan senapati yang nama kecilnya adalah Raden Damar atau Joko Umbaran.
Di bawah kepemimpinan Adipati Pangeran Purbaya itulah pusat pemerintahan kembali bergeser. Ibu Kota pindah ke Setono Gedong. Yakni di kawasan Jalan Doho.
Alasan pemindahan itu karena lokasi Setono Gedong juga strategis. Dekat dengan pasar. Dan pada masa itu juga tidak terlalu jauh dari pelabuhan. Bahkan Zainal menyebut jika Masjid Setono Gedong dulunya adalah masjid Jamik. Dan konsep perkotaannya menggunakan Macapat.
“Ini lazim menjadi tata ruang pusat pemerintah,” ujarnya. Selain itu hal lain yang menunjukkan penggunaan konsep macapat adalah keberadaan pasar besar Setono Betek Kadipaten Kediri dan disertai dengan Alun-Alun. Semuanya adalah indikasi tata ruang berkonsep macapat.(bersambung)
Editor : rekian