Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Analisis Teori Lintas Budaya : Retorika Ceramah Gus Iqdam dalam Episode Ngaji Ngatur Jiwo di Kanal YouTube

Redaksi Radar Kediri • Senin, 2 Juni 2025 | 17:41 WIB

Laila Miftahul Janah
Laila Miftahul Janah

Oleh: Laila Miftahul Janah

Komunikasi dakwah di era digital mengalami perubahan besar. Tidak hanya media yang digunakan, tetapi juga gaya penyampaian dan gaya retorika diubah untuk menyesuaikan diri dengan audiens yang berbeda. Salah satu platform paling populer untuk menyebarkan konten keagamaan adalah YouTube, terutama untuk generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi digital. Gus Iqdam, pendakwah asal Blitar yang terkenal melalui kanal YouTube Sabilu Taubah Official, adalah salah satu tokoh yang menonjol dalam fenomena ini.

Gus Iqdam menjadi terkenal dengan ceramahnya yang tidak formal dan komunikatif, terutama dalam seri Ngaji Ngatur Jiwo, yang membahas masalah spiritualitas dan pengelolaan jiwa anak muda. Gaya ceramahnya dianggap efektif dan menyentuh karena berhasil menghubungkan pesan keagamaan dengan kehidupan sehari-hari orang-orang di kota dan milenial. Dalam situasi seperti ini, metode retorik yang digunakan Gus Iqdam menarik untuk dipelajari lebih jauh. Ini terutama berlaku dari perspektif teori komunikasi lintas budaya, yang menekankan betapa pentingnya konteks kultural dalam proses penyampaian dan penerimaan pesan.

Metode penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis wacana kritis terhadap episode ceramah Gus Iqdam dalam Ngaji Ngatur Jiwo yang tayang di kanal YouTube pada tahun 2024. Data utama diperoleh melalui transkrip ceramah, observasi terhadap gaya komunikasi verbal dan nonverbal, serta komentar audiens sebagai bentuk respons komunikasi. Analisis dilakukan dengan menggunakan kerangka teori komunikasi lintas budaya dari Edward T. Hall dan Hofstede, yang mencakup dimensi high-context vs. low-context communication, power distance, serta individualism vs. Collectivism(Hofstede 2001).

Pembahasan

1. Retorika Gus Iqdam, Integrasi Tradisi dan Kekinian

Gus Iqdam memadukan retorika klasik ala pesantren (taushiyah, hikmah, dan nasihat) dengan pendekatan komunikasi modern yang bersifat dialogis dan membumi. Ia kerap menggunakan diksi sederhana, bahasa Jawa dan Indonesia, serta menyisipkan humor yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Strategi ini mencerminkan bentuk high-context communication, di mana makna tidak hanya terletak pada kata-kata literal, tetapi juga pada konteks budaya, ekspresi wajah, dan simbol lokal (Sobur 2001).

Salah satu pernyataan yang paling menyentuh dalam ceramahnya adalah: “Sing paling angel iku ngatur awake dhewe. Awakmu iso nyalahke wong, tapi ora iso nyawang salahmu dewe.” (Yang paling sulit itu mengatur diri sendiri. Kamu bisa menyalahkan orang lain, tapi tak bisa melihat kesalahanmu sendiri.)

Kalimat sederhana ini menunjukkan seberapa dalam pesan yang ingin disampaikan. Gus Iqdam tidak bertindak sebagai penceramah yang menggurui; sebaliknya, dia bertindak sebagai orang yang mengajak orang lain untuk belajar mengatur jiwo (mengelola batin), menjaga niat, dan mengatur diri dalam kehidupan yang rumit.

Ceramah Gus Iqdam sangat dekat. Ini tidak menciptakan hubungan vertikal antara "ulama" dan "umat" dalam arti formal. Sebaliknya, ia muncul sebagai teman, kakak, dan bahkan sebagai cermin di mana pendengarnya dapat melihat diri mereka sendiri. Gaya dakwah seperti ini tampaknya merupakan jawaban atas keresahan banyak generasi muda yang sebelumnya merasa "takut" atau "asing" dengan pengajian konvensional yang ketat dan penuh penilaian.

Model dakwah egaliter seperti ini menjadi penting di era post-truth, ketika kepercayaan pada otoritas tidak lagi dibentuk semata-mata oleh gelar atau lembaga, melainkan oleh kedekatan emosional dan keaslian karakter. Dalam hal ini, Gus Iqdam tampil sebagai figur yang otentik, tidak dibuat-buat, dan berani menampilkan sisi manusianya.

2. Komunikasi Lintas Budaya dalam Dakwah Digital

Dalam konteks komunikasi lintas budaya, Gus Iqdam menunjukkan kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap audiens dari latar belakang sosial yang beragam. Hal ini tampak dari:

• Penggunaan Bahasa Hybrid

Campuran antara bahasa Jawa ngoko dan bahasa Indonesia formal menciptakan jembatan komunikasi antarbudaya lokal dan nasional. Ini menyesuaikan dengan prinsip code-switching dalam komunikasi lintas budaya.

• Hierarki dan Power Distance

Meskipun posisi Gus Iqdam sebagai kiai memberi otoritas simbolik, gaya ceramahnya tetap rendah hati dan inklusif. Ia sering menyapa penonton dengan panggilan akrab seperti “cah-cah kabeh” (semua teman-teman), yang menunjukkan pendekatan egaliter dalam konteks budaya tinggi power distance seperti Indonesia.

• Nilai Kolektivisme

Isi ceramah menekankan pentingnya kebersamaan, keikhlasan, dan kontribusi sosial, yang mencerminkan budaya kolektivis masyarakat Indonesia. Ia menggunakan contoh kehidupan masyarakat dan keluarga sebagai bentuk konkret ajaran Islam dalam praktik sosial.

3. Efektivitas Retorika dalam Membangun Koneksi Emosional

Retorika dikatakan sebagai perpaduan antara komunikasi dan pemahaman karena itu merupakan bidang ilmu yang berkaitan dengan bidang bertutur, untuk menguasainya diperlukan keterampilan menggunakan bahasa secara efektif di depan banyak orang. Memiliki kemampuan berbicara secara efektif, menggunakan bahasa secara efektif untuk berkomunikasi, dan memiliki seni  berpidato yang berlebihan untuk menarik perhatian publik adalah tiga definisi dari retorika. Retorika adalah bidang yang menyelidiki cara berbicara dengan benar di depan banyak orang, berdasarkan tiga definisi tersebut (Pramesthi 2023).

Pada awalnya, retorika hanya dianggap sebagai kemampuan untuk berpidato, bukan disiplin ilmu. Karena retorika bahkan digunakan oleh kaum sofis untuk memenangkan kasus, sangat penting untuk menjadi mahir dalam menggunakan argumen yang didasari bukti untuk menghindari perdebatan yang tidak sehat. Ini adalah bagian dari fungsi retorika sebagai komunikasi persuasif, di mana kekuatan persuasif pembicara dapat dinilai dari logika, etika, dan perasaan mereka.

Aristoteles, seorang filsuf, menyatakan bahwa retorika adalah ilmu yang sama dengan semua ilmu lainnya. Selain itu retorika juga tidak dapat dimasukkan dalam ilmu lain, karena ilmu lain memanfaatkan retorika dalam penggunananya (Dhia, Pramesthi, and Irwansyah 2021).
Retorika Gus Iqdam tidak hanya informatif tetapi juga persuasif secara emosional. Ia sering menggunakan pengalaman pribadi atau analogi kehidupan yang dekat dengan audiens muda, seperti kegelisahan, pencarian jati diri, dan tekanan sosial. Teknik ini sesuai dengan prinsip retorika pathos, yakni membangun koneksi emosional untuk memperkuat pesan dakwah.

Kesimpulan

Retorika yang digunakan dalam ceramah Gus Iqdam, Ngaji Ngatur Jiwo, yang ditampilkan di kanal YouTube, menggabungkan metode dakwah konvensional dengan pendekatan komunikasi kontemporer. Gus Iqdam dapat menjangkau audiens yang beragam dan membangun hubungan emosional dan kultural yang kuat dengan menggunakan prinsip komunikasi lintas budaya. Gaya ceramahnya yang kontekstual, inklusif, dan adaptif membuatnya menjadi model dakwah yang relevan di era teknologi modern. Studi ini meningkatkan studi komunikasi keagamaan dan menunjukkan betapa pentingnya pemahaman lintas budaya dalam dakwah modern.

Daftar Pustaka

https://www.youtube.com/watch?v=b7gqBR7BOTs&t=1845s

Dhia, Rifqi Nadhmy, Jasmine Alya Pramest 2021. “Analisis Retorika Aristoteles Pada Kajian Ilmiah Media Sosial Dalam Mempersuasi Publik.” Linimasa: Jurnal Ilmu Komunikasi 4(1):81–103.

Geertz, Clifford. 1976. The Religion of Java. University of Chicago press.
Hall, E. T. 1976. “Beyond Culture, New York (Anchor Press) 1976.”

Hofstede, Geert. 2001. Culture’s Consequences: Comparing Values, Behaviors, Institutions and Organizations across Nations. Sage publications.

Kennedy, George A. 1991. “On Rhetoric: A Theory of Civic Discourse.”

Pramesthi, Jasmine Alya. 2023. “Analisis Pidato Kajian Retorika Aristoteles Pada YouTube Video Perayaan Wisuda Virtual.” Jurnal Ilmu Komunikasi Dan Media Sosial 3(3):701–8.

Samovar, L. A., R. E. Porter, E. R. McDaniel, and C. S. Roy. 2012. “Communication between Cultures. Boston: Wardsworth.”

Sobur, Alex. 2001. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik Dan Analisis Framing. Remaja Rosdakarya Bandung.

Zamroni, Muh Ruslan. 2023. “Dakwah Melalui Humor Ala Gus Iqdam.” JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH 1(2):170–81.

 

* Laila Miftahul Janah 

 

Editor : Jauhar Yohanis
#komunikasi #sabilu taubah #dakwah #gus iqdam