Puisi: Husna Syafrida Putri & Nia Ramadani Siregar

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 20:25 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

KEPADA BUNGA YANG JAUH

(Husna Syafrida Putri)

Di penghujung senja yang berwarna jingga,
bunga matahari masih menengadah pada cahaya.
Mentari boleh saja perlahan tenggelam,
namun ia tetap berdiri,
menyimpan harapan di antara kelopaknya.

Aku adalah kupu-kupu,
dan kau adalah bunga matahari.
Aku pernah singgah di antara kelopakmu,
menikmati hangat yang diam-diam kau beri,
sebelum akhirnya sadar
bahwa sayapku harus membawaku pergi.

Jangan tanya apakah aku merindukanmu.
Sebab akan menjadi kebohongan
jika kukatakan tidak.

Bohong jika kukatakan
mataku tak pernah basah karena kepergianmu.
Bohong jika kukatakan
namamu tak lagi bersemayam dalam ingatanku.
Dan mungkin lebih dari semuanya,
bohong jika kukatakan
aku dapat menjalani hari
seolah kau tak pernah hadir.

Kini, ketika angin membawa sayapku
semakin jauh dari taman tempatmu mekar,
aku hanya mampu memandangmu
dari batas yang tak lagi bisa kulewati.

Langit menjadi saksi
ketika air mataku jatuh tanpa mampu kubendung,
bersamaan dengan langkahku
yang perlahan menjauh darimu.

Bukan karena rasa ini telah usai,
bukan karena aku tak ingin tinggal,
tetapi karena terkadang
mencintai seseorang
berarti berani melepaskannya.

Dan percayalah,
aku pergi bukan karena tak mencintaimu.
Aku pergi
justru karena aku terlalu mencintaimu.

Dan dari tempat yang jauh ini,
akan kusebut namamu dalam doa
bukan agar kau kembali kepadaku,
melainkan agar hidupmu
tetap dipenuhi cahaya.
Hiduplah lebih lama,
bersinarlah lebih terang.

Sebab aku,
kupu-kupu yang pernah singgah itu,
mungkin harus terbang menjauh,
tetapi tak pernah benar-benar lupa
jalan menuju bunga
yang pernah menjadi tempatku pulang.

Ilustrasi
Ilustrasi

AKU MASIH DI SINI

(Nia Ramadani Siregar)

Ada hari
ketika langkah terasa begitu berat,
seolah jalan di hadapan
tak pernah mengenal ujung.

Aku pernah bertanya kepada malam,
mengapa hidup harus sekeras ini?
Mengapa setiap kali ingin berhenti,
selalu ada alasan untuk kembali berdiri?

Malam menjadi saksi
atas lelah yang kusimpan seorang diri.
Air mata jatuh tanpa suara,
lalu pagi kembali menyapa.

Aku belajar,
bertahan bukan berarti harus selalu kuat.
Kadang, bertahan hanyalah
membuka mata dan mencoba sekali lagi.
Mungkin jalanku masih panjang,
mungkin kakiku masih gemetar.
Namun, selama masih ada langkah,
aku akan terus berjalan.

Biodata Penulis

Penulis puisi
Penulis puisi

Husna Syafrida Putri merupakan mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Medan. Dalam perjalanan berkaryanya, ia pernah terlibat sebagai kontributor dalam Antologi Pantun yang diterbitkan pada November 2024 bersama penulis lainnya. Pengalaman tersebut menjadi salah satu langkahnya dalam mengenal dan mengembangkan diri di dunia kepenulisan. Di sela kesibukannya sebagai mahasiswa, ia senang bermain game dan mendengarkan musik. Ia juga menyukai warna hitam yang menurutnya sederhana, tenang, dan memiliki karakter tersendiri. “Bangkit dan Bersinarlah Seperti Bintang.” Motto yang menjadi pengingat baginya untuk terus melangkah, tumbuh, dan percaya pada setiap proses yang dijalani.

Penulis puisi
Penulis puisi

Nia Ramadani Siregar merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan. Ia memiliki ketertarikan pada dunia sastra dan kepenulisan, khususnya puisi, sebagai ruang untuk menuangkan gagasan, perasaan, dan pengalaman ke dalam rangkaian kata. Dalam perjalanan berkaryanya, ia pernah terlibat sebagai kontributor dalam Antologi Pantun yang diterbitkan pada November 2024 bersama penulis lainnya. Selain itu, ia mengembangkan karya puisinya melalui publikasi di platform Medium. Bagi Nia, menulis bukan sekadar merangkai kata,
melainkan menjadi ruang untuk mengolah pengalaman, merekam kegelisahan, dan
menemukan makna dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Editor : Shinta Nurma Ababil
universitas negeri medan puisi sastra