Senin, 22 Apr 2019
radarkediri
icon featured
Politik
Wawancara Bupati Kediri Haryanti Sutrisno

Bupati Tak Intervensi agar Desa Kian Berkreasi

25 Maret 2019, 17: 31: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

Bupati Kediri Haryanti Sutrisno

Bupati Kediri Haryanti Sutrisno

Bagi Bupati Haryanti Sutrisno, tahun ini adalah tahun keempat masa kepemimpinan periode keduanya. Berbagai kebijakan yang dia terapkan sejak awal sudah menampakkan manfaatnya. Apa saja kebijakan itu, berikut petikan wawancara yang juga terkait Hari Jadi ke-1215 Kabupaten Kediri.

Memasuki tahun keempat periode kedua ini, apa yang dirasakan?

Saya lega. Sejumlah proyek sudah diselesaikan dan sudah bisa dimanfaatkan masyarakat. Seperti RSUD SLG yang saat ini sudah berjalan. Juga proyek Jembatan Wijayakusuma yang sudah sangat lama kami ajukan juga sudah diselesaikan Pemerintah Pusat. Masyarakat sekarang juga sudah merasakan manfaatnya.

Adakah yang saat ini masih ingin diselesaikan?

Ada. Seperti jembatan gantung. Saat ini kami ingin siswa tidak kesulitan menuju sekolahnya. Kami ingin mengajukan ke Pemerintah Pusat agar proyek jembatan gantung ini bisa terealisasi. Khususnya untuk area yang dipisahkan sungai atau jurang. Paling tidak bisa digunakan untuk sepeda motor atau pejalan kaki. Juga proyek RTH (ruang terbuka hijau, Red) yang akan terus ditambah di tempat-tempat yang memungkinkan. 

Selain jembatan dan rumah sakit, adakah proyek strategis lain yang menjadi perhatian khusus?
Saat ini saya sedang memberi perhatian khusus untuk pengembangan pasar yang dikelola Pemkab Kediri. Semua kalau bisa direhabilitasi dan dibuat senyaman mungkin untuk pedagang dan pembeli. Juga rencananya, tahun ini kami membangun rumah potong hewan (RPH) modern.

Khusus pasar kabupaten, apa yang dilakukan untuk memberikan kenyamanan?

Rehab yang dilakukan memang dibangun dengan konsep terbuka dan satu lantai. Jangan sampai kios-kios menutup pandangan pembeli ke dalam pasar.  Khawatirnya, pembeli enggan masuk dan membuat pedagang keluar. Akhirnya, pasar jadi ruwet lagi. Kebersihan juga harus dijaga. Pedagang dan pembeli harus benar-benar menjaganya.

Mengenai RPH, kenapa juga menjadi prioritas?
Kebutuhan RPH memang sangat mendesak. Saat ini, produksi sapi potong di kabupaten sangat besar. Sementara kapasitas RPH terbatas. Tahun ini, akan dibangun dengan kapasitas lebih banyak  hingga 5 kali lipat di Pare.  Dengan peralatan modern. Harapannya tidak ada lagi jagal di rumah dan PAD pasti akan bertambah.

Saat ini, banyak tumbuh desa wisata. Bagaimana Anda melihatnya?
Saya melihat, ini fenomena yang sangat positif. Desa mampu lebih mandiri dengan memanfaatkan maksimal kucuran dana besar dari pemerintah.  Satu desa yang melihat desa lainnya tumbuh besar, lainnya ikut terpacu dan berkreasi untuk lebih positif. Pemerintah tidak boleh intervensi terlalu banyak agar desa lebih mampu berkreasi.

Anda melihat adakah perbedaan yang terasa dari tumbuhnya desa wisata ini?

Iya, seperti Desa Joho, Kecamatan Semen, sangat jauh berkembang. Dulu termasuk desa miskin, sekarang dengan keberadaan desa wisata, pendapatan warga meningkat. Ini yang kita harapkan juga terjadi di desa-desa lainnya.

Dari perjalanan pemerintahan yang sudah berjalan empat tahun di periode kedua ini, adakah yang terasa berat?

Inilah yang saya herankan. Mendekati  akhir periode, justru banyak informasi-informasi yang tidak benar yang beredar. Seperti pembelian beras organik yang memang benar-benar untuk membantu petani dan informasi lain. Ini yang akan saya luruskan dengan terus mendekati masyarakat dengan menyampaikan informasi yang benar. (*)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia