Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Budaya Lintas Negara Indonesia-Malaysia (4): Hijrah ke Negeri Jiran, Tolak Politik Tanam Paksa

rekian • Minggu, 11 Mei 2025 | 04:33 WIB
Foto bersama masyarakat Jawa di Malaysia serta peta pesebarannya ke Selangor. Hingga saat ini, penduduk asli Jawa membuat perkampungan yang tersebar di beberapa wilayah dari Johor, Perak, dan Melaka.
Foto bersama masyarakat Jawa di Malaysia serta peta pesebarannya ke Selangor. Hingga saat ini, penduduk asli Jawa membuat perkampungan yang tersebar di beberapa wilayah dari Johor, Perak, dan Melaka.

KEDIRI, JP Radar Kediri- Pada 1525, pedagang Jawa di Melaka menyebar ke berbagai tempat. Perpindahan itu disebabkan karena konflik dengan Portugis.

Era itu menjadi akhir gelombang pertama masyarakat Jawa di Malaysia. Hijrah besar-besaran kemudian terjadi dua abad kemudian atau di akhir abad 17.

Kedatangan masyarakat Jawa ke Negeri Jiran pada akhir abad 17 itu disebut sebagai gelombang kedua.

Menurut Alice Sabrina Ismail, Profesor dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM), kedatangan besar-besaran itu terjadi hingga awal abad 19.

“Ada dua faktor yang menyebabkan masyarakat Jawa hijrah besar-besaran di gelombang kedua,” lanjutnya.

Alasan pertama mereka berpindah dari Jawa ke Malaysia adalah karena pada masa itu terjadi gesekan masyarakat Jawa dengan penjajahan Belanda.

Penduduk Jawa menolak kondisi politik di Jawa yang menerapkan sistem tanam paksa karena dikuasai Belanda.

Kedua, penduduk Jawa datang beramai-ramai ke Negeri Jiran karena Inggris. Saat itu, Inggris yang menduduki tanah Malaysia menyediakan peluang kerja yang besar.

“Ini didukung dengan tanah-tanah sumber pertanian,” ucap Alice. Tanah pertanian itu bisa dimanfaatkan untuk menanam padi.

Kedatangan penduduk Jawa di Malaysia itu kemudian ditempatkan di Johor, Perak, Selangor, dan Melaka.

Keberadaan mereka masih terus eksis sampai sekarang. Selama berada di Negeri Jiran, mereka tetap mempertahankan budaya dan adat istiadat Jawa.

Karena jumlah masyarakat Jawa cukup banyak, mereka lalu mendirikan perkampungan Jawa. Lokasinya tersebar di beberapa wilayah seperti Johor, Perak, dan Selangor.

“Paling banyak di Johor,” kata Alice saat menjadi Keynote Speaker di acara Simposium Internasional yang digelar UNP Kediri di Hotel Grand Surya.

Alice lalu menyebut beberapa perkampungan Jawa di Johor yakni KAmpung Jawa, Johor Bahru; Kampung Jawa, Segamat; Kampung Teluk Jawa, Johor Bahru; Chamek, Daerah Kluang; dan Daerah Pontian.

Kemudian perkampungan Jawa di Perak terdiri dari Kampung Jawa, Ipoh; Kampung Gajah Perak, Tengah; Kampung Parit, Bagan Datuk; Kampung Sungai Manik, Teluk Intan; Kampung Seri Iskandar, Perak Tengah.

Dan terakhir adalah Selangor terdapat Kampung Jawa, Klang; Kampung Padang Jawa, Shah Alam; Parit Baru Baroh, Sabak Berenam; Sijangkakng, Kuala Langat; Ijok, Kuala Selangor. (rekian/Bersambung)

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#kediri #indonesia #tanam paksa #malaysia #negeri jiran #warisan budaya #simposium