Oleh : Zulfiana Ismaturrohmah
Dalam perjuangan menuju kesetaraan gender, sering muncul ketidakseimbangan ketika hak dituntut tanpa kesiapan menanggung tanggung jawab yang sepadan.
Ini bukan masalah gender tertentu, melainkan masalah konsistensi dalam menerapkan nilai-nilai kesetaraan. Akar Masalah nya berada pada patriarki yang seakan menjadi warisan.
Sistem patriarki telah mengkotak-kotakkan peran berdasarkan gender. Misal nya "Ini tugas laki-laki" (seperti pekerjaan fisik, pencari nafkah utama) dan "Itu tugas perempuan" (seperti mengurus rumah, mengasuh anak).
Akibatnya, tanpa sadar kita memilih peran yang nyaman dan sesuai ekspektasi sosial, bukan berdasarkan kemampuan atau minat individu.
Kesetaraan bukan tentang mengambil hak tanpa tanggung jawab, melainkan tentang keseimbangan. Ketika kita menuntut hak yang selama ini dimiliki gender lain, kita juga harus siap memikul tanggung jawab yang selama itu melekat padanya.
Dengan demikian, kita benar-benar meruntuhkan patriarki, bukan hanya memindahkan hak istimewa dari satu kelompok ke kelompok lain.
Contoh Nyata Ketidakseimbangan yang terjadi dalam Hubungan Rumah Tangga yaitu ketika Pasangan yang ingin pembagian finansial 50-50, tetapi masih berharap satu pihak (biasanya laki-laki) menangani semua pekerjaan fisik seperti memperbaiki rumah, mengangkat galon, atau memperbaiki kendaraan.
Atau sebaliknya, ketika perempuan dituntut mengurus semua urusan domestik, sementara laki-laki tidak dilibatkan dalam pengasuhan anak atau pekerjaan rumah.
Kemudian di Tempat Kerja juga ketika Perempuan menuntut kesempatan karir yang setara, tetapi enggan bekerja lembur atau mengambil proyek menantang dengan alasan "bukan tanggung jawabku".
Dan juga ketika Laki-laki yang ingin cuti parental, tetapi tidak mau mengurangi jam kerja atau mengambil peran aktif dalam pengasuhan.
Solusi Menuju Kesetaraan Sejati yaitu
- dalam Kesetaraan Harus memiliki Timbal Balik. Jika perempuan ingin diakui kepemimpinannya, ia juga perlu siap menghadapi tekanan dan tanggung jawab kepemimpinan. Begitu juga Jika laki-laki ingin bebas mengekspresikan emosi, perempuan perlu berhenti menganggapnya sebagai kelemahan.
- Dalam hal Pembagian Peran maka diskusikan pembagian tugas berdasarkan kemampuan, minat, dan situasi, bukan gender. Misalnya: Siapa yang lebih ahli memperbaiki barang? Siapa yang lebih telaten mengurus keuangan rumah?
- Kesadaran mengenai diri sendiri penting. Setiap kali menuntut hak, coba tanyakan "Sudahkah aku siap dengan tanggung jawab yang menyertai hak ini?" atau jika ingin gaji setara, apakah siap dengan beban kerja yang sama?
- Edukasi Sejak Dini dengan mengajarkan anak bahwa semua pekerjaan bisa dilakukan oleh siapa saja, terlepas dari gender. Latih anak laki-laki untuk mengurus rumah dan anak perempuan untuk mengambil inisiatif.
Dengan pendekatan ini, kesetaraan gender akan membawa keadilan yang sesungguhnya bagi semua pihak. Kesetaraan bukan tentang memperjuangkan hak sendiri, tapi menciptakan sistem adil untuk semua. (*)
* Zulfiana Ismaturrohmah
Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya. Jurusan Hukum Kelurga Islam Fak. Syariah dan Hukum
Editor : Jauhar Yohanis