Minggu, 24 Mar 2019
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Usum Pladu

14 Maret 2019, 20: 04: 02 WIB | editor : Adi Nugroho

Usum Pladu

Sarapan sego tumpang di warung Mbok Dadap hari-hari ini bertabur bonus. Plus-plus. Plus aneka iwak kali. Wader, bader, rengkik, jendil, berot, atau sili. Digoreng garing, sedapnya bukan main. Ini karena Bendungan Lodaya di Blitar sedang dicuci. Dibersihkan dari endapan lumpurnya. Pintunya dibuka. Digelontorkan ke Sungai Brantas. Pladu.

Ini berkah tahunan bagi warga sekitar kali terpanjang di Jawa Timur itu. Sebab, ikan-ikan yang menjadi penghuni sungai tersebut pada mabuk. Puyeng. Nggliyeng. Akibat diterpa gulungan arus bercampur pasir dan lumpur.

“Aku oleh limang kilo,” kata Kang Noyo.

“Aku patang kilo,” sahut Dulgembul.

Kang Noyo, Dulgembul, dan banyak warga lainnya ramai-ramai turun ke kali. Bawa jaring dan serok. Nyegati iwak yang kampul-kampul. Lemas. Tak berdaya. Yang berani turun agak ke tengah, dapatnya lebih banyak. Yang berdiri di pinggir-pinggir bantaran, ya lumayanlah.

Setidaknya, sungai itu masih bisa membuktikan bahwa dirinya tetap dapat menghidupi manusia yang menghirup napas di sekitarnya. Sejak jaman dulu. Sejak ratusan ribu tahun lalu. “Mbok, aku nambah wadere!,” seru Dulgembul yang hampir menandaskan piring kedua sego tumpangnya.

Dengan senang hati, Mbok Dadap menyajikannya lagi. Sebab, dia tau, patang kilo iwak kali yang didapat Dulgembul dari pladu sudah tandas duluan di rumah. Dulurnya banyak. “Tapi kowe ojo sampek koyok iwak-iwak iki lo, Mbul,” kata si Mbok sambil menyodorkan sepiring wader di hadapan Dulgembul.

Itu bukan nasihat kosong. Mbok Dadap, meski kelihatannya cuma bakul sego tumpang, wawasannya luas. Pintar berfilsafat. “Soalnya sekarang juga lagi musim pladu. Di darat. Bukan di kali,” sambungnya.

Pladu janji, slogan, dan apapun menjelang hari coblosan 17 April nanti. Semua digelontor ke daratan. Marketing politik sedang berjalan. Ramai. Kayak pasar. Semua ramai-ramai menawarkan. Namanya juga sedang bakulan. Sah-sah saja. Dan, memang harus dilakukan.

“Ayo dibeli…dibeli…dibeli…!”

“Yang ini bagus, Pak.. Yang ini bagus, Bu…”

“Dijamin murah. Beli satu dapat seribu…”

Yang baru turun dari mobil, yang baru turun dari motor, yang baru turun dari sepeda ontelnya, langsung diendeng-endeng. Ditarik ke sana kemari. Sambil dipersuasi. Disodori gambar-gambar. Dipameri. Kalau milih yang ini, keuntungannya begini-begini. Kalau milih yang itu, keunggulannya begitu-begitu.

Namanya sales, pokoknya jual..jual..jual. Tonjolkan selling point sebanyak mungkin. Targetnya ya terjual. Apalagi waktu jualannya semakin mepet. Tidak banyak waktu. Sebab, kalau tidak segera terjual, barang bisa mambu. Pedomannya cuma 4P. Product, price, place, promotion. Kadang-kadang saja ditambah diferensiasi. Walau kadang malah bikin njelehi. Unsur human to human (H2H) dalam marketing modern sudah ndak nyandak di pikiran.

Dalam situasi seperti itulah pladu terjadi. Customer bisa dibikin mabuk. Puyeng. Nggliyeng. Oleh gelontoran janji-janji. Yang tujuannya memang menguras emosi. Bukan mengambil hati. Dan, kalau sudah begitu, mereka bisa seperti iwak kali di Brantas. Kampul-kampul. Ndak berdaya waktu dijaring dan diseroki.

“Cuma iwak kali yang punya daya tahan tinggi yang ndak akan kampul-kampul,” kata Mbok Dadap. Iwak kali seperti ini yang bisa berkelit dari gulungan arus yang bercampur pasir dan lumpur. Berenang lincah. Berlindung di balik bebatuan. Sambil menunggu air kembali tenang dan jernih.

Ikan-ikan seperti itu yang ndak bisa sembarang dijaring atau diseroki. Melainkan, harus dipancing dengan teknik yang tinggi. Umpannya tak asal umpan. Sebab, iwak kali seperti itu bisa mengenali. Umpannya hanya akan diambus-ambus. Jika tak yakin benar, dia akan pergi.

So, marketer yang hendak memancingnya ndak cukup berbekal sales. Dia butuh perangkat yang lebih lengkap. Untuk merebut hati dan pikiran. Iwak-iwak kali itu. Yang punya daya tahan tinggi. Dan ndak gampang emosi. (tauhid wijaya) 

(rk/die/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia