Sabtu, 20 Apr 2019
radarkediri
icon featured
Features

Kisah Jembatan Lama yang Kini Resmi Jadi Situs Cagar Budaya

Pembangunannya Diprotes Insinyur

19 Maret 2019, 15: 15: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

jembatan lama kediri

SAKSI SEJARAH: Warga melintas di Jembatan Lama. Jembatan yang dibangun sejak era kolonial ini kini menyandang status cagar budaya Kota Kediri. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Jembatan Lama menjadi saksi perkembangan pembangunan Kota Kediri sejak dulu. Tetap berdiri kukuh meski sudah renta. Kini, jembatan yang berusia satu setengah abad tersebut telah resmi jadi cagar budaya Kota Kediri.

 

MOCH. DIDIN SAPUTRO

Bagi masyarakat Kota Kediri, keberadaan Jembatan Lama melekat dalam keseharian. Menjadi salah satu akses transportasi penting di kota ini. Setiap hari banyak yang melewati. Menyeberangi Sungai Brantas dari wilayah timur ke barat dan sebaliknya.

Meski sudah berusia 150 tahun, jembatan tersebut tetap kukuh berdiri. Meskipun  konstruksi utamanya menggunakan besi. Dulu, sebelum dibangun Jembatan Brawijaya, jembatan ini sempat dikhawatirkan mengalami pengurangan kekuatan. Warga kota cemas jembatan yang dibangun pemerintah kolonial Belanda ini mengalami penurunan daya tahan. Yang tentu saja bisa mempengaruhi keamanan penggunanya.

Kini, jembatan yang kemarin tepat berusia 150 tahun tersebut memang tak sepadat seperti sebelumnya. Jembatan itu lebih aman. Karena hanya roda dua yang diperbolehkan melintas. “Sementara kendaraan roda empat atau lebih harus melewati Jembatan Brawijaya yang berada persis di sisi utaranya,” kata Kabag Humas Pemkot Kediri Apip Permana kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Dari kisahnya, proses pembangunan Jembatan Lama tak jauh beda dengan Jembatan Brawijaya. Sempat terbengkalai akibat sejumlah kasus. Pembangunannya tidak lancar. Dari sejumlah catatan yang dipaparkan penggiat Budaya Kota Kediri Imam Mubarok, Jembatan Lama dulu pertama kali disebut dengan nama “Brug Over Den Brantas te Kediri”. Nama itu tertera di majalah yang terbit 1877. Ditulis oleh J. Van Pelzen.

Pembangunan jembatan pertama kali direncanakan pada  16 Mei 1854, atas putusan Gubernemen Hindia Belanda, jembatan berbahan batu akan dibangun berdasarkan desain seorang kapten zeni. Awal pekerjaan direncanakan mulai 1855. Dan pada tahun itulah dimulai.

Namun sebelum dimuai, ada pengajuan keberatan terhadap rencana pembangunan tersebut oleh insinyur kepala dari Waterstaatsafdeeling Soerabaia (Dinas Pekerjaan Umum Unit Soerabaia). Dengan alasan tiang batu yang besar akan mengakibatkan  aliran sungai  terhambat.

Pada 1861, pemasangan paku bumi di tengah sungai macet. Karena mengalami kesulitan teknis. Pekerjaan pun dihentikan. Hingga pada 1 Mei 1862, desain alternatif oleh Insinyur Sytze Westerbaan Muurling diajukan. Jembatannya menggunakan rangka besi. Hingga pada 27 april 1863 pemborongan pekerjaan dilakukan umum di Batavia, gagal. Bahkan setelah itu beberapa kali juga mengalami kendala teknis. Hingga pada 1865 mulai dikerjakan kembali dan ditargetkan selesai dalam waktu 2 tahun.

Namun pada 18 september 1867 batas waktu dilewati. Proyek mengalami keterlambatan akibat masalah teknis. Sampailah pada 11 Maret 1869, pekerjaan selesai. Jembatan lulus uji coba dan tepat 18 Maret 1869, jembatan dibuka untuk umum.

Di usia yang telah melampaui satu abad tersebut memang, penggiat budaya di Kota Kediri sudah lama ingin Jembatan Lama menjadi Cagar Budaya. Sehingga akan lebih terawat dan semakin aman.

Barok menyebut, perjalanan panjang untuk menetapkan cagar budaya itu dimulai pada 2013. Tepatnya pada 1 Maret 2013 tim mendapatkan data awal. “Kemudian kami lakukan penelusuran kembali. Membutuhkan waktu yang lama hingga 18  Maret 2013 kami adakan acara peringatan pertama ulang tahun Jembatan Lama ke 144,” ujarnya.

Setelah itu diusulkan ke Disbudparpora dan telah tercatat di situs Kemendikbud sejak 2015. Namun itu masih menunggu penetapan dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Provinsi Jatim. Akhirnya, dengan berbagai penilaian dan pertimbangan. Pada 15 Maret 2019 usulan tersebut disetujui oleh TACB. Akhirnya,  kemarin (18/3) resmi ditetapkan sebagai situs Cagar Budaya Kota Kediri.

Untuk diketahui, selain jembatan dengan konstruksi besi pertama di Jawa, dahulu jembatan ini merupakan satu-satunya jembatan akses penghubung Surabaya-Madiun. Sempat diberi nama ‘groote postweg’ atau istilahnya jalan raya.

Dengan ditetapkannya jembatan yang sering terjadi kebakaran kecil itu sebagai situs warisan budaya, maka untuk perawatan dan penggunaannya pun dilindungi. Butuh perlakuan khusus dan tentunya tidak boleh asal bongkar. Diharapkan dengan ini jembatan kebanggaan tersebut bisa lestari, bisa menjadi media pembelajaran sejarah dan dinikmati oleh anak cucu hingga nanti.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia