JP Radar Kediri - Nama ikan sapu-sapu mendadak ramai diperbincangkan setelah petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Jakarta menangkap lebih dari 80 ekor ikan jenis ini di kali kawasan Bundaran HI, tepatnya di depan Mal Plaza Indonesia, Jakarta Pusat.
Penangkapan berlangsung pada Jumat (10/4/2026) pagi atas arahan Wali Kota Jakarta Pusat, dan membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam dengan menggunakan jaring berukuran besar. Hasilnya, lebih dari 80 ekor ikan berhasil diangkut dan dikumpulkan dalam enam karung.
Lantas, sebenarnya seperti apa ikan yang kini dianggap hama di sungai-sungai ibu kota ini?
Baca Juga: Cuaca Ekstrem, Pasokan Ikan Laut Berkurang di Kota Kediri, Ini Dampaknya ke Pedagang!
Bukan Asli Indonesia
Berdasarkan informasi dari Digitani IPB University, meski sudah sangat akrab di perairan Indonesia, ikan sapu-sapu sejatinya bukan penghuni asli sungai-sungai kita.
Ikan ini berasal dari kawasan sungai beraliran deras dan jernih di Amerika Selatan, seperti Argentina Utara, Paraguay, Uruguay, serta Brasil bagian selatan, termasuk di Sungai Rio Paraguay, Rio de la Plata, Rio Uruguay, dan Rio Panama.
Secara ilmiah, ikan sapu-sapu termasuk dalam genus Pterygoplichthys dan masuk ke dalam famili Loricarinae. Di Indonesia, genus ini paling banyak dijumpai dengan 22 spesies yang telah teridentifikasi, dua di antaranya yang paling dikenal adalah Pterygoplichthys disjunctivus dan Pterygoplichthys pardalis.
Baca Juga: Jangan Remehkan Ikan Lokal! Kembung dan Layang Ternyata Punya Protein Lebih Tinggi dari Salmon
Ciri Fisik yang Khas
Ikan sapu-sapu mudah dikenali dari penampilannya yang unik. Tubuhnya dilapisi sisik keras namun fleksibel, dengan bentuk kepala yang pipih menyerupai ikan lele, dan terdapat pola titik-titik putih besar di bagian perut.
Mulutnya berbentuk penghisap dan terletak di bagian bawah kepala, berfungsi untuk menyedot makanan sekaligus membersihkan permukaan yang ditempatinya.
Ikan ini dapat tumbuh hingga panjang 40 cm, bahkan lebih, dengan laju pertumbuhan yang cukup cepat, bisa mencapai 35 cm hanya dalam dua tahun.
Baca Juga: Kelompok Wanita Tani Desa Wonoasri Grogol Kediri Sukses Kelola Budidaya Ikan Lele dan Sayuran
Kemampuan Adaptasi yang Luar Biasa
Salah satu alasan mengapa ikan sapu-sapu sulit dikendalikan adalah kemampuan adaptasinya yang jauh di atas rata-rata.
Ikan ini mampu bertahan hidup di perairan dengan kadar oksigen terlarut yang rendah, baik di air tawar maupun air payau.
Bahkan, ikan sapu-sapu bisa bertahan hingga 30 jam di luar air, berkat kemampuannya menyimpan oksigen di dalam perut dan bernapas melalui kulit.
Ketika sungai mengering, ikan ini mampu menggeliat dan berpindah mencari tempat tinggal baru. Di alam liar, mereka juga kerap membuat lubang di dasar sungai berlumpur untuk menyimpan telurnya, yang bisa mencapai sekitar 300 butir sekaligus. Dengan semua keunggulan itu, ikan sapu-sapu bisa hidup antara 10 hingga 15 tahun.
Baca Juga: Ini Cara Pemdes Gurah Berdayakan Masyarakat : Beri Pelatihan Olah Ikan Gabus Jadi Obat Herbal
Dijuluki 'Janitor Fish', tapi Ancam Ekosistem Lokal
Di dunia akuarium, ikan sapu-sapu dikenal sebagai janitor fish atau ikan pembersih karena kemampuannya memakan alga dan kotoran yang menempel di dinding kaca.
Ikan ini bersifat eurifagik atau pemakan segala, meski secara anatomi ususnya yang panjang dan melingkar seperti spiral menggolongkannya sebagai herbivora.
Namun di alam, sifat oportunistiknya justru menjadi ancaman. Ikan sapu-sapu memakan alga di dasar sungai sekaligus telur ikan lain, sehingga menekan populasi spesies lokal. Keberadaannya juga menggali lubang di tepi sungai sebagai sarang, yang berpotensi merusak struktur tanah.
Berdasarkan catatan sejarah, pada 1910 terdapat 187 jenis ikan yang hidup di DAS Ciliwung. Namun sejak 2009, jumlahnya anjlok menjadi hanya 20 jenis, dan lima di antaranya merupakan spesies asing termasuk ikan sapu-sapu.
Baca Juga: Cara Memasak Ikan Tongkol Bakar Dabu-Dabu Lilang yang Menggugah Selera!
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil