Sabtu, 20 Apr 2019
radarkediri
icon featured
Features

Slamet Widodo, Cari Celah Bisnis dengan Kembangkan Hidroponik

Siasati Pemasaran dengan Manfaatkan CFD

15 April 2019, 12: 09: 26 WIB | editor : Adi Nugroho

pengusaha hidroponik

SEGAR: Slamet Widodo mencabut tanaman slada hidroponik di rumahnya, kemarin. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Slamet Widodo tak menyangka bisa kuliah di Fakultas Pertanian. Dari pendidikan inilah karirnya dimulai. Menjadi pengusaha muda hidroponik yang hasilnya semakin diminati masyarakat.

MOCH. DIDIN SAPUTRO

“Sebenarnya dari dulu saya yakin, suatu saat hidroponik pasti laku dan sangat prospek. Apalagi saat ini banyak alih fungsi lahan,”  ujar Slamet Widodo saat ditanya alasan utama menjadi pengusaha hidroponik.

Alasan tersebut menjadi kalimat pamungkasnya untuk memotivasi diri dan teman-temannya. Memang selama ini dia berpikir bahwa lahan yang semakin sempit ini menjadi momok sektor pertanian. Budidaya tanaman akan semakin menurun. “Banyak yang buat perumahan. Itu jadi kesempatan hidroponik sebagai solusi tersebut,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri di rumahnya.

Kesempatan menjadikan lahan sempit itulah yang kini diterapkan pemuda yang karib disapa Slem ini. Dia memanfaatkan lahan di samping rumah untuk digunakan sebagai lahan budi daya. Gemericik air di dalam naungan itu membuat suasana alami terasa. Ditambah hijaunya tanaman budidaya semakin membuat segar sore itu.

“Bertani hidroponik itu selain menguntungkan juga seni. Dengar gemericik air dan lihat tanaman hijau menjadi lebih segar,” cetus Slem sembari mengamati tanaman sawi yang dibudidayakannya.

Slem mengaku dahulu tak menyangka bisa kuliah di fakultas pertanian. Padahal saat di SMK dia mengambil jurusan teknik mesin. Namun sejak dulu jiwa wirausaha telah tertanam. Terbukti pada awal kuliah dia juga sempat membuka usaha cucian motor. “Saya sambi di samping rumah. Buat tambahan biaya kuliah,” ujarnya.

Usaha hidroponik ini berawal saat dia menjalani praktik kerja lapang (PKL) di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Karangploso, Malang. Di sana dia belajar tentang teknik hidroponik. Ditambah penerapannya saat skripsi. Selama ini sebenarnya banyak kendala saat menjalani bisnis ini. Namun dengan tekadnya Slem mampu menghadapi kendala tersebut. “Dulu awalnya bingung mau dijual ke mana,” kenangnya.

Akhirnya Slem memanfaatkan acara mingguan car free day (CFD) Kota Kediri untuk menjual hasil budidayanya tersebut. Dari sanalah tanaman hidroponiknya mulai dikenal. “Saya yakin mereka tertarik karena pola hidup sehat yang semakin tinggi,” imbuhnya.

Selama ini memang warga lebih suka sayur organik yang menyehatkan. Terutama masyarakat perkotaan. Selain sehat juga terkait kebersihannya.  Memulai bisnis ini menurutnya susah-susah gampang. Apalagi modal yang tak sedikit harus dikeluarkan untuk melakukan usaha pertanian satu ini. “Saya dulu pakai esbes, jadi tidak terlalu mahal biayanya,” jelasnya.

Pertama kali, pemuda yang hobi sepak bola ini hanya menanam dua jenis tanaman.Selada dan pakcoy. Ditanam di greenhouse ukuran kecil 4x6 meter. Di sebelah rumahnya di Dusun Sumberurip, Desa Manggis, Ngancar. Kini dia telah menanam berbagai jenis tanaman. Bahkan terakhir mulai mencoba menanam okra dan itu cukup disukai masyarakat.

Dua tahun lebih Slem menjalani bisnis ini. Setidaknya sudah ada 17 mitra hidroponik dalam satu grupnya. Selain pada CFD, dia juga memanfaatkan swalayan untuk memasarkan hasil hidroponiknya. “Kalau punya mitra, kita lebih mudah dalam pemasarannya. Karena semakin hari minat masyarakat terhadap sayuran sehat semakin tinggi,” ungkapnya.

Apalagi selama ini dia mengedepankan kualitas dalam menjualnya. Saat panen penuh ketelitian untuk menyortir tanaman yang layak jual atau tidak.

Berasal dari keluarga sederhana tak menyurutkan pemuda 26 tahun ini untuk tetap bersikeras menjalani aktivitasnya sebagai pengusaha hidroponik. Bahkan dia sempat ditawari menjadi guru honorer di salah satu SMK negeri namun dia menolaknya.

Saat ini selain aktivitas sebagai petani hidroponik, Slem juga kerap diundang untuk menjadi pemateri pelatihan hidroponik. Hal ini semakin mengasah kemampuannya dalam hal publik speaking. Dan semakin komunikatif. “Padahal dulu setiap bicara di depan orang banyak selalu deg-degan,” paparnya.

Kegigihan pemuda satu ini memang perlu mendapat apresiasi. Bahkan kini teman-temannya pun banyak yang tertarik mengikuti jejak Slem. Menjadi pengusaha muda yang memiliki semangat luar biasa.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia