Minggu, 24 Mar 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Mayoritas Pedagang Kosongkan Kios Pasar Bendo

13 Maret 2019, 17: 15: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

pasar bendo

SUDAH STERIL: Seorang warga berjalan di depan kios Pasar Bendo, Desa Bendo, Kecamatan Pare yang telah dikosongkan oleh para pedagang, kemarin. (Andhika Attar - radarkediri.id)

KEDIRI KABUPATEN - Kios Pasar Bendo di Desa Bendo, Kecamatan Pare sudah steril pada Senin lalu (11/3). Alhasil mayoritas pedagang pun telah mengosongkan kios yang mereka tempati. Hingga kemarin, hanya ada beberapa pedagang saja yang masih menyelesaikan pembongkaran.

Para pedagang di sana sudah resmi tidak lagi menempati bangunan yang biasa mereka gunakan berjualan tersebut. “Kios di Pasar Bendo sudah steril. Terakhir pedagang masih membereskan rolling door miliknya. Semua dibongkar sendiri,” ujar Kepala UPTD Pasar Nuryatin kepada Jawa Pos Radar Kediri, Senin (11/3).

Menurut keterangannya, barang atau material yang merupakan tambahan dari para pedagang boleh diambil. Seperti rolling door misalnya. Perlengkapan itu merupakan tambahan dari yang bersangkutan. Oleh pihak UPTD, hal tersebut sangat diperbolehkan.

Selain itu, ada pula pedagang emas yang biasanya menambahkan teralis di tokonya. Apabila pemiliknya hendak membongkar sendiri, Nuryatin mengatakan, pihaknya mempersilakan. Pasalnya hal tersebut memang  menjadi hak dari pedagang yang memasangnya.

Meskipun begitu, lanjut dia, UPTD Pasar pun tidak mempermasalahkan apabila pedagang tidak membongkarnya. Hanya saja, material bangunan tersebut akan turut diikutkan dalam proses lelang kelak.

“Kami mempersilakan para pedagang membongkar sendiri barang tambahan yang di kios. Tetapi kalau dibiarkan tetap terpasang juga tidak apa-apa,” imbuh Nuryatin.

Pasar Bendo memiliki total jumlah kios sebanyak 35 kios. Itu terinci atas 19 kios berada di sisi utara. Sedangkan sisanya berada di sisi timur pasar tersebut. Sementara itu, tempat penampungan pedagang sementara (TPPS) hanya dibuatkan sebanyak 25 kios saja.

Menurut Nuryatin, hal tersebut memang dilakukan pihaknya setelah ada perundingan dengan pedagang di sana. Ia mengaku, telah menanyakan berapa jumlah pedagang yang bersedia menempati TPPS nantinya.

Berdasarkan hasil perundingan tersebut, akhirnya tercapai kesepakatan bahwa TPPS berjumlah 25 kios. Ditambah satu ruangan untuk kantor yang terletak di sisi paling timur.

Lebih lanjut, Nuryatin menambahkan, pihaknya tidak ingin langsung membuat TPPS sejumlah kios yang ada di Pasar Bendo. Pertama, karena ia menyadari ada beberapa kios yang memang kosong. Selain itu, ada pula kemungkinan pedagang yang lebih memilih berjualan di tempat lain.

“Daripada sudah bangun banyak kios untuk TPPS tetapi nantinya akan sia-sia tidak ada yang menempati,” ungkapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, mayoritas pedagang Pasar Bendo mengeluhkan ukuran TPPS yang disediakan oleh pihak UPTD Pasar. Salah satu yang dikeluhkan karena ruang berjualan dinilai terlalu sempit.

TPPS itu sendiri hanya berukuran 3 x 3 meter. Sehingga tidak semua barang dagangan bisa dibawa boyongan. Menanggapi hal tersebut, Nuryatin menjelaskan, pihaknya menekankan bahwa kios tersebut memang dibangun untuk sementara.

Karena itu, terkait adanya beberapa rehab atau modifikasi dari para pedagang, pihaknya tidak melarangnya. Seperti pedagang yang menambahkan seng galvalum di sisi dalam kiosnya untuk keamanan. Menurutnya, hal tersebut sah-sah saja.

Hanya saja, rehab yang dilakukan tidak boleh mengganggu pedagang lainnya. Selain itu, biaya rehab juga dibebankan kepada para pedagangnya masing-masing.

“Tidak apa-apa melakukan penambahan seperti rangka teralis untuk keamanan. Tetapi kalau sampai mengganggu pedagang lain atau pengguna jalan tidak kita perbolehkan,” pungkas pria yang tinggal di wilayah Kandat tersebut.

(rk/rq/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia