Sabtu, 20 Apr 2019
radarkediri
icon featured
Features

Ekspedisi Kali Serinjing, Telusur Sejarah Terbentuknya Kediri (25)

Rumah Magersaren di Muara Kali Serinjing

13 April 2019, 08: 38: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

pg minggiran

PUING: Tembok yang masih berdiri di bekas loji milik PG Minggiran. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Bekas peninggalan Kolonial Belanda hampir merata di sepanjang Kali Serinjing. Termasuk di Desa Minggiran yang menjadi muaranya. Di tempat ini pernah berdiri pabrik gula  yang meninggalkan cerita menarik.

Sebelum bertemu dengan Sungai Brantas, Kali Serinjing melewati belasan desa di Kabupaten Kediri. Yang terakhir adalah Desa Minggiran di Kecamatan Papar. Tempat ini merupakan hilir Kali Serinjing yang membentang sepanjang 35 kilometer.

Bukti sejarah terakhir sebelum Serinjing bermuara di Brantas adalah keberadaan bekas pabrik gula (PG) Minggiran. Pabrik gula yang juga merupakan bagian dari Handles Vereniging Amsterdam (HVA). Kini, dari pabrik yang telah ‘punah’ itu hanya tersisa satu loji. Yaitu loji milik pegawai PG kala itu.

Selain loji tersebut, ada tiga bangunan kecil di sekitarnya. Ukurannya lebih kecil dibanding bangunan loji. Tiga bangunan yang terlihat sederhana itu merupakan rumah pribumi. Dulu, rumah itu dimiliki oleh buruh di pabrik gula tersebut. Kini, rumah-rumah itu juga sudah berpindah tangan.

Selain rumah-rumah tersebut, tak banyak peninggalan lain yang tersisa. Bahkan fondasi utama pabrik sudah tertimbun pasir. Bekas sedimen dari Sungai Brantas. “Pada tahun 1980-an daerah ini adalah rawa-rawa. Jadi diberi pasir hasil sedotan dari Sungai Brantas,” kata Wijianto, warga sekitar, saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri.

Dari keterangan pria yang karib disapa Wiji itu satu-satunya fondasi pabrik adalah bekas penggilingan. Itu ada di depan SMPN 2 Papar. Masuk Dusun Morangan, Desa Minggiran. Letaknya masuk salah satu gang. Dari jalan raya jaraknya sekitar 200 meter ke arah barat. Namun kondisinya saat ini sudah tak terlihat. Banyak sulur-sulur tanaman yang cukup rimbun menutupi fondasi tersebut.

Warga sekitar menyebut bahwa dahulu SMPN 2 Papar merupakan emplasmen atau tempat berkumpulnya lori pengangkut tebu. Sebelum ditimbang ke dalam pabrik. Tepat di barat SMP, ada lapangan sepak bola. Warga menyebut bahwa lapangan tersebut telah ada sejak zaman Belanda. Saat PG Minggiran masih berdiri.

Kawasan Sungai Brantas memang selama ini banyak dijumpai pabrik gula skala besar. Di Kediri saja setidaknya ada 4 pabrik. Namun hingga saat ini hanya dua PG yang masih aktif. Yakni PG Ngadirejo di Jambean, Kras, dan PG Meritjan di  Mojoroto, Kota Kediri. Sementara PG Purwoasri bernasib sama dengan PG Minggiran yang tinggal fondasinya saja.

Menariknya, di PG Minggiran yang dulu masuk onderneming atau perkebunan wilayah Minggiran ini masih ada satu loji yang tersisa. Lokasinya ada di tepi jalan raya. Di sebelah barat Stasiun Minggiran. Hanya saja loji tersebut tertutup warung. Sehingga tak terlihat dari jalan raya penghubung Kertosono dengan Tulungagung itu.

Kondisi rumah loji yang bergaya indishce peralihan ini masih terawat. Terbukti dari kebersihan halaman depan. Masih lengkap dengan garasi kendaraan di utara rumah yang dihubungkan dengan selasar. Jika dilihat dari peta Belanda tahun 1915, ada 4 loji yang sama. Berjajar di barat jalan. Ditengarai sebagai rumah dinas pegawai. Sementara rumah Administratur atau yang kerap dipanggil besaran pabrik. Letaknya lebih ke utara. “Rumah besaran sekarang jadi markas pengairan. Tapi sudah dibongkar,” jelas Wiji.

Selain rumah dinas pegawai masih ada tiga rumah yang disebut milik bekas karyawan PG. Rumah-rumah tersebut dikenal dengan istilah Magersaren atau Magersari. Ternyata Magersari ini dahulu merupakan nama dusun. Yang kini telah diubah dengan nama Dusun Morangan. Tak banyak yang tahu dari istilah apa Magersaren ini muncul. Yang jelas di sejumlah pabrik gula lain juga ada daerah Magersari yang lokasinya berada di dekat pabrik. Seperti di bekas PG Kentjong yang juga ada nama Dusun Magersari.

Kondisi rumah-rumah tersebut tampak kurang terawat dibanding rumah loji yang ukurannya lebih besar. Bahkan satu rumah sudah direnovasi dan hanya sedikit terlihat keaslian bangunannya. Rumah-rumah ini tampak rendah. Sebab memang daerah tersebut dahulu telah diurug dengan pasir seperti yang dikatakan Wiji. Proses pengurugan itu sebelum dibangunnya Bendung Gerak Waruturi, Gampengrejo.

Bukti keberadaan bekas PG Minggiran ini melengkapi peninggalan-peninggalan bersejarah yang ada di sepanjang aliran Kali Serinjing. Membuktikan bahwa sekitar aliran kali yang melewati enam kecamatan di Kabupaten Kediri merupakan kawasan penting sejak dulu. Dimanfaatkan sejak zaman Kerajaan, Kolonial Belanda, bahkan hingga sekarang masih menjadi sarana penting bagi kehidupan warga. Utamanya di wilayah timur dan utara Kabupaten Kediri.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia