Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Second Account Instagram: Pelarian atau Kebebasan?

Internship Radar Kediri • Senin, 23 Juni 2025 | 13:00 WIB

Second Account Instagram Pelarian atau Kebebasan
Second Account Instagram Pelarian atau Kebebasan

Sebagai mahasiswa semester 6 jurusan Informatika di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur, saya sering memperhatikan bagaimana teknologi, khususnya media sosial mempengaruhi cara kami, Generasi Z, berinteraksi dan mengekspresikan diri. Pengaruhnya terasa sangat dekat, terutama kalau melihat keseharian orang-orang di sekitar saya. Bahkan teman-teman terdekat saya pun tak lepas dari dinamika ini.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah fenomena second account atau akun kedua di Instagram. Mungkin kamu juga punya, atau setidaknya pernah lihat. Akun ini biasanya punya nuansa yang sangat berbeda dari akun utama. Kalau akun utama sering jadi tempat tampil ‘rapi’ dengan feed estetik, caption yang dipikirkan matang-matang, dan kesan profesional. Maka second account justru lebih santai, spontan, dan tanpa beban. 

Pertanyaannya, apakah second account ini hanya sebatas pelarian dari tekanan sosial? Atau justru sebuah cara cerdas untuk menciptakan ruang buat jadi diri sendiri?

Kalau menurut saya berdasarkan pengalaman pribadi dan juga cerita dari teman-teman second account bukan cuma tempat buat “kabur”. Justru di sinilah kita bisa benar-benar bernafas. Dunia nyata aja udah banyak tuntutan, ditambah lagi dunia maya yang kadang menuntut kita buat selalu kelihatan kuat, bahagia, dan produktif. Capek, kan?

Baca Juga: Apa Itu Surat Terbuka? Media Ekspresi yang Bisa Mengguncang Opini Publik

Banyak teman saya menggunakan akun keduanya untuk membagikan hal-hal yang tidak mereka unggah di akun utama. Mulai dari curhatan, keresahan, refleksi, sampai foto-foto blur yang di akun utama pasti langsung di-archive. Rasanya kayak punya diary digital, tapi bisa dibaca oleh orang-orang yang emang beneran ngerti kita.

Dari sisi hubungan sosial, second account juga ngebantu kami buat membangun koneksi yang lebih tulus. Karena yang follow biasanya cuma teman-teman dekat, jadi obrolan dan interaksinya lebih hangat. Kadang ngobrol santai, kadang serius, kadang lucu, tapi semuanya terasa lebih apa adanya. Di sini, yang dilihat bukan siapa paling populer, tapi siapa yang benar-benar nyambung.

Selain itu, second account juga bisa menjadi tempat eksplorasi diri. Banyak dari kami menggunakannya untuk mencoba hal baru seperti ada yang mulai menggambar, menyuarakan opini, bahkan belajar membuat konten tanpa takut salah. Akun ini seperti tempat bereksperimen, karena nggak takut dinilai, mereka jadi lebih lepas. Rasanya kayak punya ruang uji coba atau tempat kita bisa belajar, gagal, ulang lagi, dan terus berkembang.

Sebagai anak Informatika yang tiap hari berhubungan sama dunia digital, saya melihat second account ini bukan sekadar akun cadangan. Tapi dia adalah alat bantu kesehatan mental dan personal space yang dibutuhkan generasi sekarang. Kita hidup di tengah banjir informasi, tekanan buat selalu update, dan ekspektasi visual yang kadang terlalu tinggi. Maka, punya ruang pribadi seperti second account ini bisa jadi bentuk perlawanan kecil yang sehat.

Baca Juga: Kabupaten Nganjuk Raih Predikat Opini WTP Enam Kali Beruntun

Jadi, kalau kamu tanya second account itu pelarian atau kebebasan? Buat saya, jawabannya jelas itu kebebasan yang kita atur sendiri. Tempat di mana kita bisa istirahat sebentar, jadi diri sendiri, dan tumbuh dengan cara kita sendiri.

Fenomena ini jadi bukti bahwa di balik media sosial yang sering terlihat sempurna, ada sisi manusiawi yang tetap butuh ruang untuk merasa, untuk jujur, dan untuk berkembang. Dan kalau second account bisa memberikan itu semua, kenapa nggak kita rawat dan jaga?

Editor : Jauhar Yohanis
#Second Account Ala Gen Z #ig #mental health #second account