Minggu, 24 Mar 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Dihadirkan Dalam Sidang, Emoh Disebut Dukun Aborsi

PH Mengklaim Kliennya Hanya Membantu

15 Maret 2019, 13: 43: 04 WIB | editor : Adi Nugroho

aborsi bayi

PASRAH: Sumini, 94, seorang nenek yang diduga sebagai dukun aborsi saat menjalani persidangan di ruang Cakra PN Kabupaten Kediri (13/3). (Andhika Attar - radarkediri.id)

KEDIRI KABUPATEN - Sidang lanjutan kasus pembuangan bayi di area persawahan di Desa Krenceng, Kepung digelar kemarin. Kali ini, agendanya adalah pemeriksaan saksi terhadap seorang nenek yang diduga menjadi dukun aborsi. Yaitu Sumini, 94, warga Desa Krenceng, Kepung.

Pada persidangan tersebut menghadirkan saksi Kamsidi, 51, warga Desa/Kecamatan Kepung. Ia merupakan salah satu terdakwa dalam kasus pembuangan tersebut. Ia adalah pasangan dari Ika Wahyuningsih, 27, perempuan yang mengandung bayi dan membuangnya tersebut.

Atas kesaksian yang diberikan, Ander Sumiwi, penasihat hukum (PH) Sumini membantah apabila kliennya dianggap sebagai dukun aborsi. Sebaliknya ia justru mengklaim bahwa nenek tersebut membantu kesehatan kandungan dan bayi tersebut.

“Ini semua menurut saya hanya kesalahpahaman belaka. Hanya praduga yang tidak cukup kuat. Bahkan klien kami membantu kesehatannya (kandungan Ika, Red). Karena dulu dia mengaku kalau kandungannya sungsang,” terang Ander seusai persidangan kepada Jawa Pos Radar Kediri kemarin.

Setelah dilakukan pemijatan di rumah Sumini, Kamsidi mengaku bahwa kondisi Ika baik-baik saja. Menurutnya tidak ada perbedaan atau kesan kurang sehat setelah dilakukan pemijatan oleh Sumini.

Tidak hanya itu, kehamilan dan kelahirannya sendiri tidak lantas gugur setelah pijat tersebut. Bahkan berselang dua hari, Ika melahirkan bayinya dengan sehat. Ika pada saat itu melahirkan bayinya dengan kondisi sendirian, tanpa bantuan orang lain.

Fakta itu juga yang dinilai Ander menguatkan posisi kliennya. Pasalnya menurut Ander, kehamilan sungsang biasanya dilakukan operasi saat kelahirannya. Sedangkan pada kasus tersebut, Ika bisa melahirkan sendiri. “Kalau sungsang pasti operasi caesar. Lha ini kan tidak. Justru klien saya itu membantu kesehatannya si terdakwa,” tegasnya.

Kematian bayi yang baru dilahirkan itu sendiri juga bukan ulah dari Sumini. Melainkan karena ulah sang ibu dari jabang bayi. Ika sendiri sempat melahirkan bayi teresbut. Hanya saja tak lama setelah bayi tersebut dilahirkan, Ika mencekik leher bayi tersebut. Proses pencekikan sendiri dilakukan di kamar kos Ika yang berada di Desa Kencong, Kepung.

Menurut Ander, dengan fakta tersebut kliennya tidak bisa dikatakan sebagai dukun aborsi. Menurutnya dakwaan tersebut seharusnya bisa digugurkan. “Tidak terpenuhi unsur aborsi. Klien kami bukanlah dukun aborsi. Ia hanya dukun pijat kesehatan biasa,” imbuhnya.

Lebih lanjut, dalam kasus tersebut jika ada yang harus disalahkan adalah Kamsidi dan Ika. Keduanya sendiri dinilainya sebagai aktor utama. Sedangkan kliennya sendiri hanya sebagai efek dari kejahatan tersebut.’

Oleh karena itu, ia bersama rekannya akan terus mengupayakan bantuan hukum kepada Sumini. “Kami akan terus mengupayakan agar klien kami lepas dari tuntutan. Setidaknya akan bisa meringankan hukuman ynag dijatuhkan,” pungkasnya.

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia