Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (8): Masa Panjalu, Ibu Kota Dahanapura di Barat Gunung Kelud

rekian • Jumat, 16 Mei 2025 | 12:00 WIB

 

SAKSI BISU: Arca Totok Kerot bekas peninggalan sejarah yang kini berada di Desa Bulupasar, Pagu.
SAKSI BISU: Arca Totok Kerot bekas peninggalan sejarah yang kini berada di Desa Bulupasar, Pagu.

KEDIRI, JP Radar Kediri- Sejarah panjang  persebaran budaya Jawa di dunia tak lepas dari nama besar Kediri.

Nama Kediri muncul pada prasasti Harinjing B. Saat itu pada 921, hanya sebuah desa. Kemudian pada 1042 berubah menjadi kerajaan. 

Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (7): Peran Besar Kediri di Panggung Sejarah Dunia 

Karena perjalanan panjang itulah, Kediri memiliki peran penting dalam persebaran budaya Jawa.

Menurut Rektor UNP Zainal Afandi, yang menjadi keynote speaker pada simposium internasional pada Senin (5/5) lalu, Kediri mulai menjadi kerajaan ketika Airlangga membagi dua kerajaannya.

Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Lintas Negara Indonesia-Malaysia (6): Pengaruh Budaya Material Jawa di Tanah Melayu

Yaitu Pangjalu (dikenal Panjalu) dan Jenggala. “Pangjalu itu identik dengan Kediri,” terangnya. 

Pangjalu pada masa itu merupakan wilayah kerajaan yang cukup besar. Itu disebabkan Ibu Kota Dahanapura berada di tempat Airlangga berkedudukan.

Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Budaya Lintas Negara Indonesia-Malaysia (5): Masyarakat Jawa Diklasifikasikan sebagai Melayu

Kemudian diserahkan kepada anaknya yang tua. Sementara kerajaan Jenggala, Ibu Kota Kahuripan diserahkan kepada anak bungsunya.  

Zainal menjelaskan lokasi Kota Dhanapura berada di lereng Gunung Kelud. Yakni berada di barat Gunung Kelud. Sekarang lokasinya ada di wilayah Pagu, Gurah dan Gampengrejo sekitarnya. 

Lokasi tersebut selaras dengan bukti pendukung yang kini banyak ditemukan. Yakni temuan sebaran arkeologis yang dibuat pada masa Pangjalu.

“Ada temuan seperti Arca Totok Kerot dan situs Calon Arang,” terang Zainal. 

 Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Budaya Lintas Negara Indonesia-Malaysia (3): Awal Mula Masyarakat Jawa Mendarat ke Negeri Jiran

Semua temuan itu memperkuat bahwa kawasan barat Gunung Merapi Kelud itu menjadi Kota Dahanapura.

Sekarang, kawasan ini menjadi wilayah Pemerintahan Daerah Kabupaten Kediri. Dan yang menarik adalah adanya temuan arung di bawah tanah.  

Keberadaan arung tersebut menjadi salah satu bukti jika tradisi dan kebiasaan masyarakat di Kediri adalah agraris. Dan budaya tersebut masih melekat hingga sekarang.

Bahkan telah menyebar ke luar pulau yang dibawa saat terjadi migrasi besar-besaran ke berbagai belahan Asia Tenggara.

Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Budaya Lintas Negara Indonesia - Malaysia (1): Jawa Jadi Identitas Bangsa yang Kokoh   

Ditambahkan Zainal, temuan arung tersebut merupakan pipa saluran air yang ada di bawah tanah. Lokasinya berada di daerah Gampengrejo dan Pagu.

Selain untuk pertanian, saluran tersebut sepertinya juga digunakan untuk aliran air bersih ke kerajaan.

 

Editor : rekian
#kediri #lintas negara #indonesia-malaysia #gunung kelud #unp kediri #warisan #Panjalu #Zainal Afandi #simposium internasional #Dahanapura