Sabtu, 20 Apr 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Pindah ke Nganjuk karena Lebih Strategis

10 April 2019, 15: 00: 45 WIB | editor : Adi Nugroho

berebut gunungan

MERIAH : Ratusan orang berebut gunungan sayur dan buah-buahan di depan pendapa. (Anwar Bahar Basalamah - radarkediri.id)

Jauh sebelum berpindah ke Nganjuk, Kecamatan Berbek dulu merupakan pusat pemerintahan. Tiga bupati pernah berdinas di wilayah yang berada di kaki Gunung Wilis itu. Setelah itu, dengan pertimbangan demografi dan ekonomi, Belanda memindahkan pemerintahan ke Kota Nganjuk sampai sekarang.

          Kasi Sejarah, Seni Tradisi, Museum dan Kepurbakalaan Dinas Pariwisata, Pemuda, Olahraga dan Kebudayaan (Disparporabud) Nganjuk Amin Fuadi mengatakan, pemindahan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk terjadi di masa bupati ketiga Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Sosrokoesoemo II. Peristiwa itu tercatat pada 21 Agustus 1880. “Dua bupati sebelumnya masih berpusat di Berbek,” kata Amin kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.

          Pemindahan pusat pemerintahan, lanjut Amin, berdasar perjanjian Sepreh yang dibuat Pemerintah Kolonial Belanda dan Kesultanan Jogjakarta. Zaman itu, Nganjuk merupakan residensi di bawah Kerajaan Mataram, Jogjakarta.

          Salah satu isi perjanjian iadalah merampingkan pemerintahan residen di Nganjuk. Sebelumnya, Kesultanan Jogjakarta membawa tiga residen. Yakni Nganjuk, Kertosono, dan Berbek. “Dengan dijadikan satu, kesultanan lebih mudah melakukan pengondisian,” tuturnya.

          Kenapa Nganjuk yang dipilih? Amin mengatakan, pemerintah kolonial memiliki sejumlah pertimbangan saat itu. Pertama, secara demografis, letak Nganjuk lebih strategis dibanding Kertosono dan Berbek. “Posisinya ada di tengah-tengah,” tandasnya.

          Posisi strategis itu, menurut Amin dilihat berdasar jarak Nganjuk dengan Kediri dan Madiun. Sebab, jarak tiga residen tersebut tidak terlalu jauh. Faktor lainnya adalah pertimbangan ekonomi. Waktu itu, Nganjuk sudah memiliki jalur rel kereta api. “Rel membantu pengirima barang dan transportasi jadi lebih mudah,” urainya.

          Setelah keputusan memindahkan pusat pemerintahan, Bupati KRT Sosrokoesomi II melakukan boyongan. Seluruh pusaka yang sebelumnya berada di Berbek dipindahkan ke Nganjuk. Di antaranya adalah tombak dan payung. “Seperti yang kita lihat setiap ritual boyongan. Ada simbol pemindahan pusaka. Tapi sebenarnya pusaka yang dipindah tidak hanya tombak dan payung,” ungkap alumnus STIE Artha Bodhi Iswara (ABI) Surabaya ini.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia