Pada Sebuah Musim Yang Telah Gugur
Pada sebuah musim yang telah gugur,
pernah kita tanam harapan
di tanah yang kita kira akan selalu subur.
Kita tumbuh dari percakapan-percakapan kecil,
lalu perlahan menjadi sesuatu
yang tak sempat kita beri nama.
Kini, musim itu telah selesai.
Daun-daunnya jatuh satu per satu,
seperti kenangan yang kehilangan tempat
untuk kembali.
Aku masih mengingatmu,
bukan sebagai luka,
melainkan sebagai sore
yang pernah begitu hangat
sebelum senja mengajarkan perpisahan.
Barangkali memang begitu cara waktu:
ia tak benar-benar menghapus,
hanya membuat kita terbiasa
dengan sesuatu yang tak lagi ada.
Dan bila suatu hari
angin membawa kembali aroma musim itu,
aku tak akan lagi mencarimu.
Sebab aku telah mengerti
ada yang hadir untuk tinggal,
ada pula yang datang
hanya untuk menjadi kenangan.
Kita adalah musim yang pernah indah,
lalu gugur pada waktunya.
Dan aku,
akhirnya belajar melepaskan
tanpa harus membenci
apa yang pernah kucintai.
Biodata Penulis
Wasta Riaman Gea akrab disapa Wasta Merupakan mahasiswa perguruan tinggi di Universitas Negeri Medan. Penulis berasal dari Nias utara, Sumatera utara. Penulis memiliki ketertarikan dalam bidang sastra seperti puisi. Melalui karya sastra puisi, ide gagasan, perasaan dan pengalaman dapat dicertikan dan disampaikan dengan kerangka kata yang tersusun rapi danindah. Penulis memilki suatu motto yaitu ”Menang adalah Pilihan”. Media sosial penulis dapat dijumpai melalui Instagram : @wastariaman_.
Lembayung Dimata yang Lelah
Ada resah yang tak kunjung reda,
terbelenggu di simpul luka yang membatu.
Akankah semuanya berbeda,
jika aku tak pernah ada
atau hanya menjadi bayang-bayang
yang luput dari cahaya?
Kehampaan ini menjelma labirin,
di mana kebingungan jadi satu-satunya penunjuk arah.
Bahkan bermimpi pun kini
terasa seperti ditampar kenyataan,
pilu yang memaksa mata terjaga
meski hati lelah bertahan.
Wahai ruang ikhlas, berpihaklah padaku.
Tidakkah kau pun letih
menampung luka yang tak kunjung pulih?
Tidakkah hatimu telah terlalu pedih
untuk tetap menjadi tempat persembunyian
segala yang ingin kulupakan?
Biodata Penulis
Rembulan adalah Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan, Ia lahir di Medan pada tanggal 19 Mei 2006, Ia sangat menyukai segala sesuatu yang berbau seni, mulai dari musik, lukisan, bahkan puisi, menurutnya menulis puisi adalah salah satu healing terbaik ketika hati ingin menyampaikan kata kata yang tak dapat diucapkan, seiringberjalannya waktu Rembulan ingin menjelajahi dunia dan melihat segala keindahan yang dapat diabadikan melalui puisi.
Editor : Shinta Nurma Ababil