Sabtu, 20 Apr 2019
radarkediri
icon featured
Features

Belajar dari Kasus Ririn, Tagihan Bengkak karena Anak Main Game Online

Batasi Akses tapi Masih Jebol

14 April 2019, 18: 31: 07 WIB | editor : Adi Nugroho

game online

BOBOL: Belajar dari kasus Ririn, tagihan bengkak karena anak main game online. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Betapa kagetnya Ririn Ike Wulandari saat mendapati tagihan telepon pascabayarnya membengkak. Setelah ditelusuri penyebabnya adalah sang anak membeli item untuk permainan online.

Nama Ririn Ike Wulandari sedang menjadi sorotan saat ini. Banyak mata yang menaruh perhatian pada kejadian ‘menarik’ yang menimpanya. Wanita berusia 37 tahun ini mendapat tagihan ponsel pascabayarnya yang ‘tak biasa’. Total tagihannya mencapai Rp 11 juta.

Apa penyebabnya? Tagihan fantastis itu ternyata akibat sang anak yang membeli banyak item game melalui gawai orang tuanya itu. Inilah yang mungkin harus diwaspadai oleh orang tua saat ini. Sebab, anak yang suka bermain game online bukan hanya putra Ririn yang masih berusia 12 tahun itu. Nyaris semua orang tua mengakui anak-anaknya memang senang bermain permainan daring itu.

Ririn, mengaku sang anak sejatinya belum lama mengenal permainan daring. Kegemaran anak kelas 6 SD itu baru terasa dalam 2-3 bulan terakhir. “Mungkin sekitar Februari ini. Belum lama sebenarnya,” aku warga Desa Wonorejo, Ngadiluwih, Kabupaten Kediri ini kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Tole (panggilan Ririn kepada anak lelakinya) bermain game online menggunakan gawai sang Ayah. Sebab, sebenarnya Ririn memang tak memfasilitasi anaknya untuk memiliki gawai sendiri. Dengan gawai sang ayah itulah Tole biasa tenggelam dalam permainan itu sepulangnya dari sekolah.

Berbagai antisipasi sudah dilakukan Ririn untuk membatasi gerak sang anak bermain gawai. Setiap kali menggunakan Tole pasti meminta izin. Sebab, ada kata kunci dan sidik jari untuk penggunaan gawai tersebut. Otomatis tanpa persetujuan sang ayah, Tole tentu saja tak bisa menggunakan.

Di mata Ririn, anaknya juga tak dianggap kecanduan. Karena jika tak diberi akses menggunakan gawai, dia juga tak memberontak. Hanya, memang raut mukanya menjadi sedih atau menunjukkan wajah ngambek.

Selain itu, Ririn menganggap anaknya tak pernah lupa waktu dalam bermain game online. Kadang hanya beberapa menit pemakaian sudah berhenti. Baru kemudian bermain lagi. Jika ditotal, dalam sehari mungkin hanya satu jam.

“Gawainya kan juga saya atur untuk pemakaian dengan mode anak. Jadi tidak bisa digunakan lebih dari dua jam. Tetapi ya kadang pernah terlupa untuk menerapkan mode tersebut,” ungkap perempuan berkerudung tersebut.

Ririn sendiri hampir setiap waktu berada di rumah. Ia sengaja mengundurkan diri dari pekerjaan lamanya sebagai operator di sebuah kecamatan di Kabupaten Kediri. Alasannya juga demi mendampingi tumbuh kembang anak-anaknya. Oleh karena itu, dengan adanya kejadian tersebut Ririn merasa kecolongan.

Menurutnya, kebiasaan Tole bermain daring tak lepas dari pengaruh lingkungan. Teman-teman sebayanya sama-sama gemar permainan itu. Bahkan teman-teman Tole itu punya gawai sendiri. Beda dengan anaknya yang masih memakai milik sang ayah.

Teman-teman Tole sering datang ke rumah. Sekitar 3 – 5 anak. Kemudian bermain game bersama. Kegiatan tersebut biasanya dilakukan sepulang sekolah. Tole sendiri bersekolah di SD yang menerapkan sistem full day school. Yaitu pulangnya sekitar 16.30 WIB.

“Kalau sedang bermain dan saya rasa sudah waktunya pulang ya saya minta teman-temannya untuk pulang. Kadang-kadang cukup dengan saya matikan lampunya, sudah paham,” papar Ririn.

Ririn mengakui anaknya cepat menyerap informasi dan pengetahuan baru. Termasuk soal permainan daring. Bahkan untuk memperdalam pengetahuannya Tole sering mengakses Youtube. Mencari tutorial bermain permainan yang dia gemari.

Tole bahkan lebih banyak menghabiskan waktu untuk melihat tutorial itu dibanding nge-game. Akun Youtube yang dilihat juga banyak ragamnya. Mulai dari Youtuber yang terbilang “wajar” hingga yang “emosional”.

Ririn menyadari bahwa Youtuber yang menawarkan konten dengan gaya meledak-ledak tersebut tidak pantas dilihat anaknya. Jika kedapatan sedang melihat akun tersebut, Ririn akan memintanya berhenti. Atau mengganti dengan saluran lain.

“Saya berikan pemahaman bahwa konten tersebut tidak mendidik dan tidak sesuai dengan umurnya,” tutur Ririn.

Ririn mengakui bahwa mungkin dalam pengawasan dan pembimbingannya ada yang belum maksimal. Untuk itu, ia pun tak lantas memarahi sang anak karena ulahnya tersebut. Ririn justru mengajak Tole untuk berbicara dari hati ke hati.

Menurut pengakuan Ririn, anaknya telah mengakui kesalahannya. Ririn juga telah memberikan hukuman bagi Tole. Yaitu tidak lagi menggunakan gawai, terutama untuk mengakses permainan daring.

Untuk diketahui, tagihan pembayaran telepon pascabayar milik suami Ririn sempat mencapai Rp 11 juta. Tagihan itu berasal dari penggunaan pembelian fitur tiga permainan daring Tole. Tercatat ada 41 transaksi pembelian diamond dari permainan tersebut sejak 12, 13, dan 14 Maret lalu. Alhasil, pembayaran tagihan pada bulan April sebanyak Rp 6,7 juta. Sedang transaksi tanggal 1 dan 2 April masuk tagihan bulan Mei senilai Rp 4,8 juta.

Kepada pengembang permainan tersebut, Ririn tengah berupaya membatalkan pesanan itu. Yaitu dengan melihat riwayat transaksi yang ada. Hasilnya ada beberapa pesanan yang berhasil digagalkan. Hingga 6 April jumlah pesanan yang bisa dibatalkan itu sekitar Rp 1,19 juta.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia