Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tradisi Día de los Muertos dalam Film Coco (2017): Studi Komunikasi Antarbudaya

Redaksi • Jumat, 13 Juni 2025 | 18:45 WIB
Arsilawati Lintang A
Arsilawati Lintang A

Di era globalisasi yang sekarang arus pertukaran budaya sangat massif dan cepat salah satunya melalui media populer seperti film. Film bukan hanya sarana media untuk hiburan semata, tetapi film juga menjadi salah satu media pembelajaran mengenai nilai-nilai budaya tertentu dan memperkenalkan kepada khalayak yang lebih luas. Seperti halnya dalam film Coco (2017) yang merupakan karya dari Disney Pixar, film ini menceritakan kisah keluarga Miguel yang memiliki ikatan keluarga yang kuat dan masih menganut nilai-nilai dalam tradisi Meksiko serta mengembangkan budaya penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal. Melalui film ini, penonton diajak mengenali serta memahami perayaan Tradisi Día de los Muertos yang ada di Meksiko. Tradisi ini masih menjadi kepercayaan Masyarakat meksiko yang disetiap tahunnya masih rutin diadakan.

Dalam aspek ini, representasi budaya merupakan aspek penting yang menjelaskan bagaimana suatu budaya asing dapat disampaikan kepada audiens melalui media film coco 2017. Representasi budaya merujuk pada cara nilai, symbol, kepercayaan, dan praktik-praktik dari suatu budaya yang akan ditampilkan serta dapat mudah dipahami oleh audiens. Film ini mengangkat tradisi dia de los Muertos dari budaya meksiko melalui narasi, visual, karakter, dan symbol-simbol khas seperti Ofrenda (altar), Flor de Cempasúchil (marigold), calvera (tengkorak) serta kepercayaan yang menjadi tradisi turun temurun dari nenek moyang Masyarakat meksiko.  

Metode penelitian

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi untuk mengkaji representasi tradisi Día de los Muertos dalam film  Coco (2017) sebagai bentuk komunikasi antarbudaya. Peneliti memperoleh data melalui penelitian mendalam pada setiap adegan, symbol, serta visul yang ditampilkan dalam film yang berkaitan dengan nilai-nilai budaya meksiko dan makna perayaan Día de los Muertos. Teknik analisis yang dilakukan mengidentifikasi unsur-unsur komunikasi antar budaya seperti identitas budaya, simbolisme, dan pemaknaan disetiap adegan yang ditampilkan pada film tersebut. Peneliti memilih pendekatan penelitian ini karena mampu mengungkap pesan budaya yang ingin disampaikan melalui nilai budaya kepada audiens.

Pembahasan

  1. Relevansi Teori Semiotika dengan tradisi

    Día de los Muertos

Penulis menggunakan Teori semiotika sebagai bahan acuan analisis yang digunakan dalam penelitian tradisi dia de los Muertos. Teori semiotika merupakan ilmu yang mempelajari tentang tanda, proses pembuatan makna, dan bagaimana tanda-tanda itu digunakan dalam keseharian manusia. Teori semiotika Menurut Charles Sanders Peirce, tanda (sign) adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain bagi seseorang dalam suatu interpretasi. Dalam kerangka pemikiran Peirce, tanda tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berhubungan dengan tiga elemen utama, yaitu: ikon, indeks, dan symbol. Teori ini sangat relevan dalam menganalisis film Coco (2017) karena setiap elemen dan visual dalam film ini bisa dianalisis sebagai tanda yang menyampaikan makna tertentu Dalam konteks film Coco, berbagai unsur budaya Meksiko seperti ofrenda, calavera, dan flor de cempasúchil dapat dianalisis sebagai tanda-tanda yang merepresentasikan nilai-nilai tradisi Día de los Muertos.

  1. Mengenali perayaan

    Día de los Muertos

Día de los Muertos dalam Bahasa Inggris Day Of The Dead / Hari Orang Mati merupakan perayaan tradisional yang dilakukan Masyarakat Meksiko untuk menghormati dan mengenang arwah leluhur atau orang-orang yang sudah meninggal dunia. Perayaan ini dilakukan pada 1 dan 2 november, bertepatan dengan Hari Semua Orang Kudus (All Saints Day) dan Hari Arwah (All Souls Day) dalam tradisi Katolik. Hal ini dipercaya arwah leluhur akan mendatangi rumah kerabat yang masih hidup. selama arwah mereka masih dikenang, masyarakat Meksiko mempercayai jika orang yang sudah mati rohnya tidak akan benar-benar pergi selama mereka masih dikenang. Dalam film Coco (2017) keluarga Miguel merepresentasikan Tradisi tersebut sama halnya yang telah dilakukan oleh Masyarakat meksiko disetiap tahunnya. Kegiatan Día de los Muertos didalam film ini antara lain membersihkan makam para leluhur dan menyiapkan Ofrenda (Altar) serta menghiasinya dengan berbagai persembahan yang biasanya disukai oleh orang yang sudah mennggalk tersebut.

  1. Representasi Tradisi Melalui Simbol Budaya

    Altar
    Altar

Ofrenda atau altar dalam film tersebut menjadi pusat utama dalam alur cerita film coco (2017). Dalam film ini altar digunakan keluarga Miguel untuk mengenang para leluhur. Roh tidak akan bisa kembali dalam dunia manusia jika tidak ada foto didalamnya. Hal ini memperkuat budaya meksiko untuk mengingat para leluhur yang merupakan suatu penghormatan dalam menjaga keberadaan mereka. Foto leluhur dipasang secara turun temurun, anggota keluarga yang lebih tua akan berada pada urutan teratas, dalam film ini foto nenek Abeulita dipasang paling atas sendiri yang menunjukkan sosok tertua dalam silsilah keluarga. Secara semiotik, ofrenda adalah simbol, sekaligus indeks karena foto menunjukkan hubungan langsung dengan keberadaan roh. Detail benda yang ada di Ofrenda antara lain foto leluhur, makanan kesukaan para leluhur, sesajen, dan kelopak bunga marigold.

Calavera
Calavera

Calvera atau tengkorak merupakan seni Lukis yang digunakan untuk menggambarkan para leluhur yang sudah meninggal. Visual yang menggambarkan tengkorak dan kerangka akan mendominasi dunia arwah dalam film. Gambaran Tengkorak ini adalah simbol dalam perayaan Dia De Los Muertos yang ditandai dengan hiasan make up warna-warni, pakaian yanag digunakan serta makanan yang disukai oleh para leluhur. Desain visual menggambarkan leluhur yang telah meninggal dalam berbagai ciri khas arwah di dunia orang mati, dalam film Coco menyajikan sentuhan pada mata, kerangka manusia, serta baju yang digunakan. Hal ini menunjukkan bahwa kematian bukan hal yang menakutkan, melainkan sesuatu yang bisa dirayakan. Ini menjadi ikon, karena menyerupai bentuk nyata tengkorak, sekaligus simbol budaya Día de los Muertos yang sarat makna filosofis. 

Bunga Marigold
Bunga Marigold

Bunga marigold merupakan salah satu elemen penting yang berkaitan dengan perayaan dia de los Muertos bunga ini berwarna orange atau biasa dikenal “bunga orang mati”. Selama perayaan di Meksiko bunga ini akan terlihat banyak taburan disekitar rumah serta karangan bunga marigold yang menghiasi kuburan. Dalam film ini menggambarkan jembatan bunga marigold kuning keemasan sebagai koneksi petunjuk jalan yang menghubungkan antara dunia arwah dengan dunia manusia yang membimbing para leluhur untuk menuju ke altar dirumah mereka. Dalam film ini, kelopak bunga marigold membentuk jembatan yang dipenuhi dengan kelopak bunga marigold ketika para tengkorak menginjakkan kaki diatasnya, akan terlihat menyala-nyala. Dipercaya bahwa bau harum dan warna kuning – oranye mereka menarik dan menuntun roh dalam perjalanan mereka untuk mengunjungi keluarga dan teman mereka. Aroma dan warna mereka menarik roh dan menuntun mereka dari kuburan kembali ke rumah mereka.

  1. Nilai Budaya dalam komuniksi antarbudaya

Dalam kontekes komunikasi antarbudaya, film Coco (2017) merepresentasikan sejumlah nilai budaya meksiko yang khas dan memiliki pemaknaan yang mendalam. Film ini menekankan pentingnya mengingat keluarga dalam hubungan antargenerasi, Dimana identitas budaya tidak hanya diwariskan melalui hubungan darah keluarga, tetapi juga melalui ingatan kolejtif dan pengakuan terhadap leluhur. Nilai ini mencerminkan bahwa keberadaan leluhur tetap hidup selama mereka dikenang dan diakui oleh keturunan mereka. Film Coco (2017) memberikan perspektif yang memiliki ciri khas tersendiri terhadap perayaan kematian. Berbeda dengan berbagai budaya yang ada kematian dianggap hal yang tabu dan menakutkan, Masyarakat meksiko memaknainya sebagai bagian dari kehidupan yang layak dirayakan. Dalam dunia arwah film Coco, roh hanya dapat terus hidup selama ada seseorang di dunia manusia yang mengingat mereka. Hal ini memperlihatkan komunikasi budaya berbasis memori, di mana mengenang leluhur adalah bagian penting dalam menjaga ikatan budaya dan nilai kekeluargaan lintas generasi.

Kesimpulan

Film Coco (2017) bukan hanya sebagai media hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pembelajaran budaya asing khususnya delam memperkenalkan tradisi Dia De Los Muertos yang merupakan budaya turun temurun yang berasal dari Meksiko. Melalui pendekatan kualitatif dengan analisis isi, penelitian ini menunjukkan bahwa film coco merepresentasikan nilai-nilai budaya yang ada dimeksiko secara kuat melalui symbol-simbol budaya seperti ofrenda (altar), calavera (tengkorak), dan flor de cempasúchil (bunga marigold). Analisis semiotika menunjukkan bahwa setiap elemen visual dan naratif dalam film memuat makna yang merefleksikan kepercayaan dan nilai-nilai masyarakat Meksiko terhadap kematian dan leluhur. Film ini juga menjadi salah satu contoh komunikasi antar buadaya yang menjembatani pemahaman lintas budaya melalui media populer, serta menampilkan bagaimana cara Masyarakat Meksiko merayakan kematian para leluhur sebagai bentuk kehormatan bukan suatu hal yang perlu ditakuti.

Oleh: Arislawati Lintang Azhari

Mahasiswa /220531100117/Universitas Trunojoyo Madura

 

Daftar Pustaka

(Amelinda & Franzia, 2020)(Husaina et al., 2018) (Daniko, 2019)(Kevinia et al., 2024)(Liliweri, 2003)(Ramadianti & Tarmawan, 2023)(Sari Rahayu, 2021)(Pradopo, 1999)(Heryadi & Silvana, 2013)(Kartini et al., 2022)(Husaina et al., 2018)

Amelinda, F. M., & Franzia, E. (2020). Analisis elemen visualisasi budaya kematian dalam film animasi “Coco.” DESKOMVIS: Jurnal Ilmiah Desain Komunikasi Visual, Seni Rupa Dan Media, 1(1), 14–27.

Daniko, T. (2019). PEMAKNAAN FESTIVAL HARI KEMATIAN “DIA DE LOS MUERTOS” DALAM FILM ANIMASI COCO (ANALISIS SEMIOTIKA CHARLES S. PEIRCE). Universitas Mercu Buana Jakarta.

Heryadi, H., & Silvana, H. (2013). Komunikasi antarbudaya dalam masyarakat multikultur (studi tentang adaptasi masyarakat migran sunda di desa imigrasi permu keca- matan kepahiang provinsi bengkulu). Jurnal Kajian Komunikasi, 1(1), 95–108.

Husaina, A., Haes, P. E., Pratiwi, N. I., & Juwita, P. R. (2018). 1706-Article Text-3434-1-10-20190116.

Kartini, K., Deni, I. F., & Jamil, K. (2022). Representasi pesan moral dalam film penyalin cahaya: Analisis semiotika Charles Sanders Peirce. SIWAYANG Journal: Publikasi Ilmiah Bidang Pariwisata, Kebudayaan, Dan Antropologi, 1(3), 121–130.

Kevinia, C., Putri syahara, P. sayahara, Aulia, S., & Astari, T. (2024). Analisis Teori Semiotika Roland Barthes Dalam Film Miracle in Cell No.7 Versi Indonesia. COMMUSTY Journal of Communication Studies and Society, 1(2), 38–43. https://doi.org/10.38043/commusty.v1i2.4082

Liliweri, A. (2003). Makna budaya dalam komunikasi antarbudaya. Lkis pelangi aksara.

Pradopo, R. D. (1999). Semiotika: teori, metode, dan penerapannya dalam pemaknaan sastra. Humaniora, 11(1), 76–84.

Ramadianti, R. P., & Tarmawan, I. (2023). Viewing Mexican Tradition of “Dia De Los Muertos” in The Animation Film “Coco.” Proceeding of International Conference on Business, Economics, Social Sciences, and Humanities, 6, 996–1004. https://doi.org/10.34010/icobest.v4i.473

Sari Rahayu, I. (2021). Analisis Kajian Semiotika Dalam Puisi Chairil Anwar Menggunakan Teori Charles Sanders Peirce. Semiotika, 15(1), 30–36. https://journal.ubm.ac.id/

 

 

Editor : Jauhar Yohanis
#altar #Dia de los Muertos #Semiotik #tradisi