Sabtu, 20 Apr 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Ekspedisi Kali Serinjing, Telusur Sejarah Terbentuknya Kediri (3)

Zaman Dulu, Hulu Serinjing Kawasan Makmur

21 Maret 2019, 19: 53: 24 WIB | editor : Adi Nugroho

naskah kuno paradah

BACA NASKAH KUNO: Novi Bahrul Munib meneliti tulisan yang tertera di Prasasti Paradah II. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Paradah menjadi wilayah penting dalam perjalanan sejarah Kali Serinjing. Meski saat ini daerahnya lebih dikenal berada di selatan sungai. Ternyata dulu kawasan yang menjadi hulu Kali Serinjing ini juga mencangkup wilayah utara sungai.

Keberadaan sejumlah prasasti yang ditemukan di timur Kabupaten Kediri menjadi bukti kuat perjalanan masa lalu di wilayah ini. Selain Prasasti Harinjing yang lebih dulu dikeluarkan, ada empat prasasti lain yang membahas hal serupa. Menggambarkan proses penganugerahan tanah perdikan di wilayah Paradah. Sesuai nama daerahnya, dua prasasti yang dimaksud adalah Prasasti Paradah I dan II. Sementara dua lainya adalah Prasasti Gneng (Brumbung) I dan II.

Cukup mudah untuk menjumpai semua prasasti ini. Letaknya hanya berbeda desa. Untuk Prasasti Paradah ada di Desa Siman. Sementara Gneng berada di Desa Brumbung. Keduanya masih masuk wilayah Kecamatan Kepung. Hanya saja kedua desa ini dipisahkan oleh Kali Serinjing.

Prasasti Paradah I dan II saat ini berada di pekarangan milik Jumadi di Dusun Siman. Sekitar 500 meter dari waduk. Dari data yang disebutkan oleh Novi Bahrul Munib, untuk Prasasti Paradah II dikeluarkan pada masa pemerintahan Rakai Hino Pu Sindok Cri Icanawikrama Dharmmotunggadewa pada tahun 865 Saka atau 943 Masehi.

“Prasasti ini merupakan maklumat tentang pemberian tanah sima Sang Hyang Dharma Kamulan di Paradah yang berada di utara sungai,” sebutnya.

Wilayah utara sungai yang dimaksud adalah di daerah Gneng. Yang merupakan daerah bawahan Watak Paradah. Novi menjelaskan, pada baris ke-19 sisi depan Prasasti Paradah II, disebutkan jelas tentang wilayah Watak Paradah. Tulisan itu yakni “Lwah ing Watak Paradah” atau sungai di wilayah Paradah. Sungai yang dimaksud yakni Kali Serinjing yang membelah wilayah tersebut.

Sementara Prasasti Paradah I hingga kini belum sepenuhnya diterbitkan hasil pembacaannya. Namun yang jelas, menurut Novi, masih ada hubungannya dengan anugerah tanah sima di wilayah Paradah. Terbukti dari istilah yang menyebutkan kata “Harinjing kidul Lwah”. Brarti ada di selatan sungai. Selanjutnya ada istilah tanah sima “lor ing Lwah”.

“Jadi uniknya ada istilah kidul ing lwah dan lor ing lwah (Selatan sungai dan utara sungai, Red),” jelasnya.

Hal itu membuktikan bahwa sungai yang dimaksud adalah sungai Serinjing yang membujur dari timur ke barat. Membelah wilayah Paradah. Menjadi bukti bahwa Kali Serinjing masih dimanfaatkan pada zaman Sindok. Bahkan hingga sekarang juga masih berfungsi untuk irigasi.

Hal ini cukup menarik. Sebab istilah Harinjing tersebut sangat erat kaitanya dengan prasasti Harinjing yang menjadi bukti pembangunan sungai bersejarah itu.

Hal menarik lainya adalah Prasasti Gneng I yang ditemukan di utara sungai. Itu juga menyebut bahwa Paradah mencangkup daerah Gneng. Prasasti ini diterbitkan pada 1050 Saka atau 1128 Masehi oleh Sri Bameswara. Raja Kerajaan Kediri. Pada baris ke-5 dan 6 menerangkan tentang pengukuhan anugerah raja kepada pejabat samya haji di Desa Gneng yang kala itu masih masuk wilayah Watak Paradah. “Mengulas tentang permohonan dari pejabat bawahan kepada raja agar seorang warga yang berjasa juga diberikan anugerah oleh maharaja,” ujarnya.

Tak hanya itu, tepat di sebelah Prasasti Gneng I juga ditemukan Prasasti Gneng II. Keduanya kini ada di Balai Desa Brumbung. Prasasti Gneng II menyebut terkait para pejabat yang terlibat dalam penganugerahan tadi. Dari bukti-bukti ini, dipastikan selain daerah selatan sungai yang menjadi pemukiman. Di daerah utara Kali Serinjing sejak dulu juga sudah ada peradaban. Bahkan masih dalam satu wilayah Paradah yang telah menjadi kawasan makmur di hulu Kali Serinjing.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia