Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tren KaburAjaDulu: Antara Pelarian atau Peluang?

Internship Radar Kediri • Sabtu, 21 Juni 2025 | 03:00 WIB
Naufal Indra Mahardika
Naufal Indra Mahardika

JP Radar Kediri – Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan tren #KaburAjaDulu—sebuah tagar yang menggambarkan keinginan anak muda, terutama Gen Z, untuk “kabur” dari Indonesia dan mencari kehidupan baru di luar negeri. Mulai dari kerja di Jepang, kuliah di Eropa, hingga jadi digital nomad di Thailand, tren ini menyebar cepat dan menuai berbagai respons: dari candaan, motivasi, hingga kritik. Tapi pertanyaannya, apakah ini bentuk pelarian… atau justru peluang?

Sebagai mahasiswa, saya tidak bisa menampik bahwa rasa frustasi terhadap situasi di tanah air itu nyata. Biaya kuliah tinggi, lapangan kerja makin sempit, dan ketimpangan sosial seperti tidak ada habisnya. Wajar jika sebagian dari kita bertanya: “Ngapain capek-capek di sini kalau di luar negeri peluang lebih terbuka?” Dalam konteks ini, keinginan "kabur" muncul bukan semata karena tidak cinta tanah air, melainkan karena rasa lelah dan kehilangan harapan.

Namun di sisi lain, tren ini perlu dibaca dengan lebih jernih. Tidak semua orang bisa “kabur” dan sukses. Hidup di luar negeri bukan sekadar foto-foto indah di Instagram. Ada tantangan bahasa, budaya, tekanan kerja, bahkan rasa kesepian. Kalau niatnya hanya ingin kabur tanpa persiapan mental dan tujuan yang jelas, bisa-bisa malah makin terjebak, dalam tekanan hidup yang justru lebih besar.

Yang membuat saya khawatir, tren #KaburAjaDulu ini bisa menciptakan pola pikir bahwa semua hal di Indonesia itu buruk dan tak ada yang bisa diubah. Padahal kenyataannya, tidak semua hal di luar negeri lebih baik. Di saat kita terlalu fokus untuk lari dari sini, kita bisa lupa bahwa perubahan besar itu sering kali lahir dari mereka yang bertahan dan berjuang di tempat yang sulit.

Jujur saja, saya pun pernah punya keinginan yang sama: membayangkan hidup di kota yang bersih, aman, dan penuh peluang. Tapi kemudian saya sadar, apakah saya ingin kabur karena ingin tumbuh? Atau karena ingin menghindari hal-hal yang tidak nyaman? Pertanyaan itu penting, karena apa pun motivasi kita, kalau hanya lari dari masalah tanpa menyelesaikan apa pun dalam diri sendiri, maka masalah itu akan ikut ke mana pun kita pergi.

 Baca Juga: Keuangan Yang Maha Kuasa

Tren ini juga menimbulkan efek domino di lingkungan pertemanan. Banyak yang mulai merasa “tertinggal” ketika melihat teman-temannya berhasil pergi ke luar negeri. Padahal, keberhasilan itu tidak selalu seindah yang terlihat. Seringkali kita hanya membandingkan hidup kita yang penuh perjuangan dengan potongan momen orang lain yang terlihat sempurna. Akhirnya, kita malah kehilangan apresiasi terhadap proses kita sendiri.

Kalau boleh jujur, saya justru melihat tren ini sebagai sinyal bahwa ada sesuatu yang harus dibenahi di negeri ini. Bahwa banyak anak muda ingin pergi, bukan karena benci, tapi karena tidak diberi ruang. Mungkin kita perlu lebih banyak forum, komunitas, dan dukungan dari institusiagar anak muda merasa punya tempat untuk berkembang, tanpa harus pergi jauh. Karena tidak semua mimpi harus diwujudkan dengan berpindah negara. Kadang, cukup dengan menciptakan ruang baru di tempat kita berdiri.

Pada akhirnya, tidak salah jika seseorang ingin ke luar negeri. Itu hak setiap orang. Tapi sebelum ikut tren #KaburAjaDulu, sebaiknya kita evaluasi niat dan kesiapan. Jangan sampai kita berangkat dengan ekspektasi tinggi tapi pulang dengan kecewa karena realitas tak seindah yang dibayangkan. Yang terpenting adalah: ke mana pun kita pergi, kita tetap membawa versi terbaik dari diri kita, bukan sekadar mencari pelarian dari kenyataan.

Karena sejatinya, kabur bukan soal tempat. Kabur itu soal sikap. Dan kalau tujuan kita cuma menghindar, bukan menyelesaikan, maka tempat baru pun tak akan memberi jawaban.

Baca Juga: Ketika Hak Bertabrakan dengan Etika 

 

Penulis : Naufal Indra Mahardika, Mahasiswa UPN “Veteran” Jawa Timur

 

Editor : Jauhar Yohanis
#opini #Kabur aja dulu #luar negeri #peluang