Kediri, JP Radar Kediri - Bagi mahasiswa Manajemen Pemasaran, belajar strategi marketing di kelas hanyalah permulaan. Tantangan sesungguhnya muncul ketika harus menghadapi dunia nyata di mana konsumen tidak selalu rasional, tren berubah cepat, dan persaingan begitu ketat. Dalam konteks ini, magang di media lokal seperti Radar Kediri bisa menjadi pengalaman yang sangat berharga.
Radar Kediri bukan sekadar media cetak atau portal berita. Di balik layar, ada tim pemasaran yang harus berpikir keras untuk menjaga sirkulasi koran tetap berjalan, menjual space iklan ke mitra bisnis, hingga membangun citra merek di tengah gempuran media digital. Di sinilah mahasiswa marketing bisa belajar langsung bagaimana strategi dijalankan, bukan cuma dibicarakan.
Selama magang, mahasiswa bisa terlibat dalam berbagai aktivitas seperti:
- Membantu menyusun proposal kerjasama iklan,
- Menyusun konten promosi untuk media sosial Radar Kediri,
- Melakukan riset pasar lokal untuk menentukan pendekatan promosi yang sesuai,
- Ikut meeting dengan klien untuk memahami proses negosiasi dan kebutuhan pasar.
Hal ini tidak bisa dipelajari hanya lewat slide presentasi dosen. Saat turun langsung, mahasiswa jadi tahu bahwa pemasaran bukan cuma soal “jualan”. Tapi soal membangun hubungan, membaca situasi pasar, dan berpikir kreatif dalam keterbatasan.
Namun, tentu saja tidak semua pengalaman selalu mulus. Mahasiswa kadang menghadapi tekanan deadline, ekspektasi tinggi dari mentor, atau minimnya pengarahan di awal. Tapi justru di situlah nilai belajar yang sesungguhnya: belajar tangguh, adaptif, dan komunikatif.
Magang di Radar Kediri bisa jadi “laboratorium mini” bagi mahasiswa marketing. Di sana, teori-teori Philip Kotler akhirnya bertemu kenyataan: bahwa konsumen nyata tidak selalu bertindak sesuai textbook, dan bahwa strategi pemasaran yang baik butuh lebih dari sekadar ide cemerlang ia butuh data, pengalaman, dan eksekusi yang konsisten.
Selama magang, saya tidak hanya belajar teknis pemasaran seperti membuat konten promosi atau mendokumentasikan acara, tapi juga belajar tentang ritme kerja yang cepat dan dinamis. Awalnya tentu ada rasa gugup“Aduh, bisa nggak ya kerja di sini? Takut salah ngomong, takut nggak nyambung.” Tapi perlahan, saya mulai merasa nyaman.
Suasana di kantor cukup santai tapi tetap profesional. Banyak hal yang bikin saya merasa “Oh ternyata beginilah dunia kerja itu. Salah satu hal paling berkesan adalah waktu pertama kali saya disuruh membantu membuat konten untuk Reels Instagram Radar Nganjuk, yang masih di bawah naungan Radar Kediri.
Banyak hal kecil yang akhirnya terasa bermakna seperti belajar menyusun caption promosi yang menarik, memahami kebutuhan audiens lokal, atau melihat langsung bagaimana proses pemasaran media berjalan dari balik layar. Semua itu membuat saya semakin yakin bahwa dunia marketing bukan sekadar soal produk, tapi soal komunikasi, hubungan, dan ketepatan strategi.
Dengan kata lain, magang semacam ini bukan hanya mengasah keterampilan teknis, tetapi juga membentuk pola pikir profesional. Dan itu adalah bekal penting yang tidak bisa didapat dari ruang kelas.
Penulis : Annin Firnanda Mustofa Putri, Mahasiswa Manajemen Marketing Universitas Dian Nuswantoro
Editor : Jauhar Yohanis