Sabtu, 20 Apr 2019
radarkediri
icon-featured
Events

Anang Iskandar, Anak Tukang Cukur, Meretas Jalan Menuju Senayan (1)

Dari Rp 70 Per Kepala, Dia Siapkan Masa Depan

10 April 2019, 12: 30: 22 WIB | editor : Adi Nugroho

anang iskandar cukur rambut

SEJAK SD: Anang Iskandar memotong rambut tukang cukur di Blitar. Keterampilan itu sudah dikuasainya sejak kelas empat SD. (Anang Iskandar for radarkediri.id)

Gunting dan pisau cukur sudah diakrabinya sejak kanak-kanak. Kelak, saat remaja, peralatan itulah yang mengantarnya untuk hidup mandiri. Tanpa membebani orang tuanya lagi.

Pohon asem di Jalan Residen Pamudji, seberang Losmen Merdeka, Mojokerto adalah tempat mangkal Suyitno Kamari Jaya. Di bawah pohon itulah dia melayani para pelanggannya. Untuk potong rambut. Dari pagi hingga sore. Selama berpuluh tahun sejak 1950-an.

“Ayah saya baru berhenti mencukur pada 1983 setelah wafat. Ketika anak pertama saya masih dalam kandungan istri,” ungkap Anang Iskandar.

Anang adalah anak Suyitno Kamari dan Raunah yang ibu rumah tangga biasa. Dia asli kelahiran Mojokerto, 18 Mei 1958. Tepatnya di sebuah rumah sederhana di Jl Empu Nala No 351, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Kota, Mojokerto.

Lahir bukan dari orang tua berada, Anang akrab dengan kesulitan hidup. Apalagi, dia punya banyak adik. Sejak kecil, mereka semua terbiasa dalam kebersahajaan. “Kami keluarga besar. Saya anak nomor dua dari enam bersaudara. Kalau ada makanan harus berbagi,” kisahnya.

Sebagai anak lelaki paling besar di keluarganya (kakak pertamanya adalah perempuan, Red), sang ayah sudah mendidiknya dengan penuh kedisiplinan. Termasuk, untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Setiap pagi, selepas salat Subuh, Anang Iskandar harus menimba air untuk kebutuhan mandi keluarganya. Sementara kakaknya membantu sang ibu memasak di dapur.  

Suyitno Kamari juga mendidik Anang untuk mandiri. Dengan mengenalkannya pada aneka gunting cukur yang menjadi peralatan kerjanya. Secara tidak langsung, Anang juga sering diajak untuk melihat bagaimana dia bekerja. Merapikan rambut para pelanggan. “Sejak kelas empat SD saya sudah mulai dikenalkan alat-alat potong rambut oleh ayah,” kenangnya.

Semua itu menjadi pembelajaran bagi Anang. Hingga suatu ketika Suyitno Kamari tiba-tiba ‘mengujinya’ untuk langsung praktik. Yakni, ketika ada teman Anang Iskandar ikut membantu memperbaiki kamar mandi di rumahnya. “Panggilannya Tukiman Pedet,” sebut Anang. Oleh sang ayah, Tukiman dihadiahi cukur rambut gratis. Cuma, yang diminta mencukur adalah Anang. Di bawah bimbingan langsung Suyitno Kamari. “Mulai saat itulah saya gandrung mempelajari seni potong rambut,” lanjut dia.

Keterampilan barunya tersebut segera membuat Anang dikenal di antara teman-temannya. Banyak di antara mereka yang meminta untuk dicukur rambutnya. Hingga lulus SD lalu SMP, skill-nya dalam dunia potong rambut semakin terasah.

Ketika masuk SMA, Anang memanfaatkan hal itu untuk mencari penghasilan. Meringankan beban biaya yang harus ditanggung orang tua. Difasilitasi Yulia, guru guidance and counseling (GC)-nya di SMA Taruna Nusa Harapan (TNH), Anang memiliki ‘lapak’ potong rambut di lingkungan sekolahnya.

Sutidjab, guru SD TNH yang berada satu kompleks, juga turut membantu. Yakni, dengan mengarahkan murid-muridnya untuk potong rambut kepada Anang. “Tarifnya saat itu Rp 70 per kepala. Nggak ada seratus rupiah. Saya nyukur pagi hari sebelum jam sekolah,” ungkapnya.

Uang hasil nyukur itulah yang dia tabung dan gunakan untuk keperluan sehari-hari. Ada yang untuk membiayai sekolah. Ada yang digunakan untuk sekadar jajan. Ada pula yang digunakan untuk membiayai kursus fotografi ketika dia mulai duduk di kelas tiga.

Kursus fotografi adalah bagian dari investasinya untuk masa depan. Setidaknya, dengan menambah keterampilan di luar potong rambut, Anang merasa lebih siap menghadapi kehidupan setelah lulus dari SMA. Dia bisa mandiri. Tidak perlu membebani orang tuanya. “Saya kursus pada Pak Jacob Frehadi, guru saya ketika masih di SMPN 2 Mojokerto,” tutur Anang.

Bukan hanya teknik fotografinya, tapi juga teknik cetaknya. “Saat itu semua serbamanual,” tambahnya. Jadi, Anang juga menguasai teknik mencuci film untuk kemudian mencetak gambar fotonya di atas kertas.

Tidak cukup itu, Anang juga mengambil kursus melukis sebagai investasi masa depannya. “Tiga keterampilan itu: mencukur, fotografi, dan melukis saya anggap bisa dijadikan bekal setelah lulus dari SMA,” sebutnya.

Sebagai anak tukang cukur, Anang menyadari betul hal itu. Apalagi, sang ayah sempat mengajaknya bicara langsung. “Bapak hanya bisa menyekolahkan kamu sampai SMA, seperti mbakyumu. Adik-adikmu masih banyak,” katanya menirukan ucapan sang ayah saat itu.

Ucapan Suyitno Kamari Jaya, sang ayah, yang hari-harinya banyak dihabiskan di bawah pohon asem di Jalan Residen Pamudji, Mojokerto itulah yang menjadi pelecut Anang untuk mandiri. Selepas SMA, dia harus benar-benar bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Untuk menggapai masa depannya sendiri.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia