Puisi: Wasta Riaman Gea dan Rembulan

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 17:31 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi 

Pada Sebuah Musim Yang Telah Gugur

Pada sebuah musim yang telah gugur,

pernah kita tanam harapan

di tanah yang kita kira akan selalu subur.

Kita tumbuh dari percakapan-percakapan kecil,

lalu perlahan menjadi sesuatu

yang tak sempat kita beri nama.


Kini, musim itu telah selesai.

Daun-daunnya jatuh satu per satu,

seperti kenangan yang kehilangan tempat

untuk kembali.

Aku masih mengingatmu,

bukan sebagai luka,

melainkan sebagai sore

yang pernah begitu hangat

sebelum senja mengajarkan perpisahan.


Barangkali memang begitu cara waktu:

ia tak benar-benar menghapus,

hanya membuat kita terbiasa

dengan sesuatu yang tak lagi ada.


Dan bila suatu hari

angin membawa kembali aroma musim itu,

aku tak akan lagi mencarimu.


Sebab aku telah mengerti

ada yang hadir untuk tinggal,

ada pula yang datang

hanya untuk menjadi kenangan.


Kita adalah musim yang pernah indah,

lalu gugur pada waktunya.


Dan aku,

akhirnya belajar melepaskan

tanpa harus membenci

apa yang pernah kucintai.

Biodata Penulis

Penulis puisi
Penulis puisi

Wasta Riaman Gea akrab disapa Wasta Merupakan mahasiswa perguruan tinggi di Universitas Negeri Medan. Penulis berasal dari Nias utara, Sumatera utara. Penulis memiliki ketertarikan dalam bidang sastra seperti puisi. Melalui karya sastra puisi, ide gagasan, perasaan dan pengalaman dapat dicertikan dan disampaikan dengan kerangka kata yang tersusun rapi danindah. Penulis memilki suatu motto yaitu ”Menang adalah Pilihan”. Media sosial penulis dapat dijumpai melalui Instagram : @wastariaman_.

Ilustrasi
Ilustrasi

Lembayung Dimata yang Lelah

Ada resah yang tak kunjung reda,

terbelenggu di simpul luka yang membatu.

Akankah semuanya berbeda,

jika aku tak pernah ada

atau hanya menjadi bayang-bayang

yang luput dari cahaya?


Kehampaan ini menjelma labirin,

di mana kebingungan jadi satu-satunya penunjuk arah.

Bahkan bermimpi pun kini

terasa seperti ditampar kenyataan,

pilu yang memaksa mata terjaga

meski hati lelah bertahan.


Wahai ruang ikhlas, berpihaklah padaku.

Tidakkah kau pun letih

menampung luka yang tak kunjung pulih?

Tidakkah hatimu telah terlalu pedih

untuk tetap menjadi tempat persembunyian

segala yang ingin kulupakan?

Biodata Penulis

Penulis puisi
Penulis puisi

Rembulan adalah Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan, Ia lahir di Medan pada tanggal 19 Mei 2006, Ia sangat menyukai segala sesuatu yang berbau seni, mulai dari musik, lukisan, bahkan puisi, menurutnya menulis puisi adalah salah satu healing terbaik ketika hati ingin menyampaikan kata kata yang tak dapat diucapkan, seiringberjalannya waktu Rembulan ingin menjelajahi dunia dan melihat segala keindahan yang dapat diabadikan melalui puisi.

Editor : Shinta Nurma Ababil
mahasiswa puisi