KEDIRI, JP Radar Kediri- Wong jowo ojo sampek ilang jowone (orang Jawa jangan sampai hilang sifat Jawa) pepatah itu sering muncul di tengah masyarakat modern sekarang ini.
Pesan dari pepatah disampaikan agar masyarakat Jawa tetap menjaga nilai, budaya, dan identitas Jawa. Semua unsur dapat dilihat dari tradisi kejawen.
Baca Juga: Jangan Kalah Start, Pantau Persyaratan Dan Prosedur Masuk Sekolah Kedinasan 2025 Di Sini!
Menurut Alice Sabrina Ismail, Profesor dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM), kejawen adalah istilah Jawa yang merujuk pada kepercayaan spiritual dan budaya.
Akarnya adalah nilai tradisional, adat istiadat, dan pandangan orang Jawa melihat dunia.
Lebih jauh, kejawen merupakan kebudayaan yang mengajarkan tentang tata krama, atau aturan kehidupan yang baik.
“Kejawen mengajak orang menjadi lebih baik,” ujar Alice.
Inilah yang menarik minat Alice untuk mendalami pemahaman tentang kejawen. Banyak orang yang salah memaknainya.
Apalagi penilaian terhadap kejawen banyak dilihat dari apa yang dilakukan. Bukan memahami apa makna yang tersembunyi dibaliknya.
Seperti pertanyaan yang diajukan Aprilia, peserta Simposium Internasional Warisan Budaya Lintas Negara Indonesia-Malaysia. Dia menanyakan terkait tradisi kejawen.
"Bagaimana cara agar tradisi kejawen tidak bertentangan dengan nilai agama terutama Islam yang menjadi agama mayoritas di Kediri?" tanya Aprilia lewat daring aplikasi zoom meeting.
Menjawab pertanyaan itu, Alice mencontohkan bagaimana peninggalan kejawen tetap bisa bergandengan dengan agama. Salah satu yang masih bertahan adalah tradisi pemujaan pada roh leluhur.
Profesor dari UTM itu menjelaskan makna dari roh leluhur adalah menghormati orang tua. Kini dipakai umat beragama dengan cara kirim doa.
Di Islam ada yang namanya tahlil. Atau selamatan kenduri. Dilakukan untuk menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan. Metode seperti kenduri masih melekat hingga saat ini. Dan tidak hanya dilakukan orang Jawa tapi juga yang lainnya.
Jadi dari contoh itu, bukan tindakannya yang harusnya dinilai. "Tapi apa makna nilai dibaliknya," ungkap Alice. Sudah selayaknya nilai-nilai kejawen perlu diterapkan.
Baca Juga: UNP Kediri Gelar Simposium Internasional, Wujud Kerja Sama dengan Kampus Malaysia
Tidak hanya itu, Alice juga menceritakan asal usul usul kejawen, Dia menyebut, awal mula dimulai dari pra-Hindu sekitar abad ke 1 masehi.
Saat belum masuk agama dunia, orang Jawa awalnya percaya dengan kehadiran roh (hyang) sebagai penguasa alam semesta, nenek moyang, dan tempat-tempat suci.
Kemudian pada abad 8-14 Masehi, Jawa berada di bawah pengaruh Hindu-Budha. Terjadi penyesuaian unsur rohani dan falsafah Hindu-Budha dengan amalan asli Jawa.
Di era ini, Kejawen mulai menyerap agama Hindu-Budha dan mulai memperkenalkan ide agama, falsafah, dan alam semesta yang canggih.
Baca Juga: Fakultas Kedokteran Negeri dan Swasta Terbaik di Surabaya (Update 2025)
Alice mencontohkan beberapa pengaruh Hindu-Budha pada Kejawen adalah istilah dharma dan karma. Kemudian konsep manunggaling kawula gusti. Semua itu sudah dipengaruhi oleh agama dan falsafah dari Hindu-Budha.(bersambung)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian