Minggu, 24 Mar 2019
radarkediri
icon featured
Features

Kreasi Siswa SMK Satria Bhakti Ubah Bunga Telang jadi Teh

Warna Mirip, Awalnya Disangka Pertalite

14 Maret 2019, 15: 28: 13 WIB | editor : Adi Nugroho

Teh Telang

MENYEHATKAN: Para siswa dan guru SMK Satria Bhakti menuangkan teh telang yang baru selesai dibuat ke dalam botol. Minuman tanpa pengawet itu dipasarkan secara online dan offline ke berbagai daerah. (Sri Utami - radarkediri.id)

Siswa jurusan farmasi SMK Satria Bhakti tidak melulu belajar tentang obat. Di waktu longgarnya, mereka praktik berwira usaha dengan membuat teh bunga telang. Dalam seminggu, ratusan botol berhasil terjual baik secara online dan offline.

SRI UTAMI

Laboratorium resep SMK Satria Bhakti di Jl Panglima Sudirman VI, Kelurahan Mangundikaran, Kota Nganjuk, riuh rendah sekitar pukul 14.00, Senin (11/3) lalu. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan deretan kelas di dekat laboratorium yang sudah sepi. Sebab, para siswa yang baru saja mengerjakan soal ujian sekolah berstandar nasional (USBN) memang pulang pukul 13.00.

          Rupanya, sebagian siswa jurusan farmasi tidak langsung pulang. Mereka memiliki kesibukan baru di laboratorium resep. Bersama dua guru, siswa laki-laki dan perempuan itu tengah membuat teh dari bunga telang.

          Meski ada banyak siswa, mereka memiliki tugas masing-masing. Mulai memilah bunga telang kering, mengiris jahe, menakar gula dan air untuk dipanaskan dan membuat teh.

          Setelah minuman dingin, giliran siswa lain yang mengambil gelas ukur. Mereka lantas menuang minuman itu ke dalam botol dan pouch yang sudah disiapkan. Puluhan botol minuman yang sudah dikemas lantas dimasukkan ke dalam lemari pendingin. “Begitu stok habis, kami langsung produksi minuman lagi,” ujar Weni Nurpita Sari, guru produktif di SMK Satria Bhakti.

          Bersama Ratiza, sesama guru produktif, mereka mengawasi aktivitas siswa. Sesekali dua perempuan berjilbab itu mengingatkan anak-anak yang salah menakar minuman. “Itu masih kurang. Harus pas,” tegur Ratiza melihat anak didiknya tidak memenuhi gelas ukur sebelum menuang teh bunga telang ke dalam botol.

          Ketepatan ukuran memang menjadi perhatian mereka. Sebab, jika volumenya kurang, akan terlihat jelas saat dituang ke dalam botol. Karenanya, Ratiza dan Weni meminta anak-anak benar-benar memastikan isinya sama.

          Keriuhan proses membuat teh bunga telang siang itu, tak urung jadi perhatian Kepala SMK Satria Bhakti Endah Adiati. Perempuan yang semula berada di ruangannya itu turut memperhatikan anak-anak membuat teh. “Kami sudah mulai membuat teh telang sejak Desember 2018,” sambung Endah.

          Dari mana mereka mendapat ide membuat teh telang? Ditanya demikian, Ratiza menyahut, awalnya mereka hanya membuat minuman dengan warna yang berbeda. Sebelumnya siswa SMK Satria Bhakti sudah membuat minuman berwarna merah dari bunga rosela. Pun kunyit asam berwarna kuning tua.

          Setelah mempelajari beberapa literatur, Ratiza dan beberapa guru sepakat membuat teh telang. “Selain warnanya bagus. Manfaatnya juga baik,” lanjut perempuan berkulit putih itu sembari menyebut teh telang bisa membuang racun dalam tubuh, mencegah kanker, penuaan dini dan manfaat positif lainnya. 

          Karena bunga telang tergolong langka, awalnya mereka membeli bunga kering secara online. Tetapi, hal tersebut tidak bertahan lama. Secara tak sengaja, Weni melihat ada bunga telang tumbuh di pekarangan warga di Kelurahan Mangundikaran.

          Weni pun memberanikan diri berkenalan dan membeli bunga telang dari sana. Satu gram bunga kering dibeli Rp 1.000. Setelah diproses, setiap 10-15 gram bunga telang bisa menghasilkan minuman 100 botol. “Memang bunganya tidak perlu banyak,” imbuhnya.

Untuk membuat minuman itu semakin digemari, anak-anak juga menambahkan lidah buaya, selasih, jahe dan rempah-rempah lainnya. Perpaduan berbagai bahan itu membuat teh telang buatan siswa SMK Satria Bhakti ini tidak hanya manis saja. Melainkan juga sedap dan segar.

          Tiga bulan memproduksi minuman kesehatan itu, mereka berhasil menjual sekitar 500 botol dalam seminggu. Kemana saja minuman itu dipasarkan? Weni menuturkan, minuman teh telang, rosela dan kunyit asam dipasarkan secara online melalui Instagram, Facebook dan secara offline. “Kemarin baru mengirim ke Jakarta dan Sidoarjo,” sambung Weni.

          Untuk penjualan secara offline, para siswa yang aktif memasarkan. Mulai menitipkan ke sejumlah warung makan di Nganjuk dan menjual langsung ke teman-temannya Rp 5.000 per botol. “Mereka senang karena bisa mendapat untung yang lumayan,” ungkapnya sambil tersenyum.

          Jika sekarang minuman bunga telang mulai digemari, tidak demikian saat baru dikenalkan pada akhir 2018 lalu. Saat itu, siswa jurusan farmasi yang diberi banyak yang ketakutan. “Warnanya seperti pertalite. Mereka takut minum. Disangka BBM,” sahut Ratiza sambil tertawa mengenang ketakutan anak didiknya.

          Hingga sekarang, nama minuman pertalite itu tetap menjadi bahan candaan. Bedanya, kini banyak siswa yang mulai langganan membeli. “Tidak takut lagi,” imbuhnya.

          Hal tersebut diakui oleh Krisna Kerta Mahardika. Siswa kelas XII jurusan farmasi itu mengaku mulai menyukai jamu setelah meminum teh telang. “Ternyata jamu juga bisa jadi minuman enak,” katanya tersipu.

          Bersama teman-temannya, Krisna memang ikut langsung membantu proses produksi. Selain itu, anak-anak juga membantu mendesain logo produk. Hingga, membantu memasarkan lewat story WhatsApp dan media sosial mereka lainnya.

          Belajar berwira usaha sejak di bangku sekolah, membuat mereka sudah memiliki rencana bisnis baru setelah lulus nanti. Krisna dan teman-temannya ingin membuat kafe. “Kafe yang berbeda dari kebanyakan. Sekarang kami mulai membuat konsepnya. Kami ingin lulus sekolah tidak mencari kerja. Tetapi, sudah memiliki pekerjaan sendiri,” tuturnya.

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia