Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Budaya Lintas Negara Indonesia-Malaysia (3): Awal Mula Masyarakat Jawa Mendarat ke Negeri Jiran

rekian • Jumat, 9 Mei 2025 | 18:46 WIB

 

MERAWAT TRADISI: Sebua komunitas yang lekat dengan simbol Jawa sedang menggelar musyawarah.
MERAWAT TRADISI: Sebua komunitas yang lekat dengan simbol Jawa sedang menggelar musyawarah.

KEDIRI, JP Radar Kediri- Masyarakat Jawa yang kental dengan falsafah kejawen menyebar luas ke penjuru dunia pada abad ke 14-15.

Pada masa kerajaan Majapahit, perdagangan maritim Jawa berkembang luas. Salah satu jalur perdagangan itu adalah ke Malaysia. 

Baca Juga: Hasil SNBT 2025 Akan Diumumkan Bulan Ini, Tanggal Berapa?

Alice Sabrina Ismail, Profesor dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM) menyebut, masuknya masyarakat Jawa ke Malaysia dibagi menjadi tiga kurun waktu.

Pertama kali pada abad 14-15, masuk ke Negeri Jiran lewat perdagangan di Melaka.  

Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Budaya Lintas Negara Indonesia -Malaysia (2): Masuknya Agama Hindu-Buddha ke Tradisi Kejawen

“Pedagang Jawa aktif di seluruh selat Melaka, berjualan rempah-rempah, hasil hutan, dan tekstil,” ucapnya. 

Sebagai pedagang Jawa yang datang ke Melaka, mereka tetap mempertahankan empat falsafah kejawen. Yakni rukun dan selaras, melakukan hal baik dengan terbuka serta bersikap akomodatif. 

Baca Juga: Jangan Kalah Start, Pantau Persyaratan Dan Prosedur Masuk Sekolah Kedinasan 2025 Di Sini!

Yang kedua rasa hormat, tidak menganggap kedudukan sosial masyarakat Jawa lebih tinggi dari masyarakat lain.

Semuanya sama. Kemudian ketiga adalah adab. Berkaitan dengan hati nurani dan akhlak dalam kehidupan. Terakhir adalah welas asih yakni kasih sayang dan berempati kepada sesama.

Baca Juga: Simposium Internasional di Kediri, Membincang Warisan Budaya Lintas Negara Indonesia - Malaysia (1): Jawa Jadi Identitas Bangsa yang Kokoh

Dalam hal ini, Alice menyebut, falsafah kejawen telah mengajarkan nilai-nilai etika. Serta menekankan hidup harmoni dengan alam. Yang biasa dikenal dengan memayu hayuning bawana. 

Karena membawa falsafah kejawen itulah, masyarakat Jawa bisa tumbuh dan bertahan dimana saja mereka berada. Termasuk ketika menginjakkan kaki di Melaka. 

Baca Juga: IIK Bhakti Wiyata Kediri Buka Prodi Baru S1 Fisioterapi, Calon Mahasiswa Baru Bisa Terima Diskon 20 Persen

Menurut Alice, pedagang Jawa yang ada di Melaka itu selalu berpindah-pindah. Mereka juga masuk ke Sumatera dan Semenanjung Melayu.

Lantas darimana saja para pedagang Jawa itu? Mereka berasal dari Pantai Tengah, Tuban, dan Jepara. Kemudian ada pula pedagang dari Gresik dan masyarakat Jawa Timur pada umumnya. 

Baca Juga: UNP Kediri Gelar Simposium Internasional, Wujud Kerja Sama dengan Kampus Malaysia

Pedagang masyarakat Jawa lalu berpindah ke pelabuhan lain di berbagai daerah pada 1525. Ada yang ke Johor, Demak, Aceh, hingga ke Banten. Sementara penduduk Jawa yang kemudian tetap tinggal di Melaka akhirnya diasimilasikan ke dalam populasi Melayu-Islam. 

Setelah kedatangan pertama itu, masyarakat Jawa kembali datang ke Malaysia beberapa abad kemudian. Kedatangan kedua itu dianggap sebagai hijrahnya orang Jawa secara besar-besaran ke Negeri Jiran.(bersambung)

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

 

Editor : rekian
#masyarakat jawa #kediri #indonesia #lintas negara #kejawen #malaysia #simposium internasional #jawa #negeri jiran #warisan budaya