Sabtu, 20 Apr 2019
radarkediri
icon featured
Kolom

--- KPM 110 ---

17 Maret 2019, 11: 28: 56 WIB | editor : Adi Nugroho

Iqbal Syahroni

Iqbal Syahroni

Bermodalkan jari, kuota internet, dan rasa penasaran, satu video langsung tersebar luas. Alih-alih ingin menunjukkan bahwa “Lihat siapa teroris sebenarnya”, para misionaris online malah menjadikan hal tersebut sebagai hal yang harus mereka tandingkan. Hal tersebut menurut saya adalah bukti tidak kompetennya mereka dalam berpikir dan bertindak.

Merasa seperti pahlawan kesiangan sambil menunjukkan rekaman penuh aksi pembantaian di Masjid di Kota Christchurch, New Zealand, para misionaris tersebut kemungkinan besar, secara sadar menyebarkan video tersebut. Mungkin niatnya baik, menyebarkan informasi terbaru secara cepat, dengan daya jangkauan yang tinggi, bahwa memang ada aksi teror di negara tersebut. Membantu masyarakat menerima informasi dengan cepat

Namun, bagaikan pisau mata dua, hal tersebut juga membuat agenda pelaku teror berhasil. Karena tujuan awal pelaku teror adalah untuk memberikan rasa cemas dan ketakutan untuk masyarakat. Narasi ketakutan yang sudah disusun dalam skenario pelaku teror akan menyebar dengan cepat dan luas.

Massa media sosial adalah audiens utama bagi para pelaku teror. Karena selain mudah, cepat, dan murah, media sosial dapat menjangkau hingga ke ujung dunia. Sejujurnya saya tidak begitu ingat ilmuwan yang sering disebutkan dalam mata kuliah KPM 110, Komunikasi Massa. Beberapa materi kuliah yang saya ingat, yaitu media massa sebagai alat dalam komunikasi massa yang vital. Apalagi, media massanya menggunakan visualisasi sebagai alat utamanya.

Dari visualisasi yang ditangkap mata, akan terus tersimpan di dalam daya ingat manusia. Untuk tingkat kengerian, saya tidak ingin membahasnya. Karena setiap orang punya takaran tersendiri untuk melihat hal-hal yang sangat eksplisit.

Yang menjadi permasalahan utama adalah orang yang menyebarkan video pelaku teror, seperti membiarkan teror menang. Entah apa yang ada di benak pikiran mereka saat menyebarkan video pembantaian baru-baru ini di New Zealand.

Para korban yang berada di video terlihat seperti mempertahankan diri dengan berlari menghindari teroris kulit putih tersebut. Beberapa memohon agar diampuni nyawa mereka. Jika yang ada di video tersebut adalah salah satu dari kerabat saya, jelas saya tidak ingin melihat saat saat terakhir kerabat saya dibunuh dengan cara keji, dan dilihat oleh banyak orang, di seluruh dunia.

Jika belajar logika berempati seperti itu saja tidak bisa, janganlah memanfaatkan situasi dengan memperburuk keadaan. Dengan maksud “lihat, bukan kami yang busuk, tapi mereka”. Selalu digaungkan di media sosial sembari mengirimkan video penuh adegan pembantaian di New Zealand.

Seharusnya saat ini, jika tidak bisa membantu dengan dana, maupun doa, tidak perlulah kalian memanfaatkan situasi dengan cara yang inkompeten seperti itu. Bukankah dari kalian sendiri yang pernah bilang untuk jangan terus mengejar dunia, karena dunia tidak ada habisnya? Kalian juga selalu menggaungkan bahwa yang terpenting adalah akhirat, dan hanya Tuhan yang dapat menilai perilaku kita. Bukan pengakuan dari orang bahwa kita bukan seperti yang mereka pikirkan.

Di tengah kemelut teror, para pelaku teror seolah puas. Aksi mereka dapat tereksekusi dengan rencana mereka. Cerita tentang yang satu visi dengan mereka juga akan menjadikan pelaku teror sebagai cult hero. Sedangkan umat yang menjadi korban dalam aksi teror, lebih memilih memperbaiki citra mereka di mata masyarakat, daripada mengulurkan bantuan nyata bagi keluarga yang ditingkatkan.

Sedikit agak keluar dari arti dan maksud sepenggal lirik dari lagu Bad Religion yang terbaru, namun syair “It’s a sad and pathetic badge of shame, my friend, terror always seems to win,” sesungguhnya tepat bagi aksi teror yang terjadi Jumat, 15 Maret 2019 lalu. Pelaku teror menang, ketakutan tersebar, dan masyarakat terpecah belah.

Namun, Gregory Walter Graffin menjelaskan di dalam syair yang ia nyanyikan “terror always seems to win” yang berarti tidak selamanya teror akan menang. Tergantung reaksi dari kita sendiri. Ingin hanya mengecam dan menjadi kambing yang digiring secara tidak sadar oleh pelaku teror. Atau menjadi pionir dengan memberikan bantuan nyata yang berguna bagi para korban aksi teror. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia