Senin, 22 Apr 2019
radarkediri
icon-featured
Features

Ekspedisi Kali Serinjing, Telusur Sejarah Terbentuknya Kediri (2)

Punden Paradah, Bukti Pemukiman Kuno

20 Maret 2019, 17: 25: 19 WIB | editor : Adi Nugroho

ekspedisi kali serinjing

ARTEFAK: Benda-benda kuno yang masih tersisa di lokasi Punden Paradah. Menjadi bukti adanya peradaban di wilayah tersebut. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Keberadaan Kali Serinjing menjadi bukti kuat peradaban Kediri zaman dulu. Banyak peninggalan yang ada di sekitar sungai bersejarah tersebut. Salah satunya adalah Punden Paradah. Tempat pemujaan yang terdapat benda-benda bekas pemukiman.

Tempat Punden Paradah sangatlah mudah dicapai. Lokasinya dekat dengan jalan  utama penghubung Desa Besowo dan Desa Siman, keduanya di wilayah Kecamatan Kepung. Bila dari Waduk Siman jaraknya sekitar satu kilometer. Melewati tanah tegal milik warga.

Jalanan menuju ke punden tersebut masih berupa tanah. Lebarnya sekitar 2,5 meter. Jika ditarik garis lurus, ternyata punden ini hanya 300 meter dari Monumen Hari Jadi Kediri, monumen setinggi lima meteran yang selesai dibangun pada 1985.  Berada di daerah sudetan Kali Serinjing dengan Kali Konto. Di sebelah selatan waduk.

Secara administratif, punden yang dikeramatkan oleh warga sekitar tersebut masuk Dusun Bogorpradah, Desa Siman. Karena itulah masyarakat sekitar menyebutnya dengan Punden Bogorpradah, sesuai nama dusun yang ditempati. Namun dari beberapa bukti sejarah, punden yang menyimpan berbagai temuan artefak dan arca tersebut menyebut nama Paradah. Itu mengacu pada nama daerah lama pada masa Kerajaan Medang.

Dekat dengan Kali Serinjing, tak banyak yang tahu bahwa punden ini ternyata ada di daearah yang diperkirakan merupakan bekas pemukiman kuno. Yang jadi dasarnya adalah banyaknya temuan yang terkait dengan peradaban kuno yang ada di punden tersebut. Seperti umpak penyangga tiang bangunan, ambang pintu atau dorpel, dan masih ada lumpang batu.

“Di sekitar sini juga banyak ditemukan gerabah, pecahan keramik, dan batu bata kuno. Lokasinya di areal kebun dan persawahan warga,” kata penggiat budaya Kabupaten Kediri Novi Bahrul Munib.

Saat berjalan menuju ke lokasi ini, ada sejumlah pecahan batu bata merah, keramik, dan genteng di tegal milik warga. Pecahan tersebut bercampur dengan tanah. Dibuat guludan untuk tanaman budidaya. Namun ada sejumlah pecahan batu bata yang terlihat jelas di tepi jalan menuju punden.

Jika melihat referensi sejarah, kawasan Paradah itu sangat luas. Bahkan sempat disebut pada Prasasti Gneng I atau Brumbung I yang diterbitkan Raja Bameswara di era Kerajaan Kediri. “Di Prasasti Gneng I (Brumbung, Red) terbaca kalau Gneng masih masuk Watak Paradah,” jelas Novi.

Dalam sistem administrasi zaman dahulu. watak merupakan satu wilayah yang terdiri dari beberapa wanua atau unit ekonomi terkecil pada pemerintahan zaman dahulu. Tak hanya itu, istilah paradah sebagai suatu wilayah juga dijumpai pertama kali dalam Prasasti Harinjing A. Bagian sisi depan di baris 11. Pada baris tersebut menjelaskan adanya pejabat atau petugas dengan masing-masing keahlian. Di antaranya adalah astrolog atau ilmu perbintangan dan juru tulis atau pejabat yang membidangi urusan penulisan.

Di sisi lain, Novi menyebut bahwa lokasi punden yang berada di bawah pohon Pule besar itu dahulu juga sebagai tempat pemujaan. Hal ini terbukti dari laporan Belanda bahwa di sana juga sempat terdapat sejumlah arca Hindu. Di antaranya adalah satu arca Siwa, satu Nandi, dua arca Durga, dan satu lagi arca tokoh.

“Arca tokoh tersebut belum teridentifikasi, tetapi diduga merupakan Bodisatwa,” katanya.

Dari bukti tersebut, dipastikan di sana dahulu pernah terdapat bangunan suci. Tempat pemujaan di zaman kerajaan. Namun untuk saat ini keberadaan arca-arca tersebut sudah tidak diketahui lagi. Hanya tersisa satu arca berbentuk singa. Itu pun kondisinya sudah tidak utuh lagi.

Meski demikian, kondisi punden secara keseluruhan cukup terawat. Lokasinya bersih dan sejuk. Bahkan oleh warga sekitar juga dibangun pendapa sederhana yang sampai saat ini masih difungsikan. Hingga saat ini di punden tersebut juga masih aktif digunakan sebagai tempat pemujaan oleh sejumlah pemeluk kepercayaan.

Dari bukti-bukti itulah daerah Bogorpradah sejak dulu memang sudah menjadi wilayah penting bernama Paradah. Bekas pemukiman kuno yang sempat dihuni berbagai lapisan masyarakat. Tepat di kawasan hulu Kali Serinjing. Sebuah kali bersejarah yang masih ada hingga sekarang.

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia