Sabtu, 20 Apr 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Tanggul Jebol, Ratusan Hektare Sawah Terancam

Warga Minta Pemkab Membangun secara Permanen

19 Maret 2019, 10: 29: 22 WIB | editor : Adi Nugroho

Jebol

BELUM DIPERBAIKI: Tanggul sungai Cungkrik di Desa Mojoduwur, Ngetos yang ambrol awal Maret lalu belum diperbaiki hingga sekarang. Irigasi ratusan hektare sawah di bawahnya pun tak maksimal. (Rekian - radarkediri.id)

NGANJUK-Tanggul Mlilir di Desa Mojoduwur, Ngetos yang ambrol sejak awal Maret lalu, belum diperbaiki hingga sekarang. Ratusan hektare sawah yang ada di sekitarnya pun terancam terkena air bah jika terjadi banjir susulan. Warga meminta agar pemkab segera membangun secara permanen agar air tak meluap.

          Pantauan koran ini, tanggul sungai Cungkrik itu jebol selebar sekitar delapan meter. Akibatnya, air yang seharusnya mengalir ke bawah pun kini sebagian mengalir tak terarah.

          Agar lahan di bawah tetap mendapatkan air, para petani membuat saluran irigasi darurat yang terbuat dari plastik. Panjangnya sekitar 50 meter. Irigasi darurat itu melewati pekarangan warga. “Ini (saluran irigasi darurat, Red) kesepakatan warga,” ujar Puguh Supriyanto, 41, staf Seksi Pemerintahan Desa Mojoduwur, Ngetos. 

          Lebih jauh Puguh mengungkapkan, total ada 800 hektare lahan pertanain di lima desa yang mengandalkan air dari tanggul tersebut. Makanya, karena tanggul tak kunjung diperbaiki, warga berinisiatif membuat aliran saluran darurat. “Ini untuk mencegah agar saluran ini tidak ikut ambles,” lanjut Puguh tentang pelapisan plastik di saluran baru itu.

          Dikatakan Puguh, tanggul sungai Cungkring itu tidak hanya jebol di satu titik. Di bagian hulu, menurutnya ada enam titik yang juga jebol. Banyaknya titik tanggul yang jebol itu dikhawatirkan bisa merusak bendungan Mlilir. “Kami berharap kerusakan bisa segera diperbaiki agar petani bisa memanfaatkannya kembali,” terang Puguh.

          Puguh menjelaskan, kerusakan tanggul sebenarnya sudah dilaporkan ke sejumlah pihak. Mulai Kecamatan Ngetos, dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (PUPR) hingga badan penanggulangan bencana daerah (BPBD). Meski sudah melapor beberapa minggu, Puguh mengakui surat resminya baru dikirim beberapa hari lalu.

          Sementara itu, usai menerima laporan dari warga, kemarin tim BPBD mengecek lokasi tanggul yang jebol. Plt Kabid Kedaruratan dan Logistik Agus Sulistiyono menjelaskan, sebelum menerima surat, timnya sempat melakukan asesmen di lokasi tanggul jebol tersebut. “Kami masih mengkaji kebutuhan tanggul yang jebol. Apakah cukup pakai bronjong atau dibangun permanen,” terangnya.

          Untuk kondisi darurat menurut Agus cukup memakai bronjong. Tetapi, saat mengecek lapangan kemarin, warga meminta dibangun secara permanen. Sehingga, butuh dana yang lebih besar.

          Atas dasar tersebut, BPBD lantas berkoordinasi dengan dinas PUPR. Apalagi, ternyata di bagian hulu juga banyak yang ambles. “BPBD akan membantu pengerjaan saluran di hulu yang ambles,” tuturnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia