Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (9): Panjalu Runtuh Ibu Kota Dahanapura Direlokasi

rekian • Jumat, 16 Mei 2025 | 19:05 WIB
SIMBOL KESUBURAN: Sungai Brantas membelah Kediri menjadi dua wilayah. Dulu Brantas menjadi jalur perdagangan.
SIMBOL KESUBURAN: Sungai Brantas membelah Kediri menjadi dua wilayah. Dulu Brantas menjadi jalur perdagangan.

KEDIRI, JP Radar Kediri- Kerajaan Pangjalu (Panjalu) berakhir pada 1222 Masehi setelah dikalahkan Ken Arok, Kerajaan Tumapel (Singasari).

Runtuhnya Kerajaan Kediri sekaligus menggeser ibu kota Dahanapura (Daha) yang semula berada di wilayah Pagu, Kabupaten Kediri pindah ke Singonegaran, kini di Kota Kediri. 

Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (7): Peran Besar Kediri di Panggung Sejarah Dunia 

Perpindahan Ibu Kota Daha itu menjadi salah satu bentuk adanya pergeseran identitas politik dan kekuasaan pada masa itu.

Menurut Rektor UNP Kediri Zainal Afandi, setelah keruntuhan Pangjalu maka Kediri tetap menjadi kerajaan. Yakni salah satu dari delapan kerajaan bawahan Tumapel. 

Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (6): Pengaruh Budaya Material Jawa di Tanah Melayu

“Sudah tidak lagi memakai nama Pangjalu (panjalu, Red) tetapi sudah berganti nama Kerajaan Kediri,” terang Zainal. Hal itu terdapat di prasasti Mula Malurung. 

Dalam prasasti itu menyebut Kertanegara sebagai Raja Muda di Kadiri. Dan menjadi salah satu dari 8 kerajaan bawahan Tumapel ketika Wisnuradhana Mapanji Smining Rat berkuasa. 

Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Budaya Lintas Negara Indonesia-Malaysia (5): Masyarakat Jawa Diklasifikasikan sebagai Melayu

Pada era, nama Dahanapura masih menjadi nama ibu kota kerajaan. Tetapi tempatnya di relokasi. “Kota Dahanapura (pusat kerajaan, Red) direlokasi ke arah barat,” ujar Zainal. 

Kenapa harus pindah lokasi? Zainal menyebut jika ibu kota yang lama sudah kehilangan magisnya. Ini menjadi tradisi, setiap kali satu wilayah ditaklukan oleh kerajaan lain maka lokasinya akan berganti karena kehilangan magis.  

Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Budaya Lintas Negara Indonesia-Malaysia (4): Hijrah ke Negeri Jiran, Tolak Politik Tanam Paksa

Kemudian alasan pindah ke arah barat yakni di Singonegaran kini masuk wilayah Kota Kediri karena tempat tersebut dianggap punya nilai lebih. Dianggap lebih subur karena dekat dengan aliran sungai. 

Selain itu juga dekat dengan pelabuhan. Pada masa itu ada dua pelabuhan besar di aliran Sungai Brantas. Selain Jongbiru, juga ada Bandar yang sekarang administrasi pemerintahannya berada di Kota Kediri. 

Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Budaya Lintas Negara Indonesia-Malaysia (3): Awal Mula Masyarakat Jawa Mendarat ke Negeri Jiran

Sungai Brantas dianggap sebagai hal penting kala itu jalurnya digunakan untuk lalu lintas perdagangan.

Dan tempatnya pasti dianggap strategis. Perpindahan ibu kota itu menunjukkan bahwa budaya masyarakat Jawa di Kediri pada masa itu tidak lepas dari kebiasaan mereka menjadi masyarakat agraris.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#jenggala #kediri #lintas negara #indonesia-malaysia #unp kediri #warisan #Panjalu #simposium internasional #Dahanapura #singasari #Ken Arok