JP Radar Kediri - Belakangan ini, nama ikan sapu-sapu ramai diperbincangkan. Pemerintah dan masyarakat mulai bergerak untuk mengendalikan bahkan memusnahkan spesies asal Amerika Selatan ini karena dianggap mengancam keseimbangan ekosistem perairan Indonesia.
Kemampuannya bertahan di kondisi air ekstrem sekalipun, termasuk yang kadar oksigennya sangat rendah, membuatnya sulit dikendalikan dan mudah mendominasi habitat ikan lokal.
Tapi ternyata, ikan sapu-sapu bukan satu-satunya yang masuk daftar merah pemerintah.
Baca Juga: Populasi Ikan Sapu-Sapu Meledak, Ini Dampak Buruknya bagi Ekosistem Sungai
Ada Aturan yang Sudah Lama Mengatur Ini
Pemerintah sebenarnya sudah memiliki regulasi khusus untuk menangani spesies ikan berbahaya, yaitu Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19/PERMEN-KP/2020.
Aturan ini secara tegas melarang pemasukan, pembudidayaan, peredaran, hingga pengeluaran jenis ikan yang membahayakan dan/atau merugikan ke dalam dan dari wilayah perairan Indonesia.
Dalam aturan tersebut, tercatat setidaknya 75 jenis ikan yang masuk kategori berbahaya atau merugikan.
Sebuah angka yang cukup mengejutkan, mengingat banyak orang hanya mengenal ikan sapu-sapu sebagai satu-satunya tersangka.
Ikan dikategorikan berbahaya apabila mengandung racun atau biotoksin, bersifat parasit, atau berpotensi melukai bahkan mengancam jiwa manusia.
Sementara ikan yang dikategorikan merugikan umumnya bersifat predator ganas yang bisa menekan populasi ikan lokal dan merusak keseimbangan ekosistem.
Baca Juga: Apakah Ikan Sapu-Sapu Bisa Dimakan? Ini Kandungan Gizi dan Risikonya
Siapa Saja Ikan-Ikan Itu?
Berikut beberapa spesies yang masuk dalam daftar ikan berbahaya versi pemerintah.
1. African Tigerfish (Hydrocynus spp.)
Ikan predator ganas dari Afrika ini dikenal dengan gigi tajam dan kemampuan berburu yang agresif. Jika masuk ke perairan lokal, ia bisa menjadi ancaman serius bagi spesies ikan asli.
2. Arapaima (Arapaima gigas)
Salah satu ikan air tawar terbesar di dunia yang berasal dari Amazon. Ukurannya yang masif dan nafsu makannya yang besar membuatnya berpotensi menghabiskan populasi ikan lain di lingkungan yang baru.
3. Midas Cichlid dan Red Devil Cichlid (Amphilophus spp.)
Dua spesies dari keluarga yang sama ini dikenal agresif dan teritorial. Keduanya mampu mengganggu keseimbangan ekosistem perairan bila dilepas liar.
Baca Juga: Mengenal Ikan Sapu-Sapu, Si 'Janitor' Sungai yang Kini Jadi Masalah di Jakarta
4. Peacock Bass (Cichla spp.)
Ikan ini pernah menjadi penyebab kepunahan puluhan spesies ikan asli di berbagai negara setelah diperkenalkan ke habitat baru.
Sifatnya sebagai predator puncak membuatnya sangat destruktif.
5. Piranha (Pygocentrus spp.)
Mungkin ini yang paling terkenal di antara semuanya. Piranha dikenal karena serangan kawanannya yang bisa melahap mangsa dalam waktu singkat sehingga berbahaya bagi ikan lain maupun manusia.
6. Belut Listrik (Electrophorus electricus)
Bukan sekadar ikan aneh, belut listrik mampu menghasilkan sengatan listrik dengan voltase tinggi yang bisa melukai manusia dan mematikan ikan-ikan di sekitarnya.
Baca Juga: Ikan Sapu-sapu, Jangan Buang Ikan Ini di Perairan Dekat Rumahmu, Mengapa?
7. Ikan Buntal (Tetraodontidae)
Dikenal luas mengandung racun tetrodotoksin yang sangat mematikan, bahkan tak ada penawarnya. Konsumsi ikan buntal yang tidak ditangani dengan benar bisa berujung fatal.
8. Crayfish (Cherax spp.)
Meski bukan ikan dalam arti harfiah, udang air tawar jenis ini masuk dalam daftar karena berpotensi merusak ekosistem sungai dan bersaing dengan spesies lokal.
Kenapa Ini Penting untuk Diketahui?
Banyak dari spesies di atas awalnya masuk ke Indonesia lewat jalur perdagangan hewan peliharaan atau ikan hias, lalu dilepas ke sungai atau danau oleh pemiliknya yang tidak bertanggung jawab.
Begitu masuk ke ekosistem baru tanpa predator alami, penyebarannya bisa sangat cepat dan sulit dihentikan.
Kesadaran masyarakat adalah kunci pertama. Jangan sembarangan membeli, memelihara, apalagi melepaskan ikan-ikan yang belum jelas asal-usul dan statusnya ke perairan umum.
Karena satu ikan yang dilepas hari ini bisa jadi masalah besar bagi ekosistem bertahun-tahun ke depan.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem, Pasokan Ikan Laut Berkurang di Kota Kediri, Ini Dampaknya ke Pedagang!
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil