Rumah
( Mutia Rahelsy )
Rumah bukan sekadar susunan bata
Yang berdiri di antara empat penjuru,
Bukan pula atap menempel erat
Yang menahan dari hujan dan terik matahari.
Rumah adalah bunyi
Yang diam-diam selalu ingin kudengar,
Tawa yang sederhana,
Dan seseorang yang bertanya,
“Sudah makan hari ini nak?”
Rumah adalah tempat
Di mana letih boleh diletakkan,
Air mata kesedihan tak perlu disembunyikan,
Dan diri sendiri tak harus berpura-pura
Menjadi kuat.
Namun terkadang,
Rumah juga bukan tentang tempat.
Ia adalah kenangan indah
Yang tetap hangat meski jarak memisahkan,
Pelukan yang masih terasa hangat
Meski tangan tak lagi menggenggam.
Sebab sejauh apa pun kaki ini melangkah,
Akan selalu ada satu tempat
Yang diam-diam dirindukan.
Dan ketika dunia terasa terlalu bising,
Aku hanya ingin pulang
Bukan karena rumah itu sempurna,
Melainkan karena di sanalah
Hatiku pernah belajar
Arti menjadi tenang.
Tentang Langkah yang Belum Selesai
( Mariana Yulistia Sinaga )
Pagi datang seperti biasanya,
Membawa cahaya dari balik jendela,
Sementara aku masih duduk sendiri,
Mencoba memahami ke mana
Arah hidup akan membawa kaki ini.
Ada banyak jalan di depan mata,
Tetapi tidak semuanya terlihat jelas.
Kadang aku ingin berlari,
Mengejar sesuatu yang belum pasti,
Namun sering kali langkahku berhenti
Karena takut salah memilih arah.
Aku pernah bertanya kepada langit,
Mengapa jalan yang kulalui
Tidak semudah yang kuharapkan.
Mengapa ada hari ketika senyum terasa berat,
Dan mengapa ada malam
Yang membuat pikiran terus berjalan
Meski tubuh ingin beristirahat.
Namun perlahan aku mengerti,
Hidup memang tidak selalu
Memberikan jawaban dengan cepat.
Ada hal-hal yang harus kutunggu,
Ada keinginan yang harus kulepaskan,
Dan ada impian yang harus kuperjuangkan
Meski hasilnya belum terlihat.
Aku belajar dari hujan
Yang tidak pernah memilih
Di mana ia harus jatuh.
Ia hanya turun,
Membasahi tanah yang kering,
Lalu pergi ketika waktunya tiba.
Mungkin aku juga seperti itu,
Tidak selalu tahu
Kapan harus bertahan
Dan kapan harus melepaskan.
Tetapi aku percaya,
Setiap kejadian yang datang
Pasti meninggalkan sesuatu
Untuk kupelajari.
Aku pernah melihat orang lain
Berjalan lebih jauh dariku.
Ada yang sudah menemukan tujuannya,
Ada yang telah mendapatkan
Apa yang selama ini diimpikan.
Sementara aku masih berdiri
Dengan pertanyaan yang sama.
Sempat terlintas dalam pikiranku,
“Apakah aku terlambat?”
Namun kemudian aku sadar,
Setiap orang memiliki waktunya sendiri.
Bunga tidak semuanya mekar bersamaan,
Dan matahari pun tidak selalu terbit
Pada waktu yang sama bagi setiap perjalanan.
Maka hari ini
Aku memilih untuk tidak terburu-buru.
Aku akan berjalan sebisaku,
Meski hanya satu langkah kecil.
Sebab langkah kecil yang dilakukan terus-menerus
Jauh lebih berarti
Daripada berhenti karena takut
Tidak bisa sampai.
Jika suatu hari aku merasa lelah,
Aku akan memberi diriku waktu
Untuk duduk dan menarik napas.
Bukan untuk menyerah,
Melainkan untuk mengingat kembali
Alasan mengapa aku memulai semuanya.
Aku ingin menjadi seseorang
Yang tidak hanya mengejar keberhasilan,
Tetapi juga menghargai perjalanan.
Menghargai setiap air mata,
Setiap kegagalan,
Setiap malam panjang,
Dan setiap doa yang pernah kupanjatkan
Dengan penuh harapan.
Sebab mungkin,
Yang membuat seseorang menjadi kuat
Bukan karena ia tidak pernah jatuh,
Melainkan karena setelah jatuh
Ia masih memiliki keberanian
Untuk berdiri kembali.
Dan jika nanti
Aku sampai pada tempat yang kuinginkan,
Aku tidak ingin melupakan
Diriku yang pernah berjalan sendirian.
Aku ingin menoleh ke belakang
Dan berkata kepada dirinya,
“Terima kasih
Karena sudah bertahan
Ketika semuanya terasa begitu berat.”
Untuk sekarang,
Biarlah langkah ini tetap berjalan.
Tidak perlu terlalu cepat,
Tidak perlu mengikuti langkah siapa pun.
Aku hanya perlu percaya
Bahwa selama aku masih berusaha,
Masih berdoa,
Dan masih mau mencoba,
Cerita ini belum selesai.
Karena mungkin,
Jalan yang panjang ini
Bukan sedang menjauhkanku dari tujuan,
Melainkan sedang mempersiapkanku
Untuk menjadi seseorang
Yang pantas menerimanya.
Jadi, aku akan terus melangkah,
Melewati pagi,
Melewati hujan,
Melewati malam yang sunyi,
Hingga suatu hari nanti
Aku menemukan tempat
Yang selama ini kucari.
Dan ketika hari itu tiba,
Aku akan tersenyum dan berkata,
Ternyata semua langkah yang pernah terasa sia-sia,
Adalah bagian dari perjalanan
Yang membawaku sampai di sini.
Biodata Penulis
Mutia Rahelsy, lahir di kota Subulussalam, 18 April 2006 akrab disapa Mutia merupakan
mahasiswa perguruan tinggi yang berasal dari Kota Subulussalam. Sangat menyukai sastra
terutama novel, puisi dan drama selain itu penulis juga aktif menulis artikel ilmiah. Adapun
hobi yang sering dilakukan adalah membaca, menulis dan mendengarkan musik. Memiliki
kepribadian yang cukup ceria dan sedikit introvert ini membuat saya suka menulis karya
sastra lainnya. Adapun motto hidup yang di pegang adalah “segala sesuatu yang telah terjadi semua atas kehendak Allah swt”.
Mariana Yulistia Sinaga lahir di Tarutung 12 Juli 2006. Saat ini merupakan mahasiswa
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan, ia
menulis puisi berjudul “Tentang Langkah yang Belum Selesai” menceritakan tentang
perjalanan hidup seseorang dalam menghadapi ketidakpastian, rasa leleah, kegagalan, dan
usaha untuk mencapai impiannya.