Puisi : Jalan yang Belum Usai
Pagi kembali membuka jalan,
Di antara halaman yang berganti,
Langkah berjalan mengejar harapan,
Meski arah belum pasti.
Di pundak tersimpan banyak harapan,
Bukan sekadar buku dan catatan,
Ada doa yang terus menguatkan,
Menjadi bekal dalam perjalanan.
Ada cita-cita di ujung perjalanan,
Ada wajah yang menaruh percaya,
Menunggu hasil dari setiap pengorbanan,
Dan langkah yang tak pernah menyerah.
Namun jalan tak selalu ramah,
Kadang ragu datang menyapa,
Menjadi kabut yang begitu resah,
Menyembunyikan arah di depan mata.
Ada hari beban terasa berat,
Saat berhenti tampak lebih mudah,
Namun hati kembali menguat,
Meski langkah berjalan perlahan.
Pagi tetap datang membawa terang,
Halaman kembali terbuka,
Jalan panjang masih terbentang,
Menunggu langkah untuk menjalaninya.
Maka langkah disusun perlahan,
Sedikit demi sedikit dijalani,
Meski belum tahu akhir perjalanan,
Tetap percaya pada hari nanti.
Sebab perjalanan tak selalu pasti,
Tak semua jalan memberi jawaban,
Kadang keberanian tumbuh dalam sepi,
Saat hati memilih terus berjalan.
Barangkali berhasil bukan soal terang,
Atau jalan yang tanpa rintangan,
Melainkan berani menyalakan terang,
Saat gelap datang menghadang.
Dan selama langkah belum berhenti,
Meski lelah masih terasa,
Jalan ini masih menanti,
Sebab perjalanan belum selesai adanya.
Biodata Penulis :
Rani Citra Lestari Zai lahir di Medan, 03 Januari 2007. Saat ini ia merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Medan. Ketertarikannya terhadap bahasa dan sastra membuatnya senang menuangkan berbagai pengalaman, perasaan, dan pengamatan ke dalam tulisan. Melalui karya sastra, ia berusaha menghadirkan cerita sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Puisi Jalan yang Belum Usai merupakan salah satu bentuk refleksi tentang perjalanan, keraguan, harapan, dan keberanian untuk terus melangkah meskipun tujuan belum sepenuhnya terlihat.
Puisi :Wajah yang Mengingatkanku pada Ibu
Pada pandangan pertama,
Aku langsung jatuh cinta.
Bukan hanya karena cantikmu,
Tetapi karena kebaikanmu
Yang terpancar dari wajahmu.
Wajahmu begitu lembut,
Mulus tanpa noda,
Membuat hatiku terdiam
Dan teringat pada seseorang
Yang sangat aku rindukan.
Seseorang yang telah pergi
Dan dipanggil Tuhan sejak aku kecil,
Dialah ibuku.
Mungkin itu alasan
Mengapa pandangan pertamaku padamu
Terasa begitu berbeda.
Karena di wajahmu,
Aku seperti menemukan kembali
Bayangan seorang ibu
Yang selama ini kurindukan.
Biodata Penulis :
Ayu Wandira Br Sitepu lahir di Langkat, September 2026.Ia menulis puisi, tentang seorang anak laki-laki jatuh cinta dengan seorang wanita karena wajah dan senyum wanita tersebutmengingatkannya kepala ibunda. Ia masih seorang mahasiswa di sebuah universitas yaitu universitas negeri Medan, fakultas Bahasa dan Seni.
Editor : Shinta Nurma Ababil